Tinta Media – Tanggal 22 Desember 2025 diperingati sebagai Hari Ibu Nasional. Momen ini diramaikan dengan berbagai unggahan dan tagar Hari Ibu di beragam platform media sosial hingga menjadi trending topic. Peringatan tersebut kerap dimaknai sebagai bentuk apresiasi atas perjuangan dan peran besar seorang ibu dalam menopang kehidupan keluarga.
Namun, jika seluruh peran ibu dijabarkan, tentu tulisan ini akan menjadi sangat panjang. Peran seorang ibu tidak dibatasi oleh waktu maupun materi. Setiap keputusan dan langkahnya berpengaruh besar terhadap masa depan generasi berikutnya. Dengan tanggung jawab yang begitu besar, rasanya apresiasi kepada ibu tidak cukup hanya diwujudkan dalam konten ucapan terima kasih semata.
Ironisnya, kondisi para ibu saat ini justru memprihatinkan. Sistem kapitalisme memaksa ibu menjalankan peran mendidik dan membesarkan anak dalam keterbatasan. Di sisi lain, para ibu didorong—bahkan dieksploitasi—secara komersial agar mandiri dan berpenghasilan, sementara pengasuhan anak justru dialihkan kepada pihak lain. Padahal, dalam tatanan keluarga, kewajiban utama mencari nafkah berada di pundak ayah, bukan ibu.
Kondisi ini menimbulkan efek domino bagi generasi mendatang. Anak-anak yang tidak diasuh secara langsung oleh orang tuanya berisiko mengalami gangguan emosional, kecemasan, hingga masalah perilaku. Jika tidak ditangani, kondisi tersebut dapat berkembang menjadi kenakalan remaja dan bahkan tindak kriminal saat dewasa.
Sayangnya, pengasuhan langsung pun tidak selalu menjadi jaminan terbebas dari masalah. Pola asuh khas kapitalisme, seperti pemberian kebebasan tanpa batas, sering kali diklaim dapat mendorong kreativitas dan ekspresi anak. Namun, dalam praktiknya, pola ini kerap berubah menjadi pengasuhan permisif, di mana orang tua minim pengawasan dan akhirnya kehilangan kendali atas anak.
Hal ini menunjukkan bahwa konsep parenting dalam sistem kapitalisme belum mampu melahirkan generasi emas secara utuh. Alih-alih memperbaiki, sistem ini justru berpotensi merusak generasi, khususnya generasi muslim. Ketika Islam menempatkan ibu sebagai madrasah pertama bagi anak, kapitalisme justru merenggangkan ikatan fitrah antara ibu dan anak melalui kebijakan-kebijakan yang berorientasi material.
Sebaliknya, Islam memuliakan peran ibu dalam mencetak generasi cemerlang. Setiap fase perjuangan—mulai dari mengandung, melahirkan, mendidik, hingga membesarkan anak—bernilai ibadah dan diganjar pahala besar oleh Allah Swt. Balasannya bukan sekadar pujian atau viralitas di dunia maya, melainkan kemuliaan di dunia dan akhirat.
Ibu adalah pencetak generasi penerus peradaban. Setiap sosok hebat lahir dari seorang perempuan yang berperan sebagai ibu. Oleh karena itu, seorang ibu layak mendapatkan prioritas dan keistimewaan dalam membersamai tumbuh kembang anak-anaknya. Diperlukan sebuah sistem yang mampu menjaga fitrah ibu, memudahkan mereka mendidik anak tanpa dibebani persoalan hidup yang sejatinya bukan menjadi tanggung jawabnya.
Dalam sistem Islam, hak-hak ibu dilindungi secara syariat, bukan hanya dituntut kewajibannya. Para ibu dapat fokus mendidik generasi penerus peradaban Islam dengan limpahan kasih sayang. Anak-anak pun tumbuh dengan sikap hormat dan penuh adab kepada ibunya. Inilah bentuk sinergi keluarga yang berlandaskan akidah.
Apabila setiap keluarga mampu mewujudkan hal ini, maka pada tingkat negara pun kondisi masyarakat akan jauh lebih baik. Harapan untuk melahirkan generasi emas bukanlah angan belaka, melainkan tujuan yang sangat mungkin diraih. Wallahualam bissawab.
Oleh: Bunda Annisa,
Sahabat Tinta Media
![]()
Views: 53
















