Tinta Media – Belakangan ini, sejumlah kasus pembunuhan secara sadis terjadi di beberapa daerah seperti di Bekasi, Ciamis dan Bali. Kasus kriminalitas ini menjadi booming di publik nasional. Aparat kepolisian juga berhasil membekuk para pelaku terduga dan mengungkap motif pembunuhan itu.
Yang pertama,
ditemukan dalam sebuah koper hitam di Jalan Inspeksi Kalimalang, Cikarang,
Kabupaten Bekasi yaitu jasad wanita berinisial RM (50) sebagai korban
pembunuhan Kamis (25/4) pagi. Polisi pun menetapkan Ahmad Arif (29) dan adik
kandungnya Aditya Tofik (21) sebagai tersangka pembunuhan.
Yang kedua, kasus pembunuhan dan mutilasi terjadi di Ciamis yang dilakukan oleh TBD
(50) terhadap istrinya bernama Yanti (44) di wilayah Rancah, Ciamis, Jawa
Barat. Ketua RT setempat di Dusun Sindangjaya, Desa Cisontrol, Rancah, Yoyo
Tarya melaporkan aksi pembunuhan tersebut kepada polsek Rancah. Setelah
mengetahui pelaku berkeliling menawarkan daging korban dalam baskom.
Yang ketiga kasus pembunuhan pekerja seks komersial (PSK) di
Bali oleh seorang pria bernama Amrin Ar-Rasyid Pane (20) menewaskan seorang
perempuan berinisial RA (23) di sebuah indekos di Jalan Bhineka Jati Jaya,
Kecamatan Kuta, Kabupaten Badung, Bali, Pada Jumat (3/5) sekitar pukul 03.00
WITA. Kasus ini bermula saat pelaku memesan wanita pekerja seks komersial
melalui aplikasi di ponsel dan terjadi tawar menawar dengan korban. Mereka
sepakat dengan harga Rp500 ribu. Korban datang di tempat kejadian perkara yang
ditentukan oleh pelaku yaitu dikamar indekos pelaku. Lalu, korban masuk ke
kamar kos dan pelaku melakukan hubungan badan dengan korban. Setelah itu,
pelaku membayar sebesar Rp500 ribu, namun korban tidak terima dan meminta
bayaran kepada pelaku sebesar Rp1 juta. Kemudian, pelaku tidak terima sehingga
korban mengancam pelaku akan mendatangkan pacarnya bersama teman-temannya.
Usai diancam, pelaku emosi dan secara spontan melakukan
penganiayaan dengan menggorok leher korban dari belakang dengan menggunakan
pisau dapur. Korban pun sempat berteriak, pelaku membungkam mulut korban dengan
tangan kiri. Lalu pelaku dengan cara membabi buta langsung menikam tubuh korban
berulang ulang sampai tewas dan langsung memasukkan tubuhnya ke dalam koper
lalu membuangnya. (CNN Indonesia, 05/05/2024).
Dalam sistem kapitalisme, kejahatan marak terjadi termasuk
pembunuhan. Nyawa dalam sistem ini ternyata dihargai sangat murah, hanya karena
emosi nyawa pun dapat dihabisi. Tidak habis pikir, manusia-manusia yang hidup
di sistem ini berbuat di luar nalar. Hanya dengan perkara kecil saja nyawa
dapat melayang. Cara membunuhnya pun beragam hingga sadis dan kejam. Tentu saja
bagaimanapun cara membunuhnya pembunuhan yang terjadi tidak dapat dimaklumi.
Karena kejahatan hingga hilangnya nyawa adalah suatu perkara yang besar.
Dengan meninggalnya satu orang tidak akan memutus
kehidupannya saja, banyak kerugian lain yang akan terjadi. Ada keluarga,
kerabat dan teman-teman yang akan sangat kehilangan sosok yang disayang.
Bagaimana nanti nasib anak-anaknya jika ia adalah seorang ibu? Bagaimana nasib
orang tuanya jika ialah anak tunggal mereka? Bagaimana nasib kerabatnya jika
dia adalah satu-satunya saudara? Apalagi mengetahui tewasnya secara sadis dan
kejam. Semua personal akan merasakan akibatnya.
Berita di atas hanyalah tiga dari banyaknya kasus pembunuhan
yang terjadi. Apalagi masih banyak kasus-kasus kriminalitas yang tidak
terekspos media massa. Tentu hal itu ada kaitannya dengan pendidikan yang
didapat masyarakat. Dengan sistem pendidikan kapitalisme-sekularisme masyarakat
dididik dengan orientasi pada materi sehingga manusia-manusia yang dihasilkan
adalah manusia-manusia tamak yang memaksakan kehendak dan selalu ingin memenuhi
nalurinya.
Kepuasan jasmani dan materilah yang menjadi prioritas
masyarakat sekuler. Tidak ada lagi syariat atau agama yang menjadi ukuran
mereka. Semua cara dilakukan asalkan dapat mencapai tujuan. Semua dapat
diterjang untuk mendapat kesenangan sesaat.
Hal tersebut juga berpengaruh dalam pengendalian emosi
ketika memiliki kehendak. Orang-orang mudah tersulut emosi walau dengan hal-hal
sepele. Hingga ringan sekali tangannya untuk menebas nyawa seseorang. Itu semua
menjadi bukti bahwa sistem yang berlaku saat ini gagal dalam menjamin keamanan
rakyatnya. Menjamin nyawa seorang saja tidak mampu.
Hal itu juga menunjukkan sistem sanksi yang ada tidak dapat
menjerakan pelaku dan mencegah orang lain berbuat kriminal. Buktinya kejahatan
seperti ini terus saja berulang terjadi dan semakin marak. Mata rantai
permasalahan ini harus segera diputuskan.
Sistem kapitalisme-sekularisme yang tidak dapat
menyejahterakan rakyatnya serta menjaga keamanan seluruh rakyatnya maka
berbanding terbalik dengan sistem Islam yang berorientasi jelas. Yaitu untuk
menyejahterakan rakyatnya. Semua orang yang berada di bawah naungan Islam,
muslim maupun non muslim akan terjamin kehidupannya dan terjaga nyawanya.
Dalam islam, membunuh seorang muslim diibaratkan seperti
membunuh seluruh manusia. Sistem sanksi yang diterapkan oleh islam pun dapat
membuat jera pelaku dan mencegah orang lain bertindak kejahatan. Karena nyawa
akan ditebus dengan nyawa inilah sistem yang akan memutus mata rantai pembunuhan yang terjadi.
Ditambah lagi, sistem pendidikan islam yang berbasis akidah
islam akan membentuk pribadi-pribadi mulia yang bertakwa kepada Allah SWT.
Standar perbuatannya adalah syariat Allah SWT dari Al-Quran dan As-Sunnah. Mereka pun paham dan yakin bahwa esok aka
nada hari pembalasan yang mana semua amal akan dipertanggungjawabkan. Sehingga
semua personal akan berhati-hati dalam bertindak dan menjaga diri dari
kemaksiatan atau kejahatan. Waallahua’lam bisshawab.
Oleh: Rosyida Az Zahro, Aktivis Dakwah
![]()
Views: 4
















