Bullying Menyebabkan Gangguan Mental

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Informasi yang dihimpun kepolisian menyebutkan bahwa terduga pelaku ledakan di SMA 72 Kelapa Gading, Jakarta Utara, diduga merupakan korban bullying. “Informasi yang diterima dan ditemukan harus didalami oleh penyidik agar tidak simpang siur,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Budi Hermanto, saat dikonfirmasi Jumat (7/11). Budi menegaskan bahwa penyelidikan masih terus berjalan, sementara pemeriksaan saksi belum dapat dilakukan karena masih dalam penanganan medis. (cnnindonesia.com, 08/11/2025)

 

Seorang siswa, Ilham (nama samaran), menyatakan bahwa terduga pelaku memang kerap menjadi korban bullying. “Benar, dia seperti tidak kuat mentalnya,” ujar Ilham beberapa jam setelah kejadian. Menurutnya, siswa kelas 12 itu cenderung menyendiri dan memiliki minat menggambar hal-hal bernuansa ekstremisme seperti teroris, Amerika Serikat, serta gemar menonton video perang dan tembak-menembak, berdasarkan cerita teman-teman sekelasnya.

 

Fakta bahwa korban bullying bisa melakukan tindakan berbahaya sudah tampak di berbagai daerah. Seorang santri membakar asrama karena sakit hati menjadi korban perundungan. Di tempat lain, seorang siswa nekat membuat ledakan di sekolah karena mengalami tekanan sosial akibat ejekan, pelecehan, dan pengucilan. Fenomena ini menunjukkan bahwa bullying telah menjadi masalah sistemis dalam pendidikan dan sosial kita. Media sosial turut memperparah keadaan, bahkan menjadikan bullying sebagai candaan. Generasi pun mengalami krisis adab hingga korban mencari pelampiasan melalui tindakan yang membahayakan nyawa.

 

Bullying kini menjadi musuh besar dunia pendidikan. Salah satu akar persoalannya adalah penerapan sistem pendidikan sekuler yang berorientasi materi tanpa menjadikan akidah Islam sebagai landasan pembentukan karakter. Akibatnya, banyak remaja tumbuh dengan keimanan lemah dan mental yang rapuh.

 

Dalam Islam, negara wajib bertanggung jawab penuh terhadap pendidikan dan penjagaan generasi—agar mereka tumbuh cerdas, kuat mental, berakhlak, dan beradab. Pendidikan Islam bertujuan membentuk kepribadian Islam melalui pembinaan intensif yang menyentuh pola pikir dan pola sikap siswa. Kurikulum tidak hanya menekankan materi, tetapi juga nilai maknawi dan ruhiyah, serta menjadikan adab sebagai dasar utama.

 

Negara Islam (Khilafah) berkewajiban hadir sebagai penjamin pendidikan, pembina moral masyarakat, dan pelindung generasi dari kezaliman sosial. Penerapan Islam secara kafah akan melahirkan individu bertakwa, kontrol sosial yang kuat, dan peran negara yang nyata dalam menjaga rakyat. Dengan demikian, hanya melalui keberadaan Khilafah generasi Islam dapat terselamatkan dari berbagai kerusakan, termasuk bahaya bullying. Wallahualam bissawab.

 

Oleh: Bu Atep,

Sahabat Tinta Media

Loading

Views: 33

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA