Tinta Media – Pendidikan merupakan salah satu aspek kehidupan untuk belajar atau menuntut ilmu bagi siapa saja, baik muda maupun tua. Yang mana setiap orang berhak untuk mendapatkan pendidikan yang bagus dan layak. Sehingga bisa menjadikan setiap orang di negara ini memiliki pendidikan tanpa kesusahan satupun. Tapi nyatanya, dapat dilihat bahwa kondisi masyarakat Indonesia sekarang di dalam bidang pendidikan itu sangat menyedikan. Disebabkan oleh biaya sekolah yang mahal, kurangnya sarana dan prasarana sekolah, sekolah negeri menjadi ada bayaran, dll. Yang mana memungkian terjadinya anak-anak pada bolos, malas sekolah, dan bahkan dibully karena tunggakan.
Dinas Pendidikan Kota Medan, Sumatera Utara (Sumut) memeriksa wali kelas SD Swasta Abdi Sukma setelah viralnya video seorang siswa dihukum duduk di lantai karena menunggak pembayaran SPP. Pemeriksaan dilakukan pada Sabtu (11/1/2025) pagi di ruang kepala sekolah SD Swasta Abdi Sukma, yang berlokasi di Jalan STM, Kelurahan Suka Maju, Kecamatan Medan Johor.
Wali kelas yang diperiksa, berinisial H, diduga menghukum seorang siswa berinisial M karena belum membayar tunggakan uang sekolah selama tiga bulan. Sementara itu, Ketua Yayasan SD Swasta Abdi Sukma Ahmad Parlindungan menegaskan sekolah ini dirancang untuk membantu masyarakat kurang mampu. Ahmad menjelaskan biaya sekolah hanya dipungut selama enam bulan, yakni dari Juli hingga Desember, sedangkan Januari hingga Juni gratis (Britasatu, Sabtu 11 Januari 2025).
Dari kejiadian di atas, tentunya sangat memperihatinkan, seorang guru menghukum atau bisa dikatakan membuli anak murid karena hal tunggakan. Ini sungguh hal yang tidak wajar karena bisa menyebabkan bahan contohan anak murid untuk membully temannya. Padahal, setiap siswa seharusnya dididik dengan bagus dan aman sehingga tidak akan terjadi hal-hal yang dapat menggangu psikoligis anak.
Pendidikan di Indonesia akan terus buruk dan tidak adil. Ini tentunya tidak luput dari negara yang masih menggunakan sistem kufur yaitu kapitalisme. Yang hanya menginginkan manfaat semata, baik dalam aspek kehidupan apapun salah satunya yaitu pendidikan. Kurangnya peran negara dalam ikut andil mengurusi pendidikan, yang mana banyaknya anak- anak tidak mendapatkan pendidikan disebabkan biaya sekolah yang mahal, adanya sekolah bagus dan tidak bagus yang menyebabkan perbedaan kualitas sekolah, sekolah negeri sudah ada yang berbayar sama seperti swasta, bahkan negara juga menyerahkan pada swasta yang berorientasi mencari keuntungan.
Ini adalah bukti nyata kapitalisasi pendidikan, dimana pendidikan dapat dijadikan ladang bisnis. Padahal setiap rakyat berhak mendapatkan pendidikan. Berbagai solusi negara berikan untuk pendidikan di negra ini, seperti mengganti kurikulum pendidikan, memberikan makanan gratis, memberikan pakean sekolah gratis, dll. Tapi nyatanya semua solusi tersebut tidak ada satupun yang mensejahterkan rakyatnya. Wajar begitu, karena negara memberikan solusi yang diambil dari sistem kapitalisme jadi tidak akan selesai-selesai permasalahan yang terjadi.
Hal ini tentunya sangat jauh berbeda dengan sistem Islam, dimana dengan diterapkannya sistem Islam ini, negara akan berperan penting dalam mengurusi rakyatnya. Rasulullah Saw.bersabda : “Imam (Khalifah) adalah raa’in (pengurus rakyat) dan ia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya.” (HR. Al-Bukhari).
Dalam sistem Islam solusi yang diberikan sangat mensejahterkan dan memuaskan rakyat, yaitu dengan memberikan layanan pendidikan yang dapat diakses secara gratis baik untuk siswa kaya maupun miskin, sama ratanya kualitas semua sekolah, membiayai semua sarana dan prasarana pendidikan juga guru yang berkualitas, yang mana semua dana tersebut akan diambil dari pos kepemilikan umum dan mengelolah SDA yang ada dengan sebaik-baiknya dan masih banyak lagi solusi yang Islam berikan. Sehingga tidak akan ada terjadinya kasus guru menghukum siswa dikarenakan keterlambatan biaya. Dapat dilihat pada masa Daulah Khilafah belum runtuh, semua rakyat yang ada di naungan Dualah memiliki pendidikan yang bagus.
Oleh karena itu, tidak ada gunanya lagi berlama-lama dalam sistem kapitalisme ini yang semakin merajarela dan menyesatkan. Maka, sudah seharusnya negeri ini kembali ke Daulah Khilafah Islamiyah, kembali dari sistem kufur menjadi sitem Islam. Hanya dengan dakwahlah sistem Islam akan bangkit dan tegak kembali.
Wallahu a’lam Bishshawab.
Oleh: Nur Azizah Aulia Situmorang
Mahasiswi
![]()
Views: 15
















