Sudan Membara: Konflik Kepentingan Barat dan Eksploitasi SDA

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Belum kering darah di Palestina akibat pembantaian yang dilakukan Zionis Israel. Di tengah perhatian dunia yang terpusat pada genosida di Gaza, tragedi lain yang tak kalah mengerikan nyaris terlupakan—yaitu di Sudan, kawasan Afrika Timur Laut.

Sejak pecahnya perang saudara pada April 2023, hingga kini belum terlihat tanda-tanda perdamaian. Bahkan pada Oktober 2025, dunia dikejutkan oleh tragedi di El-Fasher, Darfur, Sudan Barat. Kota ini jatuh ke tangan pasukan paramiliter Rapid Support Forces (RSF) pada 26 Oktober, menewaskan sekitar 1.500 orang hanya dalam tiga hari. Laporan Al Jazeera menyebutkan, RSF berperang melawan militer Sudan dan berhasil menguasai wilayah tersebut.

Situasi di Sudan saat ini sangat mencekam. Serangan RSF di El-Fasher disebut sebagai bagian dari “kampanye pembunuhan dan pemusnahan yang disengaja serta sistematis.” Humanitarian Research Lab (HRL) melaporkan citra satelit El-Fasher menunjukkan objek menyerupai tubuh manusia serta perubahan warna tanah menjadi merah—dugaan kuat akibat tumpahan darah. (Republika.co.id, 29/10/2025)

Data WHO menyebutkan 460 pasien dan keluarga mereka tewas dalam pembunuhan massal di Rumah Sakit Bersalin Saudi serta di bangunan lain yang dijadikan pusat medis. PBB melaporkan sedikitnya 60.000 orang mengungsi dari El-Fasher, sementara 100.000–150.000 warga masih terperangkap tanpa akses makanan, air, dan layanan medis. (Kompas.id, 4/11/2025)

Aktivis Muslimah, Zehra Malik, menegaskan bahwa perang di Sudan merupakan akibat langsung dari penjajahan Barat atas negeri-negeri Muslim. Menurutnya, konflik ini didukung Amerika Serikat dan Inggris. Ia juga mengkritik Panglima Militer Sudan, Jenderal Abdel Fattah al-Burhan dan Jenderal Mohamed Hamdan Dagalo alias Hemedti (RSF) yang tunduk kepada kepentingan Barat.

Pernyataan senada disampaikan juru bicara kelompok dakwah ideologis internasional wilayah Sudan (28/10/2025). Ia menuding adanya keterlibatan Amerika Serikat di balik pembantaian di Sudan. “AS-lah yang memulai perang di Sudan dan menggerakkan para agen agar bara perang tetap menyala selama dua setengah tahun, hingga akhirnya mereka bisa mengusir semua pihak dan memegang kendali penuh,” ujarnya.

Ia menambahkan, Amerika berusaha menutupi kejahatan negara-negara sekutunya seperti Chad, Kenya, Libya, dan Uni Emirat Arab. “Amerika menjadi pihak pertama yang menutup mata, diikuti negara lain, terhadap genosida dan pembunuhan berbasis ras yang dilakukan RSF—kejahatan yang jauh dari nilai kemanusiaan,” tegasnya.

Sudan merupakan salah satu negara terbesar di Afrika dengan mayoritas penduduknya Muslim dan berbahasa Arab. Negara ini menempati peringkat ke-10 dunia dari segi luas wilayah, yakni 1.886.000 kilometer persegi. Sudan juga dikenal memiliki piramida terbanyak dan Sungai Nil yang lebih panjang dari wilayah Mesir.

Selain itu, Sudan kaya akan sumber daya mineral seperti emas, krom, besi, mangan, tembaga, perak, asbes, mika, talek, gipsum, garam, dan marmer. Emas menjadi komoditas utama dengan kadar tinggi mencapai lebih dari 100 gram per ton di beberapa lokasi. (Parstoday.ir, 4/11/2025)

Ironisnya, di balik kekayaan melimpah itu, Sudan justru terjerat krisis kemanusiaan berkepanjangan. Konflik di Sudan bukan sekadar pertikaian etnis, tetapi sarat dengan campur tangan Amerika Serikat, Inggris, serta negara boneka seperti Zionis Israel dan UEA. Semua itu tak lepas dari perebutan pengaruh politik dan perampokan sumber daya alam yang strategis.

Lembaga-lembaga internasional sejatinya menjadi alat untuk melanggengkan hegemoni negara-negara adidaya penjajah di negeri-negeri Muslim. Sudan yang kaya SDA kini hanya menjadi objek permainan politik global. Karena itu, umat harus meningkatkan kesadaran ideologis agar mampu membaca problem dunia melalui kacamata peradaban: pertarungan antara ideologi Islam dan ideologi non-Islam.

Persatuan negeri-negeri Muslim di bawah naungan Khilafah merupakan keniscayaan untuk melawan hegemoni negara penjajah Barat yang terus menindas dan memecah-belah umat. Umat harus memahami bahwa satu-satunya sistem yang mampu memberi solusi hakiki dalam bidang politik, ekonomi, dan sosial hanyalah sistem Islam (Khilafah). Kesadaran ini harus tumbuh sebagai wujud keimanan dan dorongan perjuangan.

Namun, Khilafah tidak akan tegak dengan sendirinya meski keberadaannya telah dijanjikan oleh Allah Swt. Ia harus diperjuangkan dengan kesungguhan sebagaimana dicontohkan Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya—melalui dakwah tanpa kekerasan, dengan membangun kesadaran Islam yang utuh di tengah umat. Ketika hukum-hukum Islam diterapkan secara sempurna, niscaya akan terwujud rahmat bagi seluruh alam. Wallahualam bissawab.

 

Oleh: Nurmala Sari,

Aktivis Muslimah Jakarta Utara

Loading

Views: 36

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA