Tinta Media – Menyoroti pernyataan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) yang meminta kampus membangun dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG), Jurnalis Senior Joko Prasetyo menilai adanya konflik kepentingan yang kian nyata.
“Konflik kepentingan pun menjadi nyata, bukan sekadar asumsi,” tuturnya sebagaimana rilis yang diterima oleh Tinta Media pada Ahad (3/5/2026).
Om Joy, sapaan akrabnya mengatakan ketika institusi yang menerima peran dalam pelaksanaan program (termasuk potensi akses pendanaan, fasilitas, atau reputasi) juga diharapkan menghasilkan kajian atau evaluasi atas program tersebut, independenai menjadi rentan.
Dalam kondisi seperti ini, jelas Om Joy, mekanisme kontrol berisiko bergeser. Bukan lagi sebagai penyeimbang, melainkan menjadi ruang kompromi yang saling menjaga.
“Kekuasaan tidak diawasi secara utuh, tetapi dibagi agar semua tetap berada di dalam lingkaran,” ujarnya.
“Di permukaan, ini tampak sebagai kolaborasi besar untuk tujuan sosial,” imbuhnya.
Namun di bawahnya, Om Joy menjelaskan, terbuka ruang petronase: distribusi proyek berbasis kedekatan, loyalitas yang dirawat melalui akses dan sistem yang perlahan bergeser dari merit ke relasi.
Terakhir, ia mengatakan bahwa hal tersebut mengakibatkan negara tidak sepenuhnya berjalan sesuai aturan.
“Negara tidak lagi sepenuhnya berjalan oleh aturan yang objektif, tetapi oleh jejaring kepentingan yang saling mengunci,” pungkasnya.[] Nur Salamah
![]()
Views: 9
















