Gen Z dan Media Sosial: Antara Ekspresi Diri dan Krisis Nilai

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Generasi Z (Gen Z) adalah generasi yang tumbuh dan berkembang bersama media sosial. Bagi mereka, Instagram, TikTok, dan berbagai platform digital lainnya bukan sekadar sarana hiburan, melainkan ruang untuk berekspresi, membangun identitas, mencari validasi, hingga membentuk pola pikir. Namun, perlu disadari bahwa media sosial bukanlah ruang yang netral. Ia mampu membentuk perilaku, cara pandang, bahkan nilai hidup penggunanya, terutama Gen Z yang masih berada dalam fase pencarian jati diri.

Aktivitas Gen Z di media sosial kerap lekat dengan pencitraan diri. Apa yang diunggah, ditonton, dan dibagikan sering menjadi representasi “siapa aku” di mata publik. Like, views, dan komentar perlahan berubah menjadi ukuran keberhargaan diri. Tanpa disadari, algoritma mendorong Gen Z untuk terus menampilkan versi diri sesuai “standar manusia”, bukan versi diri yang autentik dan jujur.

Dalam Islam, identitas dan kemuliaan manusia tidak diukur dari pengakuan sesama, melainkan dari ketakwaannya. Allah Swt. berfirman dalam Surah Al-Hujurat ayat 13 bahwa manusia yang paling mulia di sisi-Nya adalah yang paling bertakwa, bukan yang paling populer. Ketika media sosial dijadikan tolok ukur nilai diri, di situlah potensi krisis identitas mulai muncul.

Gen Z juga hidup di tengah arus tren yang bergerak sangat cepat. Apa yang viral hari ini bisa terlupakan esok hari. Algoritma media sosial cenderung mendorong konten sensasional, emosional, dan sering kali dangkal. Akibatnya, banyak Gen Z merasa harus selalu mengikuti tren, takut tertinggal, serta terjebak dalam budaya membandingkan diri dengan orang lain.

Islam mengingatkan bahaya ghaflah (kelalaian), yaitu kondisi ketika manusia terlalu sibuk dengan urusan dunia hingga melupakan tujuan hidupnya. Kebiasaan scroll tanpa henti, mengikuti tren tanpa refleksi, serta mengonsumsi konten tanpa saringan dapat menjauhkan seseorang dari kesadaran spiritual dan ketenangan batin.

Media sosial memang memberikan kebebasan berekspresi bagi Gen Z. Namun, kebebasan tersebut sering kali tidak dibarengi dengan kesadaran etika. Konten hujatan, flexing berlebihan, normalisasi perilaku negatif, hingga budaya pamer kerap dianggap lumrah.

Padahal, dalam Islam setiap perkataan dan perbuatan akan dimintai pertanggungjawaban. Lisan dan tulisan—termasuk _caption_, komentar, dan unggahan di media sosial—bukanlah hal sepele. Islam mengajarkan prinsip berkata baik atau diam, serta mendorong umatnya untuk menyebarkan kebaikan, bukan sekadar mengejar popularitas.

Meski sarat tantangan, media sosial juga menyimpan potensi besar bagi Gen Z. Banyak anak muda yang memanfaatkannya untuk berbagi edukasi, konten reflektif, dakwah ringan, hingga kepedulian terhadap isu kemanusiaan. Di sinilah media sosial dapat bertransformasi dari sumber distraksi menjadi ladang pahala. Islam tidak menolak teknologi, tetapi menekankan niat yang lurus dan cara penggunaan yang benar. Wallahualam bissawab.

Oleh: Jasmine Fahira Adelia
Anggota Komunitas Muslimah Menulis (KMM) Depok

Loading

Views: 37

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA