Tinta Media – Akhir Oktober 2025 lalu, media sosial diramaikan dengan pembahasan bahwa anak-anak zaman sekarang lebih takut miskin daripada takut tidak menikah. Unggahan tersebut viral, disukai lebih dari 12.500 kali dan ditayangkan ulang oleh lebih dari 207.000 pengguna. Dapat dikatakan banyak yang setuju dengan pendapat pemilik akun tersebut.
Ketakutan hidup miskin ketimbang tidak menikah di kalangan generasi muda bukanlah hal yang muncul tiba-tiba. Ia berjalan seiring dengan berbagai faktor fundamental, terutama berkaitan dengan realitas kondisi ekonomi. Hal inilah yang membuat mereka menempatkan pernikahan bukan lagi sebagai prioritas sebab kestabilan ekonomi dianggap lebih penting.
Kondisi ekonomi yang penuh ketidakpastian—sulitnya lapangan kerja, upah stagnan, lonjakan harga kebutuhan, mahalnya hunian, hingga ketatnya persaingan kerja—membuat ketakutan akan jatuh miskin semakin besar. Jajak pendapat Litbang Kompas pada 10–13 November mengonfirmasi hal ini. Sebanyak 73,5 persen responden mengungkapkan bahwa fokus pada pekerjaan dan kemapanan ekonomi menjadi alasan utama mereka menunda atau belum menikah (Kompas.com, 22/10/2025).
Ketakutan tersebut juga diperkuat oleh pengalaman generasi sebelumnya terkait berbagai masalah rumah tangga, seperti perselingkuhan, KDRT, hingga perceraian. Fenomena menunda atau enggan menikah ini berkaitan dengan narasi “marriage is scary”—ketakutan menikah yang timbul dari kekhawatiran ekonomi dan pengalaman negatif di lingkungan sekitar.
Semua ini merupakan efek suram dari penerapan sistem kehidupan sekuler kapitalisme. Sekularisme yang memisahkan agama dari kehidupan menjadikan tujuan hidup berorientasi materi. Sistem ekonomi kapitalisme dibangun atas asas kebebasan kepemilikan, yang memungkinkan segelintir elite dan swasta menguasai sumber daya alam untuk bisnis. Karena berorientasi profit, harga kebutuhan publik pun ditentukan oleh kepentingan bisnis, bukan kemaslahatan rakyat. Akibatnya, biaya hidup tinggi, pekerjaan sulit, dan upah rendah.
Negara hanya berperan sebagai regulator dan cenderung lepas tangan dalam memenuhi kesejahteraan rakyat. Minimnya pendapatan negara membuat kebutuhan dasar tidak terpenuhi. Rakyat yang semestinya menikmati kekayaan alam justru dibebani pajak, sementara harga bahan pokok, pendidikan, dan kesehatan terus melambung.
Sistem pendidikan sekuler juga menihilkan peran agama, menjadikan outputnya hanya alat bagi kapitalisme serta melahirkan generasi liberal, pragmatis, dan materialistis. Ukuran keberhasilan dipersempit pada pencapaian ekonomi dan akademik.
Ditambah lagi, media liberal terus menyuguhkan gaya hidup mewah dan hedonistik, membuat manusia terjebak dalam rutinitas mengejar materi. Mereka sulit memahami makna kebahagiaan, selain berharap pada materi yang didapat.
Kesulitan memenuhi kebutuhan hidup serta ketidaksiapan fisik, mental, dan finansial menjadi faktor utama generasi muda menunda pernikahan. Stabilitas finansial akhirnya dijadikan prasyarat utama di atas kesiapan mental dan ilmu berumah tangga. Mereka takut tuntutan ekonomi akan makin besar setelah menikah. Akhirnya, pernikahan dipandang sebagai beban, bukan ladang kebaikan atau jalan melanjutkan keturunan.
Dalam sistem Islam (Khilafah), negara wajib menjamin kebutuhan dasar rakyat—papan, sandang, pangan, pendidikan, kesehatan, keamanan—termasuk membuka lapangan kerja luas dengan upah memadai melalui sistem ekonomi Islam yang berlandaskan syariat. Dengan demikian, rakyat tidak dibiarkan berjuang sendiri memenuhi kebutuhannya.
Islam menempatkan kepemilikan umum wajib dikelola negara, bukan swasta atau asing. Ketika sumber daya alam tidak dikomersialisasikan dan hasilnya dikembalikan untuk rakyat, biaya hidup tidak lagi membebani masyarakat.
Di sisi lain, pendidikan berbasis akidah menjadi pilar pembentuk generasi berkarakter kuat, tidak terjerumus hedonisme atau materialisme. Pola pikir dan pola sikap islami menjadi benteng agar mereka tampil sebagai pelopor perubahan.
Penguatan institusi keluarga dalam Islam juga sangat penting. Islam mendorong pernikahan sebagai ibadah panjang yang penuh keberkahan dan penjagaan keturunan. Dengan pandangan yang benar, generasi muda akan melihat pernikahan sebagai proses sakral, bukan beban menakutkan. Ketika keluarga dibangun dengan pendidikan dan dukungan ekonomi yang layak, lahirlah generasi matang secara emosional dan siap membangun rumah tangga.
Tidak ada pilihan selain kembali menerapkan Islam secara kafah. Jangan biarkan sistem rusak hari ini membentuk cara pandang kita tentang makna kehidupan. Jika kapitalisme membuat generasi muda takut menikah, Islam justru menawarkan solusi komprehensif untuk menciptakan kesejahteraan hakiki. Semua ini hanya bisa terwujud melalui penerapan sistem Islam kafah dalam naungan Khilafah. Wallahualam bissawab.
Oleh: Nisa Muanis,
Aktivis Dakwah
![]()
Views: 40
















