Tinta Media – Pernyataan Presiden RI Prabowo Subianto dalam konferensi persnya bersama Presiden Perancis Emmanuel Macron pada Rabu (28/5/2025) di Istana Merdeka, Jakarta, membuktikan bahwa arah politik luar negeri Indonesia tak berada pada jalan ideologi Islam.
Apa yang disampaikan Prabowo bahwa Indonesia siap mengakui entitas penjajah IsraeI, asalkan Israel lebih dulu mengakui negara Palestina justru menunjukkan ketundukan pada logika politik jalan ideologi kapitalisme-sekularisme yang batil dan menyesatkan.
Mengapa batil dan menyesatkan? Karena ini merupakan bentuk kompromi yang bertolak belakang dengan prinsip Islam. Ini sikap tunduk terhadap narasi politik imperialisme Barat khususnya Amerika Serikat dan sekutunya yang terus berupaya menyesatkan arah perjuangan umat untuk mengusir agresor Zionis Yahudi dari tanah Palestina.
Bukankah dunia menyaksikan bahwa sejak 1948 hingga saat ini, penjajah Zionis Yahudi yang berkamuflase berganti nama menjadi Israel (agar mendapat pengakuan sebagai negara untuk memuluskan tindak kejahatannya) terus melakukan penjajahan brutal atas tanah Palestina?
Ribuan warga sipil tanpa peduli lansia, anak-anak dan perempuan diketahui telah menjadi korban genosida, pengusiran, dan penyiksaan.
Serangan bom berkala menghancurkan rumah, sekolah, dan rumah sakit dan berbagai fasilitas lainnya.
Israel juga menembaki pemukiman warga, membuldoser rumah-rumah, merampas tanah, dan terus membangun pemukiman ilegal di wilayah Palestina.
Dan tembok blokade pun sejak 2007 hingga kini, masih kokoh berdiri membuat jutaan orang hidup dalam krisis kemanusiaan.
Padahal berkaitan dengan penjajahan ini Allah SWT dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 191 telah menegaskan:
وَاقْتُلُوْهُمْ حَيْثُ ثَقِفْتُمُوْهُمْ وَاَخْرِجُوْهُم مِّنْ حَيْثُ اَخْرَجُوْكُمْ
“Perangilah mereka oleh kalian di mana saja kalian menjumpai mereka dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kalian.”
Inilah yang seharusnya diserukan dan diupayakan Prabowo, yakni jalan Islam untuk mengusir penjajah Israel dari tanah Palestina, sebagaimana para pahlawan dahulu mengusir penjajah Belanda dari negeri Indonesia.
Maka, sesungguhnya sangat jelas, berdasarkan ayat ini bahwa seruan lunak kompromi yang dilakukan Prabowo terhadap penjajah Zionis Yahudi pelaku genosida di hadapan Macron yang dia sebut sebagai saudara yang mulia pada konferensi pers itu bukanlah jalan Islam.
Sedangkan mengenai solusi dua negara (two-state solution) yang turut digaungkan Prabowo dan Macron, ini juga bukanlah penyelesaian hakiki atas penderitaan rakyat Palestina.
Namun sebaliknya, solusi dua negara justru merupakan bagian dari proyek politik Barat khususnya Amerika Serikat dan sekutunya untuk melegitimasi keberadaan entitas penjajah Zionis Yahudi (Israel).
Solusi ini sangat membahayakan, karena mengaburkan dan menguburkan pemahaman Islam terkait kewajiban bagi umat Islam untuk membebaskan seluruh wilayah Palestina dari penjajahan, bukan sekadar sebagian kecilnya saja.
Selain itu, pernyataan Prabowo juga pada hakikatnya mencerminkan ketidakberpihakan terhadap Islam, umat Islam, dan tanah air kaum Muslimin (negeri-negeri Islam).
Alih-alih untuk membela kepentingan umat Islam dan korban yang terjajah pada umumnya, pernyataan kompromi tersebut lebih menunjukkan dukungan terhadap sistem sekuler global yang justru melindungi penjajah dan memperpanjang penderitaan kaum tertindas.
Oleh: Muhar
Jurnalis
Views: 81
















