Generasi Rusak, Salah Siapa?

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Seorang remaja berusia 14 tahun membunuh ayah dan nenek serta menikam ibunya dengan senjata tajam di rumah merekadi Jalan Lebak Bulus 1, Cilandak, Jakarta Selatan. Diketahui pelaku melancarkan aksinya sekitar pukul 01.00 WIB (Beritasatu.com, 30/11/2024).

Di zaman sekarang seolah-olah satu nyawa manusia tak ada harganya lagi. Bagaimana bisa kasus-kasus pembunuhan yang meregang nyawa tak dapat lagi dikendalikan? Semakin kemari semakin merebak. Kasusnya dapat dihitung tiap detiknya. Motifnya pun berbeda-beda, ada yang karena hal sepele ataupun bukan, dalangnya pun tak main-main. Bahkan sampai ada yang tega anak membunuh orang tuanya. Bukan merupakan suatu keanehan lagi hal ini tedengar di telinga masyarakat.

Anak zaman sekarang adalah anak-anak yang lahir dari zaman modernisasi, zaman yang sudah mengalami perkembangan, terutama pada bidang teknologinya. Seperti penggunaan gadget. Pemakaian gadget inilah yang seharusnya diperhatikan oleh setiap orang, karena tak semua isinya dapat memberi pengaruh baik kepada para penggunanya. Oleh karena itu harus disaring matang-matang. Namun kebanyakan anak-anak saat ini menggunakan gadget mereka untuk hal yang sia-sia, seperti untuk bermain game, menonton video yang seharusnya tidak mereka tonton, dan lain-lain. Akibatnya pemikiran mereka tertanam pemikiran buruk dari apa yang mereka tangkap, lihat, dan olah melalui gadget. Atau berbagai macam motif lainnya yang menjadikan suksesnya misi mereka tega membunuh orang lain.

Semua motif ini akan terus muncul terutama pada anak karena tidak adanya peran hakiki dari keluarga. Keluarga yang seharusnya menjadi tempat pertama bagi anak belajar. Tentunya pelajaran yang ditanamkan adalah pelajaran yang baik, sehingga sikap yang dihasilkan dari sang anak juga ikut baik pula. Namun, peran hakiki seorang keluarga jauh dari apa yang termaktub sebelumnya. Keluarga yang seharusnya menjadi perisai bagi sang anak, melindungi, membina anak, tetapi kenyataannya tidaklah demikian.

Yang ada saat ini justru kita dapati keluarga yang mengekang anak, kurangnya perhatian untuk si anak, abainya penjagaan dan perlindungan kepada anak dari dunia luar, dan masih banyak lagi lainnya, yang seharusnya dimiliki oleh keluarga justru mereka lalai terhadap itu semua. Lagi-lagi permasalahan ini terjadi akibat sistem. Karena sistem rusak yang masih diterapkan saat inilah yang terus menjadi bingkai kehidupan saat ini. Akibatnya seluruh permasalahan yang ada dalam kehidupan ini akan terus-menerus langgeng karena tak kunjung ditemuinya solusi yang mengakar.

Sistem rusak yang diterapkan saat inilah yang dinamakan Sekulerisme-Kapitalisme. Yang mana buah yang dihasilkan darinya selalu buah busuk, atau dengan kata lain solusi yang diberikan tak mengakar, seperti dikenainya sanksi yang hanya berupa penjara beberapa kurun waktu saja atau denda yang tak seberapa. Yang kemungkinan besar pelakunya bisa terjatuh di lubang yang sama beberapa kali, karena sanksi yang diberikannya tak bersifat tegas dan jera.

Bagaimana Islam Menyikapinya?

Dalam Islam, kasus serupa semacam ini dapat ditangani secara mengakar, sehingga sulit terjadi kejadian berulang setelahnya. Islam memandang satu nyawa manusia amat sangat berharga. Uang sebesar apapun tetap tak ada nilainya jika disandingkan dengan satu tubuh manusia. Sebab, Allah menciptakan manusia dengan sebaik-baik penciptaan. Ditanamkan akal sebagai miqyas (penimbang) yang membedakannya dengan makhluk-makhluk yang lainnya.

Oleh karena itu, apabila ada satu nyawa manusia yang melayang karena terbunuh, hukumannya tak tanggung-tanggung untuk dibunuh balik kepada si Pelaku. Karena harus sepadan nyawa dibalas nyawa, atau dengan kata lain ia dijatuhi hukuman qishash. Jika itu merupakan pembunuhan yang disengaja dan ahli waris korban tak mau menerima tebusan (diyat) atau tidak mau memaafkan. Maka qishash ini menjadi wajib, sebagaimana firman-Nya :

يآأيها الذين آمنوا كُتِبَ عليكم القصاصُ فِي القَتْلَى

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishash dalam perkara pembunuhan.” (Al-Baqarah:178)

Hanya dengan sistem Islamlah yang dapat menangani semua tindak kriminal sampai ke akarnya, termasuk kasus pembunuhan ini, maka dengan adanya sanksi dari Islam nyawa manusia yang lainnya tak mudah melayang dengan begitu saja.

Selain itu perlunya Pendidikan ala Islamyang hendaknya ditanamkan keluarga pada setiap anak. Dalam Islam tak hanya mentransfer ilmu saja tetapi juga karakter atau sikap terpuji kepada si Anak sekaligus menjadikan nilai terpuji itu diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Maka taka da lagi yang Namanya generasi bobrok jika sudah berada dalam sistem yang mulia ini, yakni sistem pemerintahan Islam atau Khilafah ‘ala minhaji nubuwwah, yang dapat melahirkan generasi yang bersyakhsyiyyah Islam.

Wallahu ‘alam.

Oleh: Marsa Qalbina
Santri Ideologis

Loading

Views: 7

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA