Tinta Media – Kenaikan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dari 11 persen menjadi 12persen yang ditetapkan oleh pemerintah Indonesia, berlaku mulai 1 Januari 2025. Kebijakan ini telah memicu gelombang penolakan dari berbagai pihak, termasuk kalangan mahasiswa. Salah satu suara lantang datang dari Aulia Thaariq Akbar, Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Airlangga, yang menyatakan penolakannya setelah BEM Unair melakukan kajian komprehensif terhadap dampak kebijakan tersebut pada masyarakat.
Menurut Aulia, kenaikan PPN dirumuskan tanpa melibatkan partisipasi aktif masyarakat. Kebijakan ini dinilai tidak tepat, mengingat kondisi ekonomi masyarakat yang belum pulih sepenuhnya, bahkan memperburuk keadaan. Banyak masyarakat yang mengalami penurunan kelas sosial, dari kelas menengah ke kelas bawah.
Lebih jauh lagi, Aulia mengkritik komunikasi pemerintah yang dianggap tidak transparan. Awalnya, pemerintah menjanjikan bahwa kenaikan PPN hanya berdampak pada barang mewah. Namun, kenyataannya, banyak barang kebutuhan pokok yang turut terpengaruh. (beritajatim.com, 21/12/2024).
Penolakan serupa juga disuarakan oleh Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI). Melalui platform Instagram, pada 26 Desember 2024, BEM SI mengajak seluruh mahasiswa Indonesia untuk melakukan aksi penolakan kenaikan PPN di Istana Negara, Jakarta, pada 27 Desember 2024. Seruan ini mendapatkan respons luas dari mahasiswa, meskipun aksi tersebut berakhir ricuh.
Gen Z sebagai Kekuatan Perubahan
Gen z memiliki potensi besar sebagai generasi muda yang strategis dan menjadi kekuatan umat untuk mewujudkan transformasi hakiki. Oleh karena itu, kepedulian terhadap isu-isu umat, termasuk kebijakan kenaikan pajak, semestinya menjadi bagian tak terpisahkan dari kesadaran mereka.
Namun, penolakan Gen z terhadap kebijakan semacam ini tidak cukup hanya bersifat emosional. Diperlukan kesadaran yang benar (shahih) atas akar permasalahan yang terjadi saat ini. Gen z perlu memahami bahwa permasalahan utama tidak hanya terletak pada dampak kebijakan, tetapi juga pada sistem yang melahirkan kebijakan tersebut.
Kebijakan-kebijakan yang menyengsarakan rakyat tidak berdiri sendiri, melainkan lahir dari paradigma sistem sekuler-kapitalis. Dalam sistem ini, pungutan pajak menjadi salah satu sumber utama pendapatan negara, meskipun Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah. Sayangnya, pengelolaan sumber daya tersebut seringkali diserahkan kepada swasta dan asing, sehingga tidak memberikan manfaat maksimal bagi rakyat.
Pentingnya Kesadaran Sistemik
Kesadaran atas kerusakan sistem sekuler-kapitalis harus dimiliki oleh gen z. Setelah menyadari kerusakan ini, gen Zzperlu memahami sistem alternatif yang benar, yaitu sistem Islam. Sistem Islam adalah sistem yang berlandaskan syariat Allah SWT, memosisikan penguasa sebagai raa’in (pengurus rakyat) yang bertanggung jawab atas kesejahteraan dan perlindungan rakyat.
Dalam sistem Islam, negara menjalankan politik ekonomi Islam yang memastikan terpenuhinya kebutuhan pokok rakyat (sandang, pangan, papan, pendidikan, kesehatan, dan keamanan) tanpa memberatkan mereka dengan pungutan pajak. Berbeda dengan sistem kapitalis yang berorientasi pada keuntungan duniawi semata, sistem Islam bertujuan menyejahterakan seluruh rakyat.
Pendidikan Politik Islam untuk Gen Z
Untuk menjadi agen perubahan hakiki, gen z memerlukan pendidikan politik Islam. Pendidikan ini tidak hanya mengajarkan strategi perjuangan politik, tetapi juga membangun kesadaran akan pentingnya penerapan Islam kaffah dalam seluruh aspek kehidupan.
Pendidikan politik Islam juga membekali gen z dengan kemampuan berpikir kritis dan strategis, sehingga mereka dapat memberikan kontribusi nyata dalam mewujudkan perubahan sistemik. Gen z akan memahami bahwa perubahan hakiki tidak hanya mengganti kebijakan buruk, tetapi mengganti sistem yang melahirkan kebijakan tersebut dengan sistem Islam yang adil dan menyejahterakan.
Sebagai langkah strategis, gen z didorong untuk bergabung dengan partai politik Islam ideologis. Partai ini menjadi wadah yang mengarahkan perjuangan mereka agar tetap berada pada jalur yang benar dan terarah. Dengan demikian, gerak perjuangan mereka tidak hanya reaktif terhadap kebijakan tertentu, tetapi juga proaktif dalam membangun masyarakat yang diatur berdasarkan nilai-nilai Islam kaffah.
Peran gen z sangat penting dalam mewujudkan perubahan hakiki. Dengan bekal pendidikan politik Islam yang shahih dan keterlibatan aktif dalam perjuangan ideologis, gen z dapat menjadi pelopor transformasi masyarakat menuju kehidupan yang adil, sejahtera, dan diridhai Allah SWT. Perubahan ini tidak hanya membawa kebaikan bagi umat Islam, tetapi juga menjadi rahmat bagi seluruh manusia.
Wallahu a’lam.
Oleh: Darisa Mahdiyah
Aktivis Muslimah
![]()
Views: 7
















