Perundungan Makin Tragis dalam Jerat Kapitalis

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Kasus bullying (perundungan) di dunia pendidikan kian hari kian mengerikan—tumbuh bak jamur di musim hujan. Pada Jumat, 7 November 2025, publik dikejutkan oleh ledakan bom rakitan di SMAN 72 Jakarta. Pelakunya—seorang siswa sekolah tersebut—mengaku ingin membalas dendam terhadap temannya yang telah melakukan perundungan. Ia merasa terasing, kesepian, dan tidak memiliki ruang aman untuk mendapatkan dukungan sosial.

Peristiwa serupa terjadi di Pondok Pesantren Babul Maghfiroh, Kabupaten Aceh Besar. Seorang santri membakar pondoknya sendiri, dan dugaan kuat menunjukkan bahwa ia merupakan korban perundungan yang tak tertangani. Dua kasus ini hanyalah sedikit dari gelombang panjang perundungan yang tak terhitung jumlahnya di negeri ini. Dampaknya pun semakin mengerikan: mulai dari luka fisik, trauma mendalam, kerusakan mental, hingga tindakan ekstrem seperti pembakaran fasilitas pendidikan atau aksi yang membahayakan nyawa.

Fenomena ini jelas bukan sekadar “fase remaja”. Jika kasus perundungan muncul di berbagai tempat, lintas jenjang, dan menjadi pola berulang, berarti ada masalah yang jauh lebih besar: kerusakan sistemis dalam pendidikan nasional.

Pendidikan Kapitalis: Nilai Tinggi, Jiwa Kosong

Sistem pendidikan saat ini dibangun di atas standar angka—nilai rapor, ranking, sertifikat—sementara pembangunan jiwa, moral, dan kepribadian nyaris tidak mendapat porsi berarti. Nilai akademik dipuja, sementara adab dan akhlak dikesampingkan. Sekularisme—pemisahan agama dari kehidupan—menjadi fondasi pendidikan modern, menjadikannya kering dari tuntunan spiritual dan nilai-nilai luhur.

Maka, lahirlah generasi yang mungkin cerdas secara intelektual, tetapi rapuh secara emosional dan miskin empati. Tak mengherankan bila sebagian dari mereka dapat melakukan kekerasan kejam, bahkan kriminal, untuk mengekspresikan tekanan yang tidak mereka pahami.

Fondasi Pendidikan dalam Islam

Berbeda dengan sistem sekuler kapitalistik, Islam memiliki konsep pendidikan yang menyeluruh. Pendidikan Islam dibangun di atas fondasi akidah, dengan tujuan bukan sekadar menghasilkan siswa berpengetahuan agama, tetapi membentuk manusia yang menerapkan aturan Islam dalam kehidupan.

Visi pendidikan Islam adalah membentuk kepribadian Islam, yakni perpaduan antara pola pikir Islam (akliah islamiah) dan pola sikap Islam (nafsiah islamiah). Keduanya menjadikan seorang muslim mampu memahami realitas dengan kacamata syariat, sekaligus bersikap sesuai tuntunan Allah dan Rasul-Nya.

Inilah yang membuat generasi muslim pada masa kejayaan peradaban bukan hanya kuat dalam teori, tetapi juga konsisten dalam praktik. Ilmu tidak menjadi sekadar hafalan atau alat mengejar status, melainkan sarana beribadah dan menegakkan kemaslahatan.

Ketika Pendidikan Berorientasi Materi, Nilai Mulai Mati

Sementara itu, pendidikan sekuler kapitalistik menanamkan tujuan yang dangkal: menempuh pendidikan demi pekerjaan bergaji besar dan karier mapan. Misi untuk mengangkat kebodohan, mendidik masyarakat, atau membangun karakter mulia, terkikis oleh orientasi materiel semata.

Akibatnya, aspek adab, akhlak, dan pembentukan kepribadian Islam nyaris tidak memiliki tempat. Dari sinilah malapetaka moral bermula—termasuk merebaknya perundungan yang kini memakan korban demi korban.

Saatnya Kembali pada Sistem Islam

Sudah saatnya umat muslim merenung dan meninjau ulang sistem pendidikan yang selama ini dijalani. Islam telah mengatur semuanya dengan sempurna—termasuk bagaimana membangun generasi yang berilmu, beradab, dan berkepribadian kuat.

Pendidikan berbasis akidah Islam harus menempatkan pembentukan pola pikir dan pola sikap Islam sebagai tujuan utama. Dari sinilah akan lahir generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara spiritual, berakhlak mulia, dan tidak mudah terseret arus kekerasan atau perundungan.

Jika sistem pendidikan kembali berpijak pada nilai-nilai Islam, maka insyaallah akan lahir generasi yang lebih berempati, lebih beradab, lebih kuat secara karakter, dan jauh dari tragedi perundungan. Wallahualam bissawab.

 

Oleh: Verdina Parasmita,

Pemerhati Ibu dan Generasi

Loading

Views: 39

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA