Tinta Media – Pemimpin yang bijak akan mendengarkan suara jujur rakyat karena merekalah yang peduli dan tidak ingin pemimpinnya hancur dengan menyakitkan akibat kesombongan sehingga tidak mau mendengar dan memikirkan suara rakyat. Pada peringatan Hari Buruh Nasional (May Day) di kawasan Monas, Jakarta, Jumat, 1 Mei 2026, Presiden Prabowo Subianto menanyakan langsung kepada massa buruh, “Apakah MBG (Makan Bergizi Gratis) bermanfaat atau tidak?” Dia menyampaikan hal tersebut di panggung perayaan May Day untuk menegaskan komitmen pemerintahannya terhadap pemenuhan gizi anak dan peningkatan gizi masyarakat. Di luar dugaan, respons massa tidak sesuai harapannya. Massa buruh merespons pertanyaan tersebut secara gemuruh dengan teriakan, “Tidak!” Sangat disayangkan, Prabowo tetap melanjutkan pidato mengenai pentingnya program tersebut. Artinya, dia tidak peduli dengan suara jujur rakyat yang menganggap MBG tidak bermanfaat.
MBG sudah terbukti memboroskan anggaran negara dan tidak bermanfaat bagi rakyat sehingga pemerintah seharusnya menghentikan program ini. Namun, ambisi untuk terus berkuasa dan ego ingin dianggap hebat membuatnya tidak mau mendengar dan memikirkan suara jujur rakyatnya. Dia hanya memperhatikan mereka yang suka memuji dan menjilat demi jabatan. Harusnya dia bisa mengambil pelajaran dari kisah Fir’aun yang menolak mendengarkan peringatan yang dibawa Nabi Musa dari Tuhannya untuk memberi petunjuk dan menyelamatkannya dari azab Allah yang bisa datang kapan saja tanpa dia sadari. Namun, kesombongannya membuatnya lupa diri dan merasa paling benar sehingga berani mengangkat dirinya sebagai Tuhan Yang Maha Tinggi. Akhirnya, dia dan bala tentaranya ditenggelamkan di Laut Merah dan menjadi pelajaran bagi kita semua bahwa sebesar apa pun kekuasaan itu hanyalah titipan yang diberikan kepada siapa yang Dia kehendaki dan sewaktu-waktu bisa dicabut jika Dia menghendakinya.
Harusnya kita belajar dari kepemimpinan Khalifah Umar bin Khaththab yang dikenal sebagai pemimpin yang sangat terbuka terhadap kritik dan menganggapnya sebagai bentuk kasih sayang rakyatnya. Bahkan, beliau pernah mendoakan rahmat bagi orang yang menunjukkan kesalahannya. Seorang pemimpin hanyalah manusia biasa yang bisa salah dalam mengambil keputusan sehingga kritik sangat diperlukan untuk memperbaiki kesalahan agar terwujud apa yang dicita-citakan bersama, yaitu rakyat hidup makmur dan sejahtera.
Menjadi pemimpin yang dicintai dan mencintai rakyatnya harus mempunyai keberanian mengakui kesalahan, memperbaiki, bahkan membatalkan keputusan jika terbukti salah. Pemimpin tidak boleh memaksakan keputusannya meskipun sudah terbukti tidak bermanfaat dan bahkan telah merugikan rakyat. Banyak fakta siswa keracunan setelah mengonsumsi MBG jangan dianggap sepele. Banyak laporan dari masyarakat tentang menu MBG yang tidak layak dan tidak memenuhi standar nilai gizi yang diharapkan harus dilihat sebagai fakta yang harus dikaji dengan saksama sebagai bukti rasa cinta rakyat kepada pemimpinnya. Jika pemimpin mencintai rakyat, dia tidak akan mengabaikan suara jujur dari rakyatnya demi kebaikan dan kemajuan untuk mewujudkan cita-cita bersama.
Hentikan semua program pemerintah yang tidak bermanfaat mulai dari MBG, Koperasi Merah Putih, dan lainnya yang dijalankan tanpa melalui kajian yang matang serta tanpa melibatkan para ahli dan akademisi. Program dadakan yang bersumber hanya dari ego dan keinginan penguasa membuatnya tidak siap untuk dikritik agar mencapai hasil sesuai tujuan yang diharapkan. Anggaran besar untuk program yang tidak bermanfaat seharusnya bisa dialihkan untuk menjamin kebutuhan dasar yang sangat dibutuhkan rakyat, bukan hanya memakmurkan para pejabat. Dengan memperhatikan suara rakyat dan fakta yang terjadi dalam pelaksanaannya, program MBG layak untuk dihentikan dan anggarannya bisa digunakan untuk menjamin pelayanan kesehatan dan pendidikan gratis serta berkualitas agar terwujud keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia sesuai dengan amanah konstitusi.
Oleh: Mochamad Efendi
Sahabat Tinta Media Sidoarjo
![]()
Views: 2
















