Kapitalisme Melahirkan Liberalisasi pada Perguruan Tinggi

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Telkom University (Tel-U) merayakan ulang tahun dengan tema “SDGs for Indonesia”. Ini menjadi momen penting bagi Telkom University untuk merancang strategi masa depan yang lebih unggul dan cemerlang.

Kabupaten Bandung sendiri telah berkomitmen mendukung pencapaian SDGs melalui berbagai program dan inovasi. Hal ini diungkapkan oleh Dadang Supriatna selaku Bupati Bandung, Jawa Barat.

Sebagai salah satu lembaga pendidikan yang fokus pada komunikasi, teknologi, dan bisnis, Telkom University terus berupaya dalam menjalankan misinya, yaitu mencetak generasi yang siap menghadapi tuntutan global. Dengan dedikasi terhadap pendidikan yang berkualitas dan semangat inovasi yang terus digelorakan, Telkom University siap menghadapi berbagai tantangan global di masa mendatang.

Telkom University berkomitmen untuk terus berkontribusi positif bagi masyarakat dan bangsa, serta membangun generasi penerus yang berdaya saing tinggi di kancah internasional.

Seiring dengan semakin melambungnya Telkom University sebagai kampus swasta terbaik dan didukung fasilitas yang mumpuni, serta peminat dari kalangan menengah ke atas, tentu tidak akan dibiarkan tanpa program-program yang sesuai dengan proyek global, yakni SDGs yang diusung oleh PBB.

Target-target SDGs tentu hanya sebatas ungkapan-ungkapan yang ingin dicapai oleh sebuah negara. Namun, apakah sejalan dengan harapan seluruh rakyat atau justru akan disabotase oleh para pemilik kepentingan seperti oligarki? Pada akhirnya, target-target SDGs ini tidak lain merupakan bentuk penjajahan dalam berbagai bidang. Salah satunya adalah pendidikan.

Seorang pemimpin sudah selayaknya memikirkan langkah agar perguruan tinggi czmakin baik kualitasnya, baik dari segi pelayanan pendidikan maupun kualitas sumber daya manusia. Pemimpin yang cerdas, visioner, dan politis tentu memahami akar masalah perguruan tinggi saat ini yang terkooptasi oleh standar kapitalisme.

Faktanya, pendidikan di negara-negara berkembang dituntut agar setara dengan negara-negara maju. Konsep World Class University dimunculkan sebagai kemampuan suatu perguruan tinggi dapat berdaya saing global. Untuk itu, kampus digiring memenuhi tolak ukur seperti keunggulan penelitian, kebebasan akademik, fasilitas dan pendanaan yang cukup memadai, termasuk berkolaborasi dengan lembaga internasional.

Harus dicermati bahwa pengambilan istilah kolaborasi antarsemua kalangan itu hanya ilusi saja. Kenyataannya, dalam sistem saat ini ketika semua kalangan tidak memiliki kesadaran politik (_political will_), semua harapan hanya sia-sia. Justru semua kalangan yang punya kepentingan saja yang akan merealisasikan.

Indikator tersebut sedikit demi sedikit akan membuat pendidikan di perguruan tinggi hanya menjadi peternakan manusia yang siap sebagai pekerja industri. Bahkan lebih parah lagi, konsep tersebut membuat Barat bisa mengontrol dunia pendidikan sesuai kepentingan mereka.

Ini sangat berbeda dengan perguruan tinggi yang diatur dalam sistem Islam. Islam diturunkan tidak hanya sebagai agama ritual yang membahas perkara salat, zakat, haji, dan sebagainya seputar ibadah _mahdhah_ lainnya.

Allah SWT menurunkan Islam sebagai ideologi yang mengatur seluruh kebutuhan manusia dan menjadi solusi atas semua masalah kehidupan. Ini termasuk sistem pendidikan tinggi. Islam memiliki konsep dan teknis yang jelas.

Dalam Khilafah, pendidikan tinggi atau kampus adalah pendidikan yang sitematis setelah pendidikan sekolah. Adapun tujuan pendidikan tinggi yakni :

Pertama, kampus adalah tempat lanjutan untuk menanamkan dan memperdalam kepribadian Islam secara intensif pada diri mahasiswa. Peningkatan kualitas pada kepribadian ini ditujukan agar para mahasiswa bisa menjadi pemimpin dalam memantau permasalahan umat, termasuk kemampuan mengatasinya dengan risiko hidup atau mati, sehingga para mahasiswa akan memahami masalah krusial di tengah-tengah umat dan paham bagaimana menyelesaikannya.

Sebagaimana ketiadaan Khilafah saat ini akan mendorong mereka memikirkan cara mengembalikan kehidupan Islam sesuai hukum syariat. Jikalaupun Khilafah sudah berdiri, mereka akan berupaya menjaga negara Khilafah tetap hidup dan diterapkan di tengah-tengah umat.

Agar permasalahan krusial ini tetap hidup dan menjadi pusat perhatian dalam benak dan perasaan para mahasiswa, maka seluruh mahasiswa di perguruan tinggi dididik dengan tsaqafah Islam tanpa memandang spesialisasi keilmuan, seperti fiqih, hadits, tafsir, ushul fiqih dan lain-lain.

Kedua, kampus harus mampu mencetak para ulama yang mampu melayani kemaslahatan hidup umat dan mampu menyusun rencana jangka pendek dan jangka panjang atau strategis.

Makna kemaslahatan hidup melingkupi kepentingan demi menjaga kelestarian hidup umat, seperti kebutuhan tentara yang kuat dan mampu melindungi umat, mampu melawan ideologi-ideologi kufur dengan perang dan mengemban dakwah Islam.

Selain itu, kemaslahatan hidup umat adalah terpenuhinya kebutuhan asasi seperti air, makanan, tempat tinggal, dan pelayanan kesehatan. Sehingga, kampus juga dituntut melahirkan para peneliti yang kompeten dalam ilmu dan praktik, menciptakan berbagai sarana dan teknik yang terus berkembang di bidang pertanian, pengairan, keamanan, dan kemaslahatan hidup lainnya.

Kampus juga dituntut melahirkan sekumpulan politikus, pakar ilmu pengetahuan, dan para pakar yang melayani kemaslahatan umat lainnya.

Ketiga, kampus juga dituntut mempersiapkan sekumpulan orang-orang yang diperlukan dalam mengelola urusan umat seperti para hakim (qadhi), para pakar piqih, dokter, insinyur, guru, penerjemah, manajer, akuntan, perawat dan lain-lain.

Untuk mewujudkan independensi tujuan pendidikan tinggi, Islam juga memiliki aturan terkait pembiayaan. Dalam Khilafah, anggaran pendidikan dialokasikan dari baitul maal pos kepemilikan negara dan pos kepemilikan umum. Dari dana pos ini Khilafah mampu membangun fasilitas sarana dan prasarana di perguruan tinggi, seperti laboratorium, perpustakaan, auditorium, kelas-kelas, dan sebagainya. Bahkan, dari pos tersebut Khilafah mampu membiayai seluruh kebutuhan para mahasiswa. Sehingga, mereka akan mendapat pendidikan secara gratis.

Seperti inilah kemandirian perguruan tinggi yang dibangun oleh Khilafah, tanpa campur tangan asing. Bukankah Perguruan Tinggi yang seperti ini sejatinya dibutuhkan oleh umat?
Wallahu a’lam bisshawwab.

 

 

Oleh: Rukmini
Sahabat Tinta Media

Loading

Views: 10

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA