Tinta Media – Kapitalisme yang menjunjung tinggi nilai Materialisme dan kebebasan membuat banyak orang stres. Tuntutan gaya hidup hedonis sering membuat orang terjebak dalam pinjaman online (pinjol) demi mengikuti keinginan yang tidak ada batasnya, bukan memenuhi kebutuhan.
Banyak orang rela membeli barang branded agar bisa pamer dan dianggap kaya. Padahal, mereka sebenarnya tidak mempu membeli semua itu, tetapi memaksakan diri dengan mengajukan pinjol yang berbasis riba. Apalagi, dengan kemudahan yang ditawarkan dan gencarnya promosi di sosmed membuat orang gelap mata.
Banyak orang tidak berpikir ke depannya saat harus membayar utang riba. Tidak sedikit yang menjadi stres karena terbelit utang sampai harus menjual rumah satu-satunya. Ada juga yang memutuskan untuk mengakhiri hidup, bunuh diri. Sungguh miris, harga sebuah gaya hidup harus dibayar dengan nyawa.
Saat memiliki banyak uang, mereka masih merasa tidak puas. Akhirnya, terjerumus dengan bermain judi online (judol), seperti yang terjadi pada ayah dari penyanyi cilik viral yang bernama, Farel Prayoga. Niat baik menitipkan uangnya pada orang tua untuk dibuat usaha agar bisa berkembang, malah digunakan untuk judol. Alhasil, uang 10 milyar dari hasil manggung, termasuk saat diundang ke istana habis, tidak tersisa.
Hal itu menjadi pelajaran bagi kita semua bahwa judol tidak akan bisa membuat kita kaya, tetapi justru menjadikan miskin. Tidak hanya itu, semua perbuatan dosa besar akan membawa pada kesengsaraan, tidak hanya di dunia, tetapi juga saat kita kembali ke akhirat.
Sementara itu, ada banyak pula pejabat yang memiliki gaji besar masih merasa kurang dan tergoda untuk memperkaya diri sendiri dengan melakukan korupsi. Banyak orang jauh dari kebenaran dengan menjilat penguasa agar mendapatkan jabatan dan kekayaan yang diinginkan. Meskipun kelebihan harta, tetapi hidup tidak akan tenang dan berkah, karena diperoleh dengan cara yang haram.
Selain itu, banyak orang tua stres karena anak-anaknya tidak punya adab akibat kebebasan yang dijunjung tinggi dalam kapitalisme. Mereka jauh dari nilai agama. Banyak anak yang menuntut banyak dari orang tua. Namun, mereka tidak mau mengikuti aturan agar menjadi anak yang memiliki karakter baik. Banyak pula muda-mudi pacaran sampai kebablasan hamil di luar nikah. Sementara, mereka belum siap untuk membangun rumah tangga. Dikarenakan malu ketahuan sudah melakukan zina, tidak sedikit dari mereka yang memutuskan membuang bayi, bahkan membunuh anaknya sendiri, buah dari hubungan terlarang.
Sungguh, begitulah ketika kapitalisme yang akidahnya sekuler diterapkan. Agama dipisahkan dari kehidupan. Islam hanya dianggap sebagai agama ritual dan diterapkan sebagian. Sungguh, kita merindukan kehidupan Islam yang begitu indah saat diterapkan secara kaffah. Banyak orang takut berbuat dosa karena Allah, bukan karena dilihat manusia. Mereka yakin bahwa Allah Maha Tahu atas apa yang kita lakukan, baik yang tersembunyi dalam hati maupun yang kita nyatakan.
Negara yang menerapkan sistem Islam secara kaffah juga ikut menjaga rakyat agar tidak melakukan perbuatan dosa. Sungguh indah kehidupan Islam yang membuat orang saling peduli, membantu saudaranya yang membutuhkan. Mereka juga saling menasihati agar mau mengatur hidupnya dengan Islam, sehingga jauh dari masalah dan stres. Sungguh indah hidup dalam sistem Islam. Tidakkah kita mau memperjuangkannya agar kehidupan ideal yang indah benar-benar terwujud? Wallahu a’lam bishawab.
Oleh: M. Efendi
(Sahabat Tinta Media)
Views: 36
















