Tinta Media – Sistem Islam melahirkan para pemimpin yang dicintai oleh rakyatnya bukan dalam tekanan tapi atas dasar suka rela. Sebaliknya, dalam kapitalis demokrasi mereka dapat dukungan karena imbalan uang, jabatan atau ancaman kriminalisasi bukan dukungan tulus karena cinta.
Pemimpin dalam sistem kapitalisme demokrasi hanya melahirkan pemimpin yang zalim dan serakah atas harta dan kekuasaan. Menghalalkan segala cara untuk meraih tujuan, harta dan tahta. Pencitraan, terlihat baik di hadapan rakyat padahal menyimpan kebusukan agar mendapatkan simpati dan legitimasi. Politik dinasti untuk melanggengkan kekuasaan.
Kebijakan menyengsarakan rakyat diambil demi keuntungan kekuasaan. Korupsi meraja lela dibiarkan tumbuh subur. Para buzzer dipelihara dengan uang rakyat untuk membungkam rakyat yang kritis atas kebijakan yang menyengsarakan yang berpihak pada oligarki.
Hukum menjadi alat penguasa, tajam ke bawah tumpul ke atas. Pasal-pasal diubah untuk kepentingan penguasa. Keadilan hanya untuk mereka yang punya uang dan kekuasaan.
Masihkah kita pertahankan sistem yang melahirkan pemimpin zalim, rakus dan tamak. Mereka suka berbohong untuk menutupi tabiat aslinya dengan pencitraan
Pemimpin ideal yang hanya takut pada Allah ada dalam sistem Islam. Setiap kebijakan yang diambil sesuai dengan hukum syara’. Rakyat hidup sejahtera dan keadilan milik semua orang.
Dalam sebuah kisah Khalifah Umar bin Khattab yang mengangkat karung berisi gandum. Seorang pemimpin yang disegani, rela melakukan pekerjaan kasar seperti mengangkat karung untuk membantu seorang wanita yang sedang memasak batu karena tidak punya makanan untuk anak-anaknya. Dia melakukannya karena takut kepada Allah meskipun tidak melihat-Nya, tapi yakin Dia Maha Melihat dan Maha Tahu meskipun niat yang tersimpan dalam hati.
Sangat berbeda dengan pemimpin dalam sistem demokrasi kapitalis yang melakukan semua kebaikan hanya untuk kekuasaan. Berbohong menjadi hal biasa agar terkesan berhasil dalam kepemimpinannya, padahal faktanya sebaliknya.
Sungguh, kita rindu pemimpin yang beriman yang mencintai bukan menipu rakyatnya. Pemerintahan bersih, bebas dari korupsi, mencuri uang rakyat. Pemimpin yang mencintai dan dicintai rakyatnya.
Oleh: M. Efendi
Sahabat Tinta Media
Views: 35
















