Tinta Media – Di tengah gemuruh notifikasi dan kilatan layar yang nyaris tak pernah padam, generasi muda hari ini tumbuh dalam dunia yang serba cepat, tetapi kerap dangkal. Jempol bergerak lebih lincah daripada nalar, dan waktu lebih banyak habis untuk menggulir layar ketimbang menggulir gagasan. Berbagai data dan kajian mutakhir menunjukkan penurunan kemampuan berpikir kritis serta fungsi kognitif pada generasi muda—khususnya Gen Z—akibat konsumsi konten digital yang berlebihan.
Fenomena ini populer disebut brain rot, istilah yang terdengar jenaka, tetapi sejatinya getir: pembusukan kognitif ketika pikiran kehilangan daya tahan untuk merenung, menganalisis, dan menimbang kebenaran secara mendalam. Namun, kondisi ini bukanlah musibah yang jatuh dari langit. Kedangkalan berpikir generasi digital merupakan hasil dari desain sistematis algoritma yang beroperasi di bawah logika kapitalisme sekuler. Algoritma tidak dirancang untuk membentuk manusia yang berpikir, melainkan konsumen yang terus bertahan di layar. Kecepatan dikultuskan di atas ketepatan, viralitas dimenangkan atas kebenaran, dan hiburan dipuja lebih tinggi daripada tsaqafah Islam yang membangun peradaban. Dalam ekosistem semacam ini, pikiran dipaksa berlari tanpa pernah benar-benar memahami arah.
Akibatnya, generasi muda direduksi menjadi objek pasar: sasaran iklan, statistik interaksi, dan komoditas data. Mereka jarang diberi ruang untuk tumbuh sebagai subjek peradaban—manusia yang sadar akan peran, tanggung jawab, dan misi hidupnya. Gagasan besar ditenggelamkan oleh konten singkat, sementara pertanyaan mendalam kalah oleh sensasi instan. Jika kondisi ini dibiarkan, generasi akan tumbuh tanpa kepemimpinan berpikir, dan peradaban berisiko kehilangan nahkoda.
Di titik inilah diperlukan keberanian untuk berhenti sejenak dari arus viralitas—keberanian mematikan layar demi menyalakan akal. Rekonstruksi tsaqafah tidak mungkin lahir dari pikiran yang terus-menerus disuapi hiburan potongan. Ia menuntut kesadaran, kesabaran, serta keteguhan untuk kembali pada proses berpikir yang mendalam dan terarah. Generasi muda perlu diajak memahami bahwa berpikir adalah ibadah, dan ilmu merupakan jalan pembebasan.
Islam pada hakikatnya tidak pernah memusuhi teknologi. Sejarah mencatat bagaimana peradaban Islam justru menjadi pelopor dalam sains, literasi, dan pemikiran. Namun, Islam menempatkan teknologi di bawah kendali syariat, bukan sebaliknya. Perangkat digital seharusnya menjadi sarana untuk memperjuangkan kemaslahatan umat, menyebarkan kebenaran, dan menguatkan dakwah—bukan rantai yang membelenggu akal. Karena itu, generasi muda harus dididik untuk mengendalikan teknologi, bukan dikendalikan olehnya.
Upaya ini menuntut pembinaan literasi ideologis yang sistematis dan berkesinambungan. Keluarga menjadi madrasah pertama dalam menanamkan adab berpikir. Sekolah harus melampaui fungsi administratif dan kembali menjadi ruang pembentukan kepribadian. Masyarakat berperan menjaga iklim intelektual yang sehat. Namun, seluruh ikhtiar ini akan mencapai efektivitas tertingginya ketika negara hadir dengan aturan dan kekuasaan yang mendukung pembinaan generasi secara ideologis.
Lebih dari sekadar kebangkitan berpikir, generasi ini membutuhkan arah ide yang sahih. Pembinaan tersebut harus digerakkan oleh partai politik Islam ideologis yang memahami bahwa perubahan hakiki tidak lahir dari kesadaran individual semata, melainkan dari perjuangan kolektif yang terorganisir. Kebangkitan Islam bukan hanya soal kecerdasan intelektual, tetapi juga keteguhan ideologis. Di sanalah kepemimpinan berpikir generasi digital menemukan maknanya—sebagai pelopor kebangkitan, bukan korban zaman. Wallahualam bissawab.
Oleh: Basundari,
Sahabat Tinta Media
![]()
Views: 40
















