Tinta Media – Maraknya kasus kenakalan remaja saat ini seolah menjadi “makanan“ sehari-hari. Makin hari makin bermacam-macam motifnya, baik dari kasus pembegalan, pembunuhan, tawuran, narkoba, dsb.
Ada seorang siswa sekolah dasar menusuk bagian leher pelajar MTs kelas 2 dengan menggunakan gunting yang selalu dibawa di kantongnya. Akibatnya, korban pun tewas. “Pelaku tersebut perlu diselidiki lebih lanjut, sebab gunting yang selalu dibawa, bisa jadi itu dipakai untuk membela diri ketika merasa terancam atau dia membawanya untuk melukai orang lain,“ ujar Syarkoni, Psikolog Klinis. (Detik.com, 10/08/2025)
Kasus ini menunjukkan bahwa generasi saat ini kian rusak. Mereka bebas bertindak sesuai keinginan mereka, tak peduli benar atau salah. Selain itu, generasi tidak pandai mengendalikan diri mereka ketika menghadapi masalah. Kehidupan seperti ini adalah hasil dari diterapkannya sistem bobrok sekularisme kapitalis.
Generasi yang berkepribadian Islam tidak mungkin terlahir dari pendidikan sekuler. Output yang dihasilkan dari pendidikan ini hanyalah generasi yang tidak memahami jati dirinya sebagai seorang Muslim. Seharusnya, seorang Muslim sejati berpikir berlandaskan syariat dan bertindak sesuai dengan keinginan Sang Khalik, bukan sebaliknya. Mereka justru berbangga diri mengikuti gaya Barat yang bertentangan dengan jati dirinya seorang Muslim.
Saat ini lingkungan sekitar tidak mendukung untuk membentuk generasi yang berkepribadian islami sehingga generasi pun rusak sebagaimana lingkungannya. Hal ini disebabkan faktor lingkungan dan media sosial yang berperan besar dalam pembentukan kepribadian sebuah generasi. Kini media sosial begitu bebas dan jauh dari nilai-nilai agama. Faktanya, negara tidak mengontrol media sosial. Semua informasi dan pemikiran asing bebas tersebar di dunia maya.
Berbagai persoalan generasi yang muncul membutuhkan solusi hakiki. Solusi ini muncul dari sistem yang telah terbukti dapat menyelesaikan berbagai masalah, yakni sistem Islam. Namun, sistem ini tidak akan dapat diterapkan tanpa adanya negara Islam (khilafah). Tatkala khilafah ini tegak kembali, maka negaralah yang akan bertanggung jawab atas segala urusan umat. Islam bukan hanya dapat menyelesaikan permasalahan generasi ini saja, tetapi segala permasalahan yang ada.
Sistem pendidikan Islam terbukti berhasil mencetak generasi emas yang akan melanjutkan kembali perjuangan dakwah Rasulullah saw. Dalam Islam, tidak menuntut setiap generasi untuk meningkatkan nilai akademisnya, melainkan ditanamkan nilai-nilai dan tsaqafah Islam. Kemudian, akan diajarkan bagaimana cara mengatasi segala masalah yang ada. Dengan begitu, masyarakat akan bergerak untuk memahami Islam sehingga terciptalah lingkungan yang mendukung terbentuknya generasi yang berkepribadian Islam.
Pembentukan kepribadian generasi ini butuh kontribusi dari negara. Sebagaimana yang dilakukan khilafah, di mana negara akan menggunakan media sebagai sarana edukasi dan dakwah. Sementara itu, media akan dikontrol dan diawasi sehingga paham-paham yang bertentangan dengan Islam tidak tersebar dan tidak meracuni generasi. Setelah adanya lingkungan yang mendukung, negara juga turut berperan dalam mengurusi umat. Maka, terciptalah generasi yang senantiasa berada dalam ketaatan. Wallahualam bissawab.
Oleh: Yumna Daafiatumillah
Sahabat Tinta Media
Views: 25
















