Menolak Lupa, 3 Maret 1924

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Masih ingatkah kita? Sebuah peristiwa monumental. Peristiwa berdarah yang menyayat hati seluruh kaum muslimin, hancurnya sebuah institusi suci, yang menguasai 2/3 dunia dengan sistem pemerintahan Islam yakni Daulah Khilafah yang terakhir di Turki Utsmani di tangan Mustafa Kamal Pasya Laknatullah Alaih.

Masih ingatkah kita. Bahwa sejarah mencatat. Islam dan kaum muslimin pernah berada di puncak kejayaannya dengan peradaban yang gemilang.

Kala itu Daulah Islam memiliki kekuatan adidaya yang tak terkalahkan dalam seluruh dimensi kehidupan. Baik secara ekonomi, politik, pendidikan maupun militernya. Sehingga keberadaannya sangat disegani dunia.

Pada saat yang sama Eropa masih terkungkung oleh kegelapan masa Renaisans.

Sebuah kekuasaan dan kekuatan yang besar dan memiliki haibah (kewibawaan) di mata dunia lahir sejak Rasulullah saw. hijrah ke Madinah al-Munawwarah.

Setelah Rasulullah wafat, kemudian dilanjutkan oleh Khulafaur Rasyidin, Bani Umayyah, Abbasiyah hingga Utsmaniyah. Satu kepemimpinan satu aturan dan satu komando.

Kemudian Daulah Islam yang kokoh dan perkasa itu dihancurkan oleh Inggris melalui tangan kanannya yaitu Mustafa Kemal yang merupakan keturunan Yahudi dengan sistem sekularisme.

Ia dengan jumawa menutup madrasah-madrasah, melarang jilbab, mengganti azan dengan bahasa Turki dan mengusir Khalifah sebagai pemimpin kaum muslimin yang terakhir. Beliaulah Sultan Abdul Majid II.

Sejak saat itu, Turki dan negeri-negeri kaum muslimin secara keseluruhan berada dalam cengkeraman Barat dan jauh dari Islam.

Tidak cukup sampai di situ. Yang lebih mengerikan adalah kaum muslimin yang awalnya bersatu sejak saat itu terpecah-pecah menjadi 53 lebih negara kebangsaan.

Jelas, ini merupakan tujuan dan kemenangan bagi Kafir Barat. Dengan demikian mereka bisa leluasa mengeruk kekayaan, menguasai sumber daya alam atas nama kerjasama dan investasi.

Para pemimpin mereka di negeri-negeri Islam dengan bangga menjadi boneka dan budak Barat. Mereka tunduk dan patuh pada setiap aturan yang dibuat oleh penjajah.

Kemudian kaum muslimin yang kini menyadari akan bahaya racun sekuler ini, akhirnya berupaya, berjuang dan berdakwah untuk mengembalikan kejayaan Islam yang dulu pernah menguasai dunia. Sekaligus menjemput janji Allah SWT. dan kabar gembira dari Rasulullah.

Namun, sayangnya perjuangan itu tidaklah mulus. Para pejuangnya rentan dikriminalisasi. Orang-orang yang teguh dan konsisten menyadarkan umat dilabeli dengan istilah radikal, radikul, teroris, anti-Pancasila, dan lain-lain.

Pemahaman masyarakat dikerdilkan, dipersempit ruang geraknya. Islam ditafsirkan sebatas salat, zakat, puasa dan menunaikan ibadah haji. Islam diartikan sebatas ibadah ritual semata.

Sebagaimana pernyataan sosok orientalis Snouck Hurgronje: “Bila tidak dapat menjadikan Umat Islam meninggalkan Islam, maka yang penting bagaimana umat Islam tidak menerapkan syariat Islam. Wallahu a’lam.[]

Oleh: L. Nur Salamah, S.Pd.
Tim Redaksi Tinta Media

Loading

Views: 37

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA