Tinta Media – Menyoroti isu sektarian di tengah masyarakat, Cendekiawan Muslim Ustadz Muhammad Ismail Yusanto (UIY) mengungkapkan bahwa Islam adalah agama yang memiliki kemampuan luar biasa untuk menyatukan manusia di dunia.
“Islam itu adalah agama yang memiliki kemampuan luar biasa untuk menyatukan manusia dari berbagai latar belakang ras, suku bangsa, bahasa,” ujarnya dalam LiveFokus yang bertajuk Isu-Isu Sektarian Dalam Pergolakan Dunia Islam, Ahad (26/4/2026) di kanal YouTube UIY Official.
Menurutnya, tak ada agama yang begitu memiliki kemampuan hingga bisa menyatukan manusia yang datang dari berbagai latar belakang itu melebihi Islam.
“Karenanya, maka kita bisa melihat bahwa umat Islam itu cerminan dari keragaman yang ada di muka bumi, ini hari,” ungkapnya.
Jadi, UIY menandaskan, kalau ada persaudaraan universal, itulah persaudaraan Islam.
“Kita lihat Muslim itu ada dari kulit hitam, kulit putih, kulit coklat. Ras Milanesia, Polinesia, ras Mongoloid, ras Negroid, Arya, dan sebagainya. Dari benua Asia, Afrika, Amerika, Eropa, Australia, dan sebagainya,” bebernya.
Tapi di sisi lain, UIY menyampaikan, Islam juga adalah agama yang sangat memungkinkan terjadinya perbedaan.
“Jadi, di satu sisi punya kemampuan yang sangat besar untuk menyatukan, tapi di sisi lain, sifat dari agama ini juga memungkinkan untuk terjadinya perbedaan,” terangnya.
Ia mencontohkan tentang adanya perbedaan dalam tata cara kewajiban berwudhu sebelum shalat. “Jadi belum lagi masuk shalat, dalam tata cara wudhu itu sudah bisa terjadi perbedaan,” ungkapnya.
UIY lanjut mengutip surah Al-Maidah ayat 6 sebagai dalil untuk berwudhu.
“Dalil untuk berwudhu dalam Al-Qur’an itu Idza qumtum ila sholaati fagshilu wujuhakum wa aydiyakum ila maroofiq wamsahu bi ruusikum wa arjulakum ila alka’baini,” kutipnya.
Ia menyebutkan Al-Qur’an menentukan bagaimana cara berwudhu. “Diantaranya disebutkan mengusap kepala wamsahu bi ruusikum. Nah, mengusapnya kepala di sebelah mana, seberapa besar kepala (yang diusap), nah itu terjadi perbedaan,” terangnya.
UIY mengungkapkan, ada yang mengusap seluruh kepala dan ada yang mengusap sebagian kepala. “Karena lafaznya bukan wamsahu ruusakum, tapi wamsahu bi ruusikum, ada yang mengatakan itu part of it (sebagian kepala), ada yang mengatakan itu whole part of it (seluruh bagian kepala),” jelasnya.
Ia menandaskan, ini satu contoh betapa bahwa dalam Islam itu perbedaan itu memang boleh, disebut sebagai keniscayaan mengingat tabiat dari dalil juga mengingat dari tabiat manusia.
“Jadi ada dua, ada tabiat dalil, ada tabiat manusia. Tabiat dalil ya tadi itu, Al-Qur’an dan Sunnah itu seperti itu. Kemudian manusia, tentu saja punya kemampuan yang berbeda-beda, ada yang bisa memahami Al-Qur’an, bisa memahami secara mendalam, ada yang tidak. Ada yang menemukan hadits, ada yang tidak, dan sebagainya. Imam Syafi’i saja kan ada qaul qadim qaul jadid. Nah, itu menunjukkan perkembangan,” pungkasnya.
[] ‘Aziimatul Azka
![]()
Views: 21
















