Tinta Media – Pernyataan Menteri Agama, Nasaruddin, bahwa Kemenag akan merayakan Natal bersama untuk pertama kalinya sejak Indonesia merdeka menimbulkan keprihatinan. Langkah ini merupakan bentuk sinkretisme, yaitu upaya meleburkan unsur-unsur dari berbagai agama atau keyakinan. Dengan dalih toleransi dan pluralisme, akidah umat justru dipertaruhkan. Agama perlahan bergeser dari keyakinan yang kukuh menjadi sekadar identitas. Padahal dalam Islam, satu-satunya agama yang diridai Allah hanyalah Islam.
Sinkretisme mendorong umat untuk tidak fanatik terhadap agamanya sendiri. Akibatnya, ketika ada ajaran Islam yang tidak sejalan dengan nilai pluralisme, ajaran itu mudah ditinggalkan. Contohnya, konsep Islam kafah dianggap tidak sesuai dengan semangat kebersamaan, sedangkan demokrasi justru dipandang sebagai sistem terbaik. Padahal, Allah memerintahkan kita untuk berislam secara menyeluruh, bukan mengambil sebagian dan meninggalkan sebagian lainnya.
Toleransi dalam Islam sangat jelas batasnya: tidak boleh mencampuradukkan keyakinan. Allah Swt. berfirman, “Untukmu agamamu, dan untukku agamaku.” (QS. Al-Kafirun: 6). Islam tidak memaksa seseorang untuk masuk agama ini. Kebenaran disampaikan melalui dakwah yang hikmah agar mereka memahami dan menerima Islam atas dasar kesadaran, bukan tekanan. Jika ada kemauan untuk mendengar dan berpikir, insyaallah hidayah akan datang.
Islam juga melarang kita menghina sesembahan agama lain. Namun, larangan itu bukan berarti kita mengakui kebenaran ajaran mereka dengan mengucapkan selamat hari raya atau ikut merayakannya. Dalam kehidupan sosial kita harus saling menghormati, tetapi tetap memiliki prinsip akidah bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang diridai Allah.
Toleransi dalam Islam sungguh indah karena tidak menuntut pengorbanan akidah. Kita harus jelas membedakan yang hak dan batil, tanpa mencampurnya. Islam bukan hanya mengatur akhlak, tetapi juga memberikan pedoman hidup yang menyeluruh. Ketika Islam diambil secara kafah dan diterapkan dalam kehidupan, ia akan membawa kebaikan bagi seluruh manusia.
Realitas hari ini menunjukkan betapa banyak masalah muncul karena Islam tidak diterapkan secara sempurna. Hukum buatan manusia lebih dipilih dan akhirnya berpihak pada penguasa serta oligarki. Bencana di Sumatra pun menjadi bukti ketika hukum dibuat sesuai kepentingan manusia, bukan aturan Allah. Karena itu, sudah saatnya kita kembali kepada sistem Khilafah yang menerapkan Islam secara kafah sebagai solusi perubahan hakiki menuju kehidupan yang lebih baik.
Pergantian rezim ternyata tidak membawa perbaikan, bahkan semakin memburuk. Korupsi merajalela; pengakuan para narapidana kasus korupsi menunjukkan bahwa 99% pejabat terlibat praktik tersebut, sementara rakyat dibebani pajak berat. Sumber daya alam yang seharusnya untuk kesejahteraan rakyat justru diserahkan kepada swasta dan asing. Hukum pun berubah menjadi alat penguasa. Inilah kondisi ketika Islam tidak diberi ruang mengatur kehidupan dengan alasan pluralisme dan kebersamaan. Wallahualam bissawab.
Oleh: Mochamad Efendi,
Sahabat Tinta Media
Views: 43












