UIY: Pelaparan di Gaza Sangat Mengerikan

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Cendekiawan Muslim Ustadz Muhammad Ismail Yusanto (UIY) mengungkapkan, pelaparan di Gaza Palestina oleh Zionis Yahudi (Israel) sangat mengerikan.

“Ini situasi yang sangat mengerikan ya. PBB itu menyebutnya sebagai dengan istilah ‘man-made starvation’. Jadi, kelaparan massal yang dibuat oleh manusia. Ini sesuatu yang jelas sekali” ungkapnya dalam program Fokus to The Point: Mengerikan Gaza di Ambang Kelaparan Massal, di kanal YouTube UIY Official, Selasa (5/8/2025).

Biang pelaparan itu, sebut UIY, Zionis Yahudi yang menutup sama sekali pintu Rafah sejak Maret (2025).

“Jikapun ada masuk truk bantuan, itu hanya kurang lebih 20 sampai 28 truk sehari, dari idealnya itu kurang lebih 600 truk,” ungkapnya.

Menurutnya, kejahatan itu semakin nyata dan luar biasa ketika warga berebut bantuan yang berhasil masuk justru ditembaki.

“Begitu truk itu masuk, orang berkerumun untuk memperebutkan bantuan. Tak jarang kemudian ditembaki. Ini sebuah kekejian yang luar biasa,” geramnya.

UIY memperingatkan, bahwa kelaparan yang terjadi, akan berdampak jangka panjang bagi generasi Gaza.

“Sudah lebih dari 80 hari, berarti sudah 3 bulan. Kematian pada bayi terus terjadi dan ini akan bisa berdampak jangka panjang, yaitu malnutrisi yang kemudian seperti sering kita dengar itu stunting, yang akan berpengaruh terhadap masa depan Gaza atau Palestina.

Oleh karenanya, kata UIY, generasi muda Gaza yang masih dalam pertumbuhan itu tidak cukup mendapatkan nutrisi.

“Cepat atau lambat mereka pasti akan terdampak dan akan terus menimbulkan kematian massal yang sangat mengerikan.” Ulasnya.

Siapa yang Paling Bertanggung Jawab?

Menjawab pertanyaan siapa yang paling bertanggung jawab, UIY menyebut tiga pihak utama.

“Yang pertama tentu saja adalah pemerintah Netanyahu la’natullahi ‘alaihi, yang terus ngotot tak mau membuka pintu Rafah,” sebutnya.

Kedua, kata UIY, tentu Amerika Serikat (AS), yang katanya mediator perdamaian, yang mengetahui bahwa pintu Rafah itu satu-satunya pintu yang mestinya dibuka untuk memberikan bantuan kepada penduduk Gaza yang kelaparan.

“Tetapi tetap aja dia (AS) tidak mau membuka.” Imbuhnya.

Dan yang ketiga, lanjut UIY, adalah penguasa di negeri Arab sekitar wilayah Gaza.

“Utamanya adalah Mesir, karena pintu Rafah itu menghubungkan antara wilayah Gaza dan Mesir yang notabene keduanya sama-sama wilayah Islam,” jelasnya.

UIY pun menyayangkan ketidakberdayaan negara-negara Muslim membuka pintu bantuan bagi wilayah Gaza.

“Aneh! Kita ini ibarat kata punya rumah, di situ ada pintu yang menghubungkan kamar kita dengan ruang tengah, tapi kita tidak punya kewenangan sama sekali untuk membuka pintu itu. Kita harus izin Tel Aviv (Israel) sama Washington (AS) dan mau tunduk,” kritiknya.

Bahkan, menurut UIY, ketika ada aksi “Global March for Gaza” yang sampai di depan pintu Rafah, pintu itu tetap tidak dibuka, meskipun ada non-Muslim yang sampai mengiba-iba (memohon-memohon).

“Jelas ini sebuah kesalahan yang sangat besar yang harus ditanggung oleh pemerintahan Mesir hari ini, dan juga sebenarnya adalah pemerintahan di sekitar Gaza,” tegasnya.

UIY mengatakan, jika ada kemauan, bantuan seharusnya bisa dikirim lewat jalur udara maupun laut, namun hal itu tidak dilakukan para penguasa Arab di sekitar Gaza.

“Wong itu bala bantuan itu bisa dikirim lewat helikopter. Itu sangat mudah, dari Yordan, dari Mesir, dari mana-mana (jalur udara), termasuk dari arah laut. Tapi itu tidak dilakukan,” terangnya.

Genosida melalui Pelaparan

UIY lanjut membeberkan, adanya rencana Israel yang bertujuan untuk menghabisi (genosida) penduduk Gaza melalui cara pelaparan.

“Mereka melakukan seluruh langkah atau cara untuk menghabisi penduduk Gaza. Dari cara yang paling keras seperti membom sampai cara yang tampak sangat halus, yaitu menyetop bantuan dan membuat mereka kelaparan mati pelan-pelan,” bebernya.

“Jadi intinya ya mereka menginginkan Gaza ini penduduknya habis. Lalu dengan itu mereka akan menguasai dan tercapailah apa yang menjadi mimpi lama mereka, yaitu berdirinya Israel Raya.” Tandasnya.

Solusi Hakiki

Lebih lanjut UIY menyerukan pentingnya persatuan umat Islam sebagai solusi hakiki.

“Inilah bukti ke sekian kali betapa pentingnya persatuan umat itu. Persatuan umat itulah yang akan membuat umat Islam menjadi kuat,” ujarnya.

Sebab, UIY menjelaskan, tanpa persatuan dan kekuatan, sekadar membuka pintu Rafah, pintu yang sama-sama menghubungkan wilayah Islam saja kita tidak mampu.

“Persatuan itu hanya mungkin terjadi jika kita bisa mewujudkan dua syarat sekaligus, yaitu institusi pemersatu umat dan pemimpin yang menyatukan umat. Institusi pemersatu umat dalam ajaran Islam itu disebut khilafah dan pemimpinnya adalah khalifah,” pungkasnya.[] Muhar

Views: 33

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA