Tinta Media – Kita butuh pemimpin yang mencintai dan dicintai rakyatnya. Setiap kebijakan dan keputusan yang diambil haruslah untuk kebaikan rakyat. Ia tidak takut kehilangan kekuasaan. Ia lebih takut kepada Tuhannya ketika ada rakyat yang menderita dalam kepemimpinannya. Namun, sulit menemukan pemimpin yang mencintai dan dicintai rakyat ketika kekuasaan menjadi tujuan utama.
Realitas saat ini menunjukkan banyak kebijakan atau aturan dibuat yang tidak berpihak pada rakyat. Saat rakyat menganggur dan tidak memiliki pekerjaan, negara tidak peduli. Namun, ketika rakyat sudah bekerja, negara meminta mereka membayar pajak penghasilan. Sementara itu, para pejabat yang seharusnya mengurusi rakyat justru hidup mewah dari pajak tersebut. Hasil pengelolaan sumber daya alam yang seharusnya untuk kemakmuran rakyat justru dinikmati oligarki dan dikorupsi oleh pejabat.
Negeri yang kaya dengan sumber daya alam seharusnya mampu menjamin kesejahteraan rakyat, bukan malah menumpuk utang luar negeri yang menjadi beban generasi mendatang. Negara macam apa ini? Rakyat tidak membutuhkan pemimpin yang hanya pandai pencitraan dan menghamburkan uang rakyat. Negara membutuhkan pemimpin yang amanah, peduli, dan memikirkan urusan rakyat dengan menghasilkan kebijakan yang berpihak kepada rakyat, bukan hanya menguntungkan oligarki.
Salah satu kejadian viral yang sangat menyayat hati menimpa seorang ibu penjual sayur. Ia berjualan di depan rumahnya sendiri, tetapi dilarang karena tidak memiliki izin dan dianggap melanggar ketertiban serta merusak pemandangan. Di tempat lain, seorang ibu marah-marah karena dilarang berjualan takjil, padahal hal itu dilakukan agar kebutuhan keluarganya tercukupi dengan layak. Ada pula seorang kakek yang berjualan ayam keliling juga dilarang oleh petugas yang seharusnya melindungi rakyat agar dapat merasa aman dalam mengais rezeki, bukan malah bertindak seperti preman berdasi. Aturan seharusnya dibuat untuk mempermudah, bukan mempersulit urusan rakyat.
Rakyat yang mampu merintis usahanya sendiri seharusnya diapresiasi dan dibantu agar usahanya cepat berkembang, bukan malah dihambat dengan alasan aturan. Negara seharusnya hadir dengan memberikan modal tanpa riba serta memberikan bimbingan agar usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) rakyat dapat berkembang pesat, bukan justru menghalangi usaha rakyat dengan berbagai aturan yang menyulitkan.
Saat rakyat kecil mengais rezeki agar dapat bertahan hidup dipersulit, bisnis oligarki yang mengeruk potensi kekayaan alam negeri ini justru dipermudah. Bahkan, mereka mendapatkan hak pengusahaan hutan (HPH) dari pemerintah sehingga bebas menebang hutan. Akibatnya, banyak terjadi bencana alam seperti banjir dan tanah longsor yang menelan korban rakyat yang tidak berdosa.
Aturan seharusnya dibuat untuk melindungi rakyat dan menjamin kesejahteraan mereka. Negara harus hadir agar rakyat mudah mendapatkan pekerjaan, seperti janji politik yang diucapkan saat menjelang pemilu, yakni menciptakan 19 juta lapangan pekerjaan. Namun, semua itu hanya menjadi omong-omong yang tidak pernah terwujud. Dengan pekerjaan yang layak, rakyat diharapkan mampu memenuhi kebutuhan hidup keluarganya dengan gizi yang cukup sehingga dapat menciptakan generasi emas di masa mendatang. Rakyat tidak perlu lagi mengemis untuk mendapatkan bantuan sosial, apalagi program makan siang gratis yang justru menjadi lahan korupsi bagi para pejabat.
Pemimpin yang amanah sangat sulit ditemukan pada zaman sekarang. Politik hanya dijadikan cara untuk meraih kekuasaan, bukan untuk mengurusi urusan rakyat. Para pemimpin pandai melakukan pencitraan dan blusukan untuk mengambil simpati, tetapi faktanya mereka sangat tega terhadap rakyat. Mereka gemar menebar janji politik yang pada akhirnya hanya untuk diingkari.
Sungguh, kita merindukan pemimpin yang amanah, yang hanya takut kepada Allah Swt., sehingga setiap kebijakan yang diambil benar-benar untuk kesejahteraan rakyat. Pemimpin yang peduli dan mencintai rakyatnya hanya dapat terwujud dalam sistem Islam yang menjadikan politik sebagai sarana untuk mengurusi urusan rakyat, bukan sekadar alat untuk meraih kekuasaan. Wallahualam bissawab.
Oleh: Mochamad Efendi
Sahabat Tinta Media
![]()
Views: 22
















