Kisah Pilu Raya: Abainya Negara terhadap Kesejahteraan Rakyat

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Allah adalah Zat yang menciptakanmu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan(-mu) kuat setelah keadaan lemah. Lalu, Dia menjadikan(-mu) lemah (kembali) setelah keadaan kuat dan beruban. Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dia Maha Mengetahui lagi Mahakuasa. (QS ar-Rum: 54)

Fase pertama lemahnya manusia adalah di tiga sampai lima tahun awal kehidupannya. Hampir setiap keinginannya harus dibantu orang lain dalam memenuhi, baik itu makan, minum, membersihkan diri, bahkan untuk memulai istirahatnya. Namun, apa mau dikata ketika seorang balita diasuh oleh kedua orang tua dengan keterbatasan ekonomi dan bahkan mengidap penyakit mental.

Tanah dan tempat tinggal yang kotor adalah tempat bermainnya. Gizi buruk dan penyakit paru-paru pun memperburuk kondisi kesehatannya. Lebih miris lagi, BPJS yang digadang-gadang sebagai penjamin kesehatan masyarakat justru aktivasinya mengalami keterlambatan. Balita malang bernama Raya itu pun mengembuskan nafas di rumah sakit dengan kondisi yang sangat memprihatinkan. Ribuan cacing keluar dari setiap lubang tubuhnya.

Manusia sebagai bagian dari masyarakat tentunya ada hak dan kewajiban yang diamanatkan kepadanya. Senantiasa peka dengan sekitar, saling tolong dan bantu, beramar makruf nahi mungkar, bahkan bergotong royong dalam menciptakan kebersihan dan kesehatan lingkungan sekitar. Apalagi, ketika ada jabatan tertentu yang diembannya, baik pada level bawah maupun atas. Semuanya akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat. Level akidah inilah yang akan membuat manusia bertindak dengan aturan yang tepat dalam bermasyarakat maupun sebagai bagian dari aparatur negara, bukan malah menindak tegas ketika kasusnya sudah viral.

Banyak yang harus disoroti dari kasus Raya, antara lain: pelayanan kesehatan yang belum sepenuhnya menjamin kesehatan masyarakat, mekanisme pelayanan yang rumit, dan abainya negara dan masyarakat terhadap kondisi lingkungan. Semua ini terjadi karena sistem kapitalisme yang lebih mengedepankan individualitas atas nama hak asasi manusia dan juga privilese orang-orang berduit dalam memberikan akses kesehatan yang layak.

Hal ini juga disampaikan oleh Teh Iin sebagai founder lembaga sosial Rumah Teduh yang menanggung biaya perawatan Raya selama 3 hari di rumah sakit sebanyak Rp11 juta dan masih harus membayar tagihan Rp23 juta lagi. Beginilah nasib rakyat miskin di negeri yang katanya angka kemiskinan sudah turun drastis ini.

Kesehatan dalam Pandangan Islam

Kesehatan sejatinya adalah tanggung jawab negara. Negara wajib menjamin kesehatan masyarakat tanpa ada tarikan biaya layaknya asuransi. Jaminan tersebut diberikan kepada seluruh rakyat baik pribumi maupun asing yang kebetulan berada di wilayah negeri tersebut. Masyarakat Islam juga merupakan masyarakat yang tidak diragukan kepeduliannya terhadap lingkungan. Akhlak dan adab dalam Islam menjadikan _hadharah_ Islam berjaya selama 13 abad.

Sejarah membuktikan kisah-kisah gemilang masa kejayaan Islam dalam 3 aspek kesehatan, yakni:

1. Pembiasaan hidup sehat, antara lain: menjaga kebersihan lingkungan dan tubuh, seperti wudu yang dilakukan minimal 5 kali dalam sehari, pola makan yang halal dan tayib, pembiasaan puasa sebagai detoks alami, pola istirahat yang tepat, dsb.

2. Pemajuan ilmu dan teknologi kesehatan. Rasulullah sebagai _uswah_ atau teladan kaum Muslim menggambarkan penjagaan kesehatan pada dirinya. Selain rukiah syar’iyyah yang digunakan untuk penyakit yang disebabkan oleh sihir, ada pula bekam dan fasdu yang beliau gunakan untuk berbagai penyakit fisik. Rasulullah juga pernah menghadiahkan seorang dokter yang merupakan tawanan perang kepada masyarakat Madinah agar memberikan pengobatan dan pendidikan kesehatan kepada masyarakat. Rasulullah saw. bersabda, “Tidaklah Allah menurunkan suatu penyakit kecuali Dia menurunkan pula obatnya.” (HR Al-Bukhari, no. 5678)

3. Penyediaan infrastruktur dan fasilitas yang memadai di semua titik.
Berita tentang majunya teknologi kesehatan di masa pemerintahan Islam menjadikan rumah sakit sebagai salah satu tujuan para wisatawan yang ingin merasakan enaknya tinggal di rumah sakit. Perawatan sekelas hotel berbintang, diterima layaknya tamu kehormatan, dan dilayani selama tiga hari berturut-turut tanpa dimintai biaya. Jika terbukti tidak sakit, maka pada hari keempat akan dipersilakan untuk pulang. Namun, jika terbukti sakit dan perlu perawatan, maka para dokter dan perawat di sana akan melakukan perawatan sampai pasien bisa melakukan rawat jalan. Begitu pula jika ada pasien yang tidak mampu dan menjadi tulang punggung keluarganya, maka rumah sakit akan memberikan pesangon kepada pasien tersebut sebanyak kebutuhan keluarganya selama dia dirawat.

Begitulah Islam sebagai agama yang sempurna dan paripurna mengatur kesehatan masyarakat. Kesehatan diatur secara sistemis dari hulu hingga hilir tanpa memungut biaya sepeser pun dari masyarakat. Islam mempunyai mekanisme terbaik dalam akidah maupun dalam ri’ayah suunil ummah (pengaturan kehidupan umat. Wallahualam bissawab.

Oleh: Yuli Mariyam
Pendidik Generasi Tangguh

Views: 30

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA