UIY: Revolusi Iran 1979, Tidak Bisa Dikatakan sebagai Revolusi Islam

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Menjawab pertanyaan apakah krisis Iran saat ini merupakan bukti dari kegagalan revolusi Islam pada tahun I979, Cendekiawan Muslim Ustadz Muhammad Ismail Yusanto (UIY) menyatakan bahwa sejatinya revolusi tersebut tidak bisa dikatakan sebagai revolusi Islam, sebab banyak ajaran Islam yang tidak dipraktikkan di Iran.

“Saya kira kita tidak bisa juga mengatakan bahwa revolusi yang terjadi pada 1979 itu, itu adalah betul-betul Islam dalam arti yang sesungguhnya gitu.., karena ada banyak hal dari apa yang disebut ajaran Islam itu tidak dipraktikkan,” ujarnya dalam Focus to The Point: Krisis Iran, Intervensi atau Kegagalan Revolusi Islam? Di kanal YouTube UIY Official, Jumat, (30/1/2026).

Satu contoh, UIY menyampaikan, dalam bidang ekonomi tentang mata uang. Kalau berbicara tentang mata uang Islam itu adalah dinar dan dirham yang berbasis atau ditopang emas dan perak.

Menurutnya, andai menggunakan dinar dan dirham, mungkin situasi ekonomi Iran tidak akan separah seperti sekarang ini. Sebab dinar dan dirham adalah mata uang yang menyimpan kekayaan secara riil.

“Jadi dia tahan terhadap inflasi dalam arti ketika barang-barang naik, harga dinar dan dirham itu juga akan naik,” ulasnya.

Oleh karenanya ketika dinar dan dirham tidak dipraktikkan pasca Revolusi di Iran, kata UIY, tetap saja Iran menggunakan uang kertas (fiat money).

“Maka ketika harga barang-barang naik, nilai uang (fiat money) ini nominalnya tetap, tapi daya belinya terus turun dan itu yang terjadi,” jelasnya.

Implikasi Nation State

UIY juga menilai, krisis yang terjadi di Iran sebagai implikasi dari nation state (negara bangsa) yang bertentangan dengan prinsip Islam.

Pasalnya, terang UIY, pasti negara muslim yang lain akan memilih untuk menahan diri tidak mau terlibat atas persoalan Iran karena tahu risikonya itu tidak bisa dia tanggung.

“Maka ketika sanksi (embargo) diberlakukan, mereka daripada-daripada, kemudian ikut saja untuk tidak mau berhubungan ekonomi dengan Iran gitu.., dan itu tentu saja akan memberi tekanan lagi,” ujarnya.

Padahal andai negeri-negeri muslim itu ikut membantu, ucap UIY, artinya tidak mengikuti sanksi embargo, mungkin akan lain ceritanya.

“Tapi kan faktanya tidak. Sebab negeri muslim itu mereka juga takut terhadap sanksi itu,” tegasnya.

“Itu yang kemudian kita sebut bahwa dunia ini dikuasai oleh penguasa jahat (the ruling power) itu dia tidak mengikuti aturan tapi memaksa dunia itu mengikuti apa yang menjadi mau dia,” tandasnya.

Solusi

Lebih lanjut UIY menyebutkan bahwa sistem khilafah ‘ala minhajin nubuwwah akan menjadi solusi dalam persoalan internasional kondisi dunia Islam, termasuk yang menimpa Iran saat sekarang ini.

“Jadi secara internal jelas ini sebuah kekuatan luar biasa bagi dunia Islam, karena ini akan menyatukan dunia Islam yang membuat dunia Islam akan memiliki kekuatan luar biasa,” tutup UIY.[] Muhammad Nur

Loading

Views: 40

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA