Menulislah dengan Cinta!

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – “Ustadz, kaca mata sebelah kanan enggak ada lensanya,” tanya seorang sahabatku, ketika kami bersama mengkaji Ajhizah Daulah Khilafah fil Hukmi wal Idarah, kitab yang membahas struktur dan administrasi negara khilafah, Selasa (21/1/2025) di Sidoarjo.
.
“Enggak apa-apa, ada tidaknya lensa sama saja. Lah, mata kanan saya juga tidak bisa melihat,” jawabku enteng.
.
Dia tampak terkejut dengan jawabanku. Dia tak menyangka bahwa selama ini aku hanya menggunakan 1 mata untuk melihat.
.
“Kalau yang kiri minus berapa, Ustadz,” tanyanya lagi.
.
“Minus 4,” jawabku.
.
Aku adalah anak pertama dari dua bersaudara. Saat ini aku sudah berkeluarga dengan 4 anak. Sejak kelas 1 SMA, mata kananku mengalami kecelakaan saat bermain. Di tengah-tengah bola mata muncul selaput seperti lendir sehingga harus diambil dengan operasi. Takdir Allah, selaput menutupi mataku bisa diambil, namun penglihatanku tidak bisa kembali normal. Ya, sejak saat itu aku hanya memakai 1 mata untuk melihat.
.
Sebenarnya, mata kiriku pun bermasalah karena tidak bisa melihat benda yang jauh. Namun karena keterbatasan ekonomi di keluarga, aku menyembunyikan hal itu.
.
Waktu terus berjalan, semester 6 saat menjalani kuliah di Teknik Kimia Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) barulah aku pakai kaca mata minus untuk membantu penglihatanku. Lulus kuliah tahun 2004, aku dikenalkan adikku gerakan dakwah Islam kaffah. Butuh waktu lebih 4 tahun untuk meyakinkanku bergabung bersama gerakan dakwah ini.
.
Tahun 2019, aku mulai menggeluti dakwah lewat tulisan. Bertemu di dunia maya. Aku diajak bergabung di media Tinta Siyasi oleh Mbak Ika Mawarningtyas (Pemred Tinta Siyasi). Bersama Mas Rasman, Mbak Dewi Srimurningsih, Mbak Liza Burhan dan Mas Insani el Fudhel. Kami digembleng untuk menulis opini dan membuat berita. Dari sini saya kenal Om Joy, jurnalis Media Umat, seorang guru, sahabat, sekaligus motivator terbaik saat lagi malas mau nulis.
.
Sejak saat itu hingga kini, aku menulis menggunakan ponsel. Karena inilah satu-satunya fasilitas yang kupunya. Di samping cepat, juga simpel dan mudah dibawa ke mana-mana. Kapan pun ada waktu luang, aku gunakan untuk menulis.
.
Saat ini aku diamanahi jadi Pemred Tinta Media. Di samping juga membuat berita untuk Media Umat daring dan mengisi rubrik Media Nasional di Tabloid Media Umat. Selain itu, aku juga diminta jadi pengasuh di Tanah Ribath Media.
.
Apakah aku tak punya kerjaan lain selain menulis? Kerjaan harianku adalah sebagai buruh di pabrik keramik. Setiap pagi mengantar anak sekolah. Pulang kerja, antar jemput anak ngaji. Apakah capek? Tentu saja. Tapi rasa capek itu hilang karena cinta.
.
Begitu juga dengan menulis. Jika ingin menjadi penulis, apalagi penulis ideologis, maka menulislah karena cinta. Menulislah karena kita mencintai Allah. Menulislah karena kita mencintai Rasulullah SAW. Menulislah karena kita mencintai Islam. Menulislah karena kita mencintai dakwah ini. Menulislah karena kita ingin umat ini menjadi umat terbaik. Menulislah karena kita tidak ingin melihat lagi penderitaan yang dialami oleh saudara-saudara kita di Palestina, di Uighur, di Kashmir, dan di belahan bumi yang lain.
.
Menulislah karena Allah memerintahkan untuk menulis, artinya jika kita menulis, kita akan dapat pahala. Menulislah, karena ada banyak potensi pahala yang akan kita dapat saat teman, sahabat, orang-orang yang membaca tulisan kita, mereka menjadi baik. Atau yang sudah baik, menjadi lebih baik. Dan insyaallah kebaikan yang dilakukan oleh orang-orang itu, kita juga akan ikut mendapat bagian pahalanya dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.[] Achmad Mu’it

Views: 87

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA