Ahmad Sastra: Sekularisme Mustahil Melahirkan Keadilan

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Ketua Forum Doktor Muslim Peduli Bangsa (FDMPB) Dr Ahmad Sastra menyatakan bahwa sekularisme adalah kegelapan, mustahil melahirkan keadilan.

“Keadilan yang terwujud adalah karena Islam. Islam adalah cahaya. Sementara negara sekuler adalah negara yang justru anti Islam. Jika Islam adalah cahaya, maka anti Islam adalah kegelapan. Sekularisme adalah kegelapan, maka mustahil melahirkan keadilan, sampai kapan pun,” tuturnya kepada Tinta Media, Senin (3/3/2025).

Ia menyebutkan bahwa inti sekularisme adalah pemisahan antara negara dan agama. Islam sendiri justru mengintegrasikan antara keduanya, artinya negara dikelola berdasarkan nilai-nilai agama. Sementara sekularisme sebaliknya, sebuah paham anti agama yang telah difatwa haramkan oleh MUI pada tahun 2005.

“Sumber hukum sekularisme adalah kesepakatan manusia yang nota bene bukan pemegang keadilan, justru sebaiknya, manusia penuh keterbatasan dan kepentingan,” ujarnya.

“Tanpa wahyu, maka manusia adalah representasi akal dan nafsu. Tanpa merujuk kepada Allah Yang Maha Adil, maka manusia tidak mungkin berbuat adil,” terangnya.

Ia memaparkan bahwa Kata adil sendiri merupakan terminologi Islam yang bersumber dari Al-Qur’an. Tanpa Islam, maka konsensus keadilan berasal dari paham kapitalisme dan komunisme, dua ajaran setan yang justru telah menjadi biang kerusakan manusia dan kemanusiaan.

“Kapitalisme dan komunisme adalah sumber malapetaka peradaban manusia. Fir’aun adalah representasi antara kapitalisme dan komunisme sekaligus,” ungkapnya.

“Jadi, selama suatu negeri menerapkan sistem kapitalisme yang sekuler maupun komunisme ateis, maka selamanya mustahil akan lahir keadilan,” paparnya.

Ia mengungkapkan bahwa sekularisme banyak diterapkan oleh orang-orang kafir dan munafik. Kafir adalah penolakan atas ketuhanan Allah, sementara munafik adalah penolakan atas aturan Allah. Keduanya dilaknat oleh Allah. “Ciri kemunafikan adalah saat diajak untuk tunduk dan patuh kepada hukum Allah, mereka menolaknya,” jelasnya.

“Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul”, niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu. Maka bagaimanakah halnya apabila mereka (orang-orang munafik) ditimpa sesuatu musibah disebabkan perbuatan tangan mereka sendiri, kemudian mereka datang kepadamu sambil bersumpah: “Demi Allah, kami sekali-kali tidak menghendaki selain penyelesaian yang baik dan perdamaian yang sempurna” (QS An Nisaa’ : 61-62),” ucapnya.

Sekali lagi, lanjutnya, Islam adalah cahaya dari Yang Maha Cahaya yang akan melahirkan keadilan sempurna, sementara sekularisme adalah kegelapan yang mustahil melahirkan keadilan, namun hanya akan melahirkan malapetaka.

“Pertanyaannya, mengapa di negeri ini tidak pernah terwujud keadilan?” tanyanya.

“Jikalau Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, Maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (QS Al A’raf : 96),” tuturnya.

Ia melanjutkan bahwa betapa dahsyatnya firman Allah ini yang mengingatkan dengan keras kepada manusia bahwa iman dan taqwa adalah kunci keberkahan suatu bangsa dan negara. Sementara kekufuran yang maknanya mendustakan Allah akan mendatangnya siksa yang pedih dari Allah.

“Ketaatan mendatangkan keberkahan, sementara kedustaan mendatangkan azab dan siksa,” tandasnya.[] Ajira

Loading

Views: 18

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA