Tinta Media – Membahas masalah MBG, ini jelas bukan masalah sepele dan tidak bisa dianggap enteng. Korban keracunan dari MBG terus berulang dan terjadi di mana-mana di pelosok negeri ini, menyebabkan banyak generasi menjadi korban. Maka, dengan banyaknya korban karena MBG, muncul berbagai pertanyaan: bermanfaatkah “Makan Bergizi Gratis” ini atau justru banyak kemudaratannya? Tujuannya meningkatkan gizi, namun program ini tanpa rencana yang matang, terkesan asal-asalan. Akhirnya, hal ini menggambarkan bahwa negara tidak memprioritaskan rakyat dan tidak menjamin gizi bagi generasi bangsa.
Dampak kerugian MBG di antaranya faktor ekonomi, riskan adanya penipuan dan korupsi, serta banyaknya anak korban keracunan MBG yang otomatis mengganggu faktor kesehatan. Menumpuknya sisa makanan selain sangat mengganggu lingkungan, juga merupakan pemborosan perekonomian. Belum lagi harga-harga, entah sayuran ataupun buah-buahan atau lainnya, menjadi mahal sebagai efek dari MBG tersebut yang digagas oleh Presiden Indonesia, Prabowo. Program tersebut tidak menjadi jalan keluar bagi kenyamanan dan kebahagiaan rakyat Indonesia. Akar permasalahan yang diderita rakyat sama sekali tidak terpecahkan oleh adanya program MBG. Yang ada malah rakyat makin garuk kepala, dibikin bingung dengan kebijakan yang tak bijak.
Akar permasalahan yang diderita rakyat semakin rumit dan sama sekali tidak terpecahkan oleh adanya program MBG. Tujuannya bisa dikatakan baik, ingin mencerdaskan generasi bangsa dan mempersiapkan generasi unggul, tetapi akibat tidak matangnya perencanaan dan pelaksanaan yang terkesan terburu-buru serta dipaksakan, pada akhirnya berujung mengecewakan masyarakat. Program unggulan Presiden Indonesia, Prabowo, keluar dari POAC (planning, organizing, actuating, controlling), jauh dari nilai yang benar dan matang sehingga akhirnya tidak tepat sasaran dan sama sekali tidak bisa menjadi program yang diunggulkan.
Program MBG besar dugaan hanya terpaku pada keuntungan dan sama sekali tidak menjamin kesejahteraan karena tekanan sistem kapitalisme yang sengaja memiskinkan rakyat secara struktural serta ketimpangan yang diciptakan oleh sistem yang buruk. Dalam pandangan Islam kafah, negara wajib menjamin penuh kebutuhan pokok rakyatnya. Indahnya aturan Islam, bahwa negara itu hukumnya wajib meriayah rakyatnya dengan aturan yang aman dan nyaman bagi setiap individu, baik pendidikan, kesehatan, keadilan, maupun kesejahteraan. Akhirnya, rakyat merasakan aman dan nyaman di bawah payung Islam yang rahmatan lil-‘alamin bagi setiap makhluk-Nya. Dalam Islam, pemimpin adalah pelayan rakyat, bukan penguasa. Pemimpin harus amanah dan memenuhi kriteria sebagai pemimpin. Jika MBG terbukti zalim, untuk apa dilanjutkan? Islam kaffah adalah solusinya. Wallahualam bissawab.
Oleh: Ica
Sahabat Tinta Media
![]()
Views: 24
















