Di Balik Insiden Murid Merokok di Sekolah

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Dunia pendidikan sempat geger belakangan ini. Berawal dari insiden murid merokok di sekolah yang berujung pada penonaktifan kepala sekolahnya. Ada juga insiden murid merokok di saat jam pelajaran pas di samping guru yang sedang mengajarnya sebagai pertanda wibawa seorang guru telah disepelekan. Selain itu, ada penemuan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahwa remaja berusia 13 sampai dengan 15 tahun sudah terpapar dengan rokok elektrik atau vape. Tiga fenomena di atas akan kita bahas dalam tulisan ini.

 

Insiden pendisiplinan Kepala SMAN 1 Cimarga, Kabupaten Lebak, Banten, Dini Fitri, pada salah satu peserta didiknya, Indra, yang ketahuan merokok di belakang sekolah. Dini berulang kali bertanya apakah Indra merokok, tetapi indra berbohong atau berkelit. Dini terpancing emosi hingga akhirnya ada pendisiplinan secara fisik kepada Indra. Orang tua Indra tidak terima lalu melaporkan Dini ke polisi. Efek dari pelaporan itu, sebanyak 630 murid SMAN 1 Cimarga mogok sekolah dan juga ada penonaktifan jabatan Dini sebagai kepala sekolah. Lalu, pada tanggal 15/10/2025, polemik tersebut pun berakhir damai dengan dijembatani Gubernur Banten, Andra Soni, yang mempertemukan antara Dini, Indra, serta wali kelas Indra. Keduanya saling meminta maaf. (news.detik.com, 16/10/2025)

 

Murid merokok di sekolah juga terjadi di Makassar. Beredar foto di media sosial tentang seorang murid SMA, AS, yang dengan santainya duduk di samping gurunya, Ambo, yang sedang mengajar sambil merokok dengan mengangkat kakinya. Ambo, Sang Guru sudah menegurnya dan murid pun menuruti perintah Ambo. Hanya saja, teman AS sudah telanjur memotretnya dan menyebarluaskan di lini media sosialnya. Dari insiden ini, AS mendapat skors selama 2 minggu.

 

Dari dua cerita di atas, tidak bisa kita mungkiri bahwa merokok sudah menjadi hal biasa di kalangan remaja. Bahkan, hasil penelitian WHO menyebutkan bahwa remaja dengan usia 13-15 tahun yang sudah terpapar rokok elektrik atau vape sejumlah 15 juta orang. Padahal, vape itu sengaja diproduksi untuk mengurangi dampak tembakau dan ditujukan untuk perokok dewasa yang ingin berhenti merokok. Dengan mudahnya remaja mengakses vape. Akhirnya, menghasilkan kelompok baru kecanduan nikotin kalangan muda. WHO sendiri tidak punya solusi atas fenomena ini. (inforemaja.id, 14/10/2025)

 

Merokok sendiri adalah salah satu cara bagi remaja untuk mengungkapkan pendewasaan dirinya, penemuan jati diri, serta sebuah kebanggaan karena rokok membuat dirinya menjadi keren. Jelas, cara ini perlu diluruskan dan butuh peran sistem pendidikan. Pengemasan kurikulum yang tepat dalam sistem pendidikan akan menciptakan mental peserta didik agar cerdas dalam aktualisasi diri, yaitu melalui sebuah karya yang berguna bagi peradaban, bukan malah bertindak atas nama kebebasan yang di luar batas etika.

 

Insiden di atas hadir juga karena adanya ruang abu-abu atau ketidakjelasan dalam pendisiplinan siswa dan juga tergerusnya wibawa guru. Hal tersebut makin merumitkan dunia pendidikan. Pendidik bingung harus bagaimana menanamkan kedisplinan pada siswanya karena bayangan pengaduan dan posisinya yang terancam. Siswa pun juga bingung dengan batas etika yang harus dijaga padahal gejolak eksistensi tak terbendung dalam dirinya. Kalaupun ada pendisiplinan secara fisik karena pendidik sudah merasa mendidik dengan segala cara, tetapi siswa belum bisa sesuai harapan mereka. Remaja dengan kenakalannya itu wajar karena di situlah letak dia belajar. Namun dengan dalih kebebasan, maka kenakalan itu akan memancing kemarahan siapa pun yang berinteraksi dengannya, salah satunya guru di sekolah. Sangat disayangkan!

 

Bagaimana dengan sistem pendidikan sekarang? Sistem pendidikan sekuler yang diterapkan saat ini memberikan ruang kebebasan dan terbukti telah gagal mencetak peserta didik yang bertakwa dan berakhlak mulia. Perlu menanamkan kembali nilai-nilai fundamental sopan santun dan rasa hormat kepada guru.

 

Lalu, apakah salah jika remaja merokok? Dalam Islam, merokok itu mubah atau boleh. Namun, merokok jadi tidak boleh jika membahayakan dirinya dan orang lain. Mengapa? Karena, bisa memengaruhi kesehatan perokok aktif ataupun pasif. Selain itu, merokok menjadikan pelakunya hidup boros. Jadi, jangan kaget jika merokok muncul sebagai sebuah life style.

 

Dengan dalih apa pun, faktanya rokok mudah dijangkau remaja. Hal ini sebagai bukti lemahnya negara dalam pengawasan. Masa remaja adalah salah satu masa pada generasi yang wajib diwaspadai. Karena, generasi adalah pemegang estafet peradaban. Jika melalui sistem pendidikan Islam, maka generasi akan diajarkan bagaimana mempunyai pola pikir dan pola sikap yang sesuai Islam. Sehingga, melahirkan generasi yang mempunyai kesadaran bahwa tujuan diciptakan manusia adalah untuk beribadah dan akan dimintai pertanggungjawabannya kelak, bukan untuk eksistensi diri. Dalam benak mereka harus punya prinsip dan keinginan besar untuk bangkit menjadi generasi yang beriman, bukan generasi yang rusak dan merusak. Wallahualam bissawab.

 

Oleh: Dwi R. Djohan,

Sahabat Tinta Media

Views: 39

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA