Tinta Media – Di tengah derasnya arus digitalisasi, Indonesia mengalami tragedi sunyi yang tak banyak dipahami akar persoalannya: kerusakan mental generasi akibat dominasi kapitalisme digital. Teknologi yang semestinya menjadi sarana kemaslahatan, justru berubah menjadi arena eksploitasi kesadaran dan penghancuran jati diri. Semua ini bukan kebetulan, melainkan konsekuensi logis dari ideologi kapitalisme yang menjadikan manusia bukan lagi subjek mulia, tetapi sekadar komoditas pasar yang bisa diperjualbelikan.
Kapitalisme digital hadir bukan sebagai alat netral, tetapi sebagai mesin hegemonik yang mengendalikan opini, selera, dan pola hidup. Media sosial menjadi pasar raksasa bagi perdagangan perhatian manusia (attention economy). Platform digital berlomba merebut detik demi detik waktu manusia, bukan untuk meningkatkan kualitas hidup mereka, tetapi untuk mengerek keuntungan para pemilik modal global. Generasi muda pun tenggelam dalam kecanduan layar, konten dangkal, narsisme digital, dan krisis identitas kronis.
Fenomena ini menyingkap kenyataan bahwa kapitalisme—baik bentuk konvensional maupun digital—bukan saja gagal menjaga martabat manusia, tetapi juga melahirkan generasi yang rapuh mental, teralienasi dari fitrahnya, dan jauh dari tujuan hidup sejati sebagai hamba Allah.
Kapitalisme Digital dan Keruntuhan Mental Generasi
Pertama, kapitalisme digital menciptakan budaya instan yang memutus kemampuan generasi untuk bersabar, bertahan, dan mengolah pikiran secara mendalam. Algoritma yang mengejar sensasi membuat otak terbiasa mencari kepuasan cepat; mirip kecanduan zat adiktif. Ketekunan, proses bertahap, dan kerja keras—nilai dasar pembentuk karakter unggul—digantikan dengan keinginan instan yang dangkal.
Kedua, muncul krisis identitas dan harga diri. Generasi muda mulai menilai dirinya melalui parameter kapitalistik: popularitas digital, estetika semu, tren konsumtif, dan citra visual. Kehidupan dilihat melalui kacamata rating sosial, bukan makna. Yang terjadi, lahirlah generasi yang penuh kecemasan, rendah diri, dan merasa gagal hanya karena hidupnya tak seindah ilusi digital yang mereka saksikan setiap hari.
Ketiga, kapitalisme digital memperluas akses pada konten destruktif—pergaulan bebas, pornografi, kekerasan, dan hedonisme—karena algoritma hanya mengenal satu nilai: profit. Selama menghasilkan klik, tonton, dan share, sekalipun merusak akhlak, ia akan tetap dipromosikan. Sistem kapitalisme tidak mampu menutup pintu kerusakan ini, sebab mereka sendiri tunduk kepada logika pasar dan kepentingan pemodal global.
Keempat, tumbuh generasi apatis. Mereka terperangkap dalam lingkaran hiburan tanpa henti, terputus dari persoalan umat, buta terhadap penindasan ekonomi, dan bingung membaca arah kehidupan. Generasi yang seharusnya menjadi pembawa perubahan malah tenggelam dalam dunia maya yang direkayasa algoritma kapitalis—dunia yang menjauhkan mereka dari realitas umat.
Akar Masalah
Kerusakan ini bukan masalah teknis digital, bukan pula sekadar kesalahan pengguna. Akar persoalannya adalah ideologi kapitalisme sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan, memuja kebebasan tanpa batas, dan menjadikan keuntungan sebagai standar benar-salah.
Selama manusia diposisikan sebagai alat produksi dan objek konsumsi, selama itu pula mereka takkan pernah meraih kemuliaan. Kapitalisme digital hanyalah wajah baru dari peradaban rapuh yang gagal memberi makna hidup dan gagal menjaga akhlak manusia.
Inilah sebabnya problem generasi tidak bisa diselesaikan dengan kampanye moral, imbauan etika, atau edukasi teknologi semata. Ia membutuhkan solusi ideologis yang menyeluruh.
Solusi Peradaban yang Menyelamatkan Generasi
Islam kafah datang bukan sekadar sebagai agama ritual, tetapi sebagai sistem hidup yang menyelesaikan masalah manusia dari akar ideologisnya. Islam menawarkan paradigma yang menempatkan manusia sebagai makhluk mulia yang wajib dijaga akal, akhlak, dan jati dirinya.
1. Teknologi diatur berdasarkan _maqashid syariah_. Berbeda dengan kapitalisme yang menuhankan profit, Islam menundukkan teknologi di bawah _syariah_. Negara dalam sistem Islam memastikan inovasi berkembang, namun tetap berada dalam koridor penjagaan agama, akhlak, dan akal. Platform digital yang terbukti merusak moral tidak diberi ruang; bukan atas dasar sensor sempit, tetapi atas dasar penjagaan hakiki terhadap umat.
2. Pendidikan Islam membangun kepribadian Islam. Islam membentuk pola pikir dan pola sikap generasi berdasarkan akidah Islam. Kurikulumnya membangun kesadaran tentang tujuan hidup, tanggung jawab sebagai hamba dan khalifah, serta pentingnya akhlak yang kukuh. Dengan landasan ini, generasi tak mudah terseret arus algoritma kapitalisme.
3. Media berfungsi sebagai penjaga kesadaran umat. Dalam sistem Islam, media tidak boleh menjadi alat propaganda pemilik modal. Ia wajib menyebarkan kebenaran, membangun opini sehat, dan menanamkan nilai Islam. Tidak ada tempat bagi konten maksiat, pornografi, atau hedonisme. Media menjadi sarana dakwah dan pencerahan, bukan instrumen pengaburan realitas.
4. Negara melindungi umat dari serangan ideologis. Sistem Islam menjaga umat dari infiltrasi pemikiran kufur yang merusak akidah dan akhlak. Pengawasan ideologis ini bukan bentuk pengekangan kreativitas, tetapi proteksi terhadap pondasi peradaban. Tanpa perlindungan ideologi, generasi akan terus menjadi korban hegemoni kapitalisme global.
Saatnya Kembali kepada Islam Kafah
Kapitalisme digital telah terbukti menjadi mesin penghancur mental generasi. Selama teknologi berada di bawah kendali ideologi sekuler-liberal, selama itu pula umat akan terus dirusak dari akarnya.
Islam kafah menawarkan jalan keluar peradaban yang paripurna: sistem yang menjaga akal dan akhlak, menuntun teknologi kepada kebaikan, dan membentuk generasi tangguh yang berpegang pada kebenaran.
Kini umat dihadapkan pada pilihan besar: terus membiarkan generasi dihanyutkan arus kapitalisme digital atau bangkit memperjuangkan tegaknya kembali peradaban Islam yang akan menyelamatkan umat dan dunia. Wallahualam bissawab.
Oleh: Imma Kurniati
Pejuang Dakwah
![]()
Views: 49
















