Dari Natal, Santa, Pohon Cemara, dan Tanggal yang Dipertanyakan

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Setiap Desember, dunia mendadak seragam lampu kelap-kelip, lagu Natal di mana-mana, Santa Claus tersenyum di baliho, dan tanggal 25 Desember dianggap sakral sebagai hari lahir Yesus. Tapi bener nggak sih Yesus lahir tanggal itu?

Faktanya, Alkitab sendiri tidak pernah menyebutkan tanggal kelahiran Yesus. Yang ada justru banyak tanda tanya-nya.

Asal-usul 25 Desember

Sebelum Kristen menjadi agama resmi Romawi, 25 Desember dirayakan sebagai hari kelahiran Dewa Matahari (Sol Invictus) atau biasa disebut ritual pagan kuno. Ketika Romawi memeluk Kristen, penyembahan matahari dihentikan, tapi tanggalnya dipertahankan dan dialihkan maknanya menjadi “kelahiran Yesus”.

Artinya, yang diganti bukan tanggalnya, tapi narasinya. Kira-kira masuk akal atau emang dipaksakan?

Dalam Injil Lukas pasal 2, disebutkan bahwa saat Yesus lahir, para penggembala masih berjaga di malam hari bersama domba mereka. Cuman masalahnya, musim dingin Palestina di bulan Desember tidak memungkinkan penggembala bermalam di padang rumput. Bahkan teolog Kristen rasional pun mengakui hal ini.

Menariknya lagi, Paus Benediktus XVI pernah menyatakan bahwa 25 Desember bukan tanggal historis kelahiran Yesus, melainkan simbolik.

Injil juga tidak satu suara seperti halnya: Injil Matius menyebut Yesus lahir saat Raja Herodes berkuasa, catatan sejarah menyatakan Herodes wafat tahun 4 SM, tapi Injil Lukas mengaitkan kelahiran Yesus dengan sensus Romawi di masa Kaisar Augustus, yang terjadi setelah Masehi.

Jadi timbul pertanyaannya simpel: Yesus lahir sebelum Masehi atau setelah Masehi? Menarik kan, antara dua Injil dan dua timeline, nggak sinkron.

Santa Claus dan Atribut Natal

Santa, rusa terbang, pohon cemara, lonceng, semuanya tidak punya dasar Injil. Bahkan beberapa sekte Kristen seperti Saksi Yehova, Advent Hari Ketujuh, dan Mormon secara tegas menolak perayaan Natal karena dianggap tradisi kafir (menurut orang Nasrani) yang dibungkus agama.

Ironisnya, sebagian umat Islam justru ikut merayakan, padahal sebagian umat Kristen sendiri menolaknya.

Masalahnya bukan toleransi, tapi akidah. Menghormati pemeluk agama lain tidak perlu ikut ritual agama lain. Islam mengajarkan toleransi tanpa kehilangan identitas.

Ketika sebuah perayaan berangkat dari keyakinan teologis yang bertentangan, maka ikut di dalamnya bukan lagi soal sopan dan moral, tapi soal prinsip iman.

Kesimpulan Singkatnya

Natal 25 Desember bukan fakta sejarah, melainkan hasil kompromi budaya pagan Romawi. Bahkan di internal Kristen sendiri, hal ini diperdebatkan dan ditolak oleh banyak kalangan.

Jadi kalau ada yang bertanya: “Kenapa Muslim nggak ikut Natal?” Jawabannya sederhana: Karena iman itu bukan ikut-ikutan.

Oleh: Setiyawan Dwi
Jurnalis

Loading

Views: 36

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA