Pidato Prabowo di PBB: Solusi Dua Negara atau Normalisasi Penjajahan?

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Beberapa waktu lalu, pada Sidang Umum ke-80 PBB di New York, Ahad (28/9), Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pidato terkait krisis kemanusiaan di Gaza. Ia mengecam segala bentuk kekerasan terhadap warga sipil tak berdosa. Namun, sangat disayangkan, dalam pidatonya tidak disebutkan secara tegas siapa pelaku genosida tersebut — yang jelas adalah Israel.

Lebih mengejutkan lagi, Prabowo menyatakan bahwa Indonesia siap mengakui keberadaan Israel. Ia mendukung penyelesaian konflik melalui solusi dua negara sebagai cara untuk menjamin kemerdekaan Palestina. Bahkan, ia menambahkan bahwa jika Israel mengakui kemerdekaan Palestina, maka Indonesia pun akan mengakui Israel. Lebih dari itu, ia menyerukan agar semua pihak menghormati dan menjamin keamanan Israel — sebagai syarat terciptanya perdamaian. Pernyataan ini disampaikan melalui kanal YouTube Sekretariat Kabinet pada Kamis (25/9/2025).

Pernyataan tersebut mengejutkan, terutama karena datang dari pemimpin negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia. Apakah beliau tidak memahami sejarah Palestina dan Yahudi? Apakah ada kepentingan politik di balik pernyataan tersebut? Jika kita menelisik sejarah keberadaan Yahudi di Palestina, darah bisa mendidih karena marah. Betapa kejamnya Israel sebagai penjajah yang merampas hak-hak warga Palestina. Padahal, Pembukaan UUD 1945 menegaskan bahwa penjajahan di atas dunia harus dihapuskan. Pernyataan Prabowo ini tidak mencerminkan sikap seorang negarawan—yang seharusnya tidak menghormati negara penjajah, apalagi menjamin keamanannya. Sementara itu, Israel terus memperlakukan warga Palestina dengan sangat kejam dan tidak manusiawi.

Dalam sejarah Islam, kita mengenal kisah seorang budak wanita dari wilayah Amuriyah yang dilecehkan oleh tentara Romawi. Demi menjaga kehormatannya, Khalifah saat itu memerintahkan panglimanya mengerahkan ribuan tentara menyerang Romawi hingga mereka menyerah. Hanya untuk membela satu budak — negara besar seperti Romawi diluluhlantakkan. Ini menunjukkan betapa pentingnya kehormatan seorang Muslimah di mata pemimpin Islam.

Namun hari ini, bukan hanya satu, melainkan ribuan Muslimah mengalami pelecehan, penyiksaan, bahkan pembunuhan. Lebih menyakitkan lagi, semua itu terjadi di wilayah mayoritas Muslim. Apa yang sebenarnya terjadi dengan umat Islam saat ini?

Dalam sistem Islam, kehormatan seorang Muslim hanya bisa dijaga melalui jihad fi sabilillah, bukan melalui solusi dua negara yang pada akhirnya hanya menjadi jalan kompromi dan keuntungan bagi Israel.

Apakah dengan solusi dua negara tanah Palestina akan kembali? Ataukah justru akan menambah penderitaan warga Palestina yang tidak pernah benar-benar merdeka? Sampai kapan umat Islam akan terus menjadi objek kebengisan kaum penjajah, sementara para pemimpin Muslim justru menawarkan solusi yang menguntungkan pihak penindas?

Solusi hakiki untuk membebaskan Palestina dan mengembalikan kehormatan rakyatnya hanyalah dengan ditegakkannya Khilafah Islamiah. Khilafah adalah satu-satunya sistem yang mampu menjadi perisai bagi umat Islam, khususnya warga Palestina. Sejarah telah membuktikan bahwa Khilafah mampu meruntuhkan kesombongan musuh-musuh Islam — sekuat apa pun mereka. Dengan sistem yang benar, pertolongan Allah pasti datang. Wallahualam bissawab.

 

Oleh: Suparti,

Sahabat Tinta Media

Loading

Views: 78

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA