Tinta Media – Kepala Seksi PAI dan Kepala KUA menghadiri Selawat Kebangsaan HAB ke-80 Kemenag di Ciamis. Dikatakan kegiatan tersebut memiliki relevansi yang kuat dengan penguatan pendidikan agama, khususnya dalam pembentukan karakter peserta didik. Menurutnya, pesan-pesan religius yang disampaikan melalui selawat dan tausiah dapat menjadi inspirasi dalam menanamkan nilai moderasi beragama, toleransi, dan cinta tanah air sejak jenjang pendidikan dasar (jabar.kemenag, 09/01/2026).
Menelusuri Masalah
Jika kita telusuri akar masalahnya, setidaknya ada tiga hal berikut:
Pertama, moderasi sejatinya adalah bentuk implementasi ide moderasi beragama sebagai proyek gagasan Barat dalam mengendalikan umat Islam, khususnya dalam hal akidah dan sistem politiknya. Moderasi beragama menjadikan Islam seperti yang dikehendaki ideologi sekularisme. Agama tidak boleh mengatur kehidupan. Aturan hanya sebatas ritual dan kebutuhan pribadi, bukan kebutuhan bermasyarakat dan bernegara.
Kedua, Barat menginginkan penganut Islam yang menerima nilai-nilai sekularisme dan pluralisme sebagai paham yang diyakini oleh umat Islam dengan mengatasnamakan sikap toleransi. Tidak boleh ada satu pun yang mengklaim agamanya satu-satunya yang benar. Padahal Allah Swt., Sang Pencipta manusia, dunia, dan seisinya, berfirman, “Al-yauma akmaltu lakum dīnakum wa atmamtu ‘alaikum ni‘matī wa raḍītu lakumul-islāma dīnā.”
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridai Islam itu menjadi agama bagimu.” (QS Al-Ma’idah: 3)
Ketiga, target utama dari proyek ini adalah menghambat dan menjauhkan dakwah Islam kafah di sekolah-sekolah. Sekolah adalah tempat strategis bagi generasi masa depan dalam memperjuangkan penerapan Islam pada seluruh aspek kehidupan berbangsa dan bernegara.
Ketiga hal ini jelas menjadikan moderasi hanyalah untuk melancarkan proyek strategis yang dilandasi oleh ideologi sekularisme kapitalisme untuk menjauhkan identitas generasi Muslim kafah, menjadi generasi sekuler liberal berbaju Islam.
Waspada Generasi Terpapar Moderasi
Arus masif agenda sekularisme bertujuan untuk menjadikan generasi Muslim terbesar di negeri ini menjadi sosok Islam moderat yang tidak berislam secara kafah. Bahkan, menjadi generasi yang jauh dari Islam ideologis dan syariat-syariatnya. Karena, sejatinya Islam moderat tidak berasal dari Islam, tetapi by design Barat.
Sebenarnya Allah Swt. telah mengajarkan toleransi dalam kehidupan Islam dalam naungan Khilafah. Warga negara Muslim dan nonmuslim hidup berdampingan di tengah masyarakat. Nikah, talak, rujuk, waris, makan minum warga negara nonmuslim bebas sesuai aturan agamanya masing-masing. Sedangkan masalah publik, misalnya sistem pemerintahan, ekonomi, politik, dan peradilan, semuanya tunduk patuh pada hukum Islam. Semuanya hidup rukun, aman, dan tenteram selama hampir 14 abad lamanya. Itulah toleransi yang riil.
Kita berharap generasi beridentitas Islam kafah terus berkembang menjadi generasi pembangun peradaban Islam.
Barat sebagai biang sekularisme demokrasi mendesain agenda moderasi beragama agar generasi Muslim ke depan menjadi Islam moderat sesuai keinginan dan kepentingan mereka. Mereka melakukan segala upaya di negeri-negeri kaum Muslimin untuk menggencarkan agendanya, khususnya di lembaga-lembaga pendidikan kita.
Penancapan Ideologi Sekularisme-Liberalisme
Dengan jubah agenda religius ini, sejatinya Barat sedang menyusupkan ide-ide berbahaya yang permisif terhadap ide-ide di luar Islam, menancapkan ideologi sekularisme dan aturan liberalisme, khususnya dalam membentuk pola pikir dan pola sikap para pelajar yang notabene sebagai penerus bangsa.
Semoga hal ini menyadarkan kita semua untuk menyiapkan generasi penerus pemegang estafet kepemimpinan masa depan yang gemilang. Wallahualam bissawab.
Oleh: Septa Anitawati, S.I.P.,
Founder Sekolah Tahfizh Khoiru Ummah
![]()
Views: 28
















