Tinta Media – Perang Iran berdampak pada ketersediaan energi, terutama minyak yang menjadi sumber energi dunia. Panic buying pun melanda berbagai negara, tak terkecuali di tanah air. Perang Iran melawan Israel dan Amerika Serikat pun memicu lonjakan harga minyak dunia.
Panic Buying
Situasi yang kian memanas terus menggoyahkan kondisi politik dan ekonomi negara-negara dunia. Selat Hormuz yang menjadi jalur utama transportasi minyak, ditutup Iran sebagai dampak perang yang makin sengit.
Sementara itu, keadaan dalam negeri pun tak lepas dari dampak perang tersebut. Menteri Energi dan Sumber Daya Manusia (ESDM), Bahlil Lahadalia menegaskan agar nasyarakat tenang. Stok BBM nasional terkategori aman (bbcindonesia, 06/03/2026). Meskipun demikian, berbagai spekulasi terus mewarnai hingga menimbulkan keadaan yang tidak seimbang. Banyak masyarakat panic buying karena khawatir stok minyak yang kian menipis, salah satunya di Medan, Sumatera Utara. Warga rela mengantre lebih dari satu jam karena khawatir kehabisan stok BBM sebagai dampak perang Timur Tengah (kompas.com, 06/03/2026). Bahkan dilaporkan, beberapa SPBU kehabisan stok BBM. Tentu saja, keadaan ini menciptakan kekisruhan di tengah masyarakat.
Dampak Imperialisme Kapitalistik
Perang Timur Tengah mengancam stok BBM dunia, termasuk Indonesia. Fakta ini menunjukkan betapa lemahnya tata kelola minyak di negara kita, padahal sumber daya melimpah. Namun sayang, keberlimpahan ini tidak diikuti dengan pengelolaan yang amanah. Justru sebaliknya, minyak bumi yang dimiliki diserahkan tata kelolanya kepada pihak swasta dan asing. Sementara itu, kebutuhan dalam negeri disandarkan pada pasokan impor yang sangat dipengaruhi keadaan harga minyak dunia, stabilitas ekonomi, dan politik global. BBM merupakan komoditas strategis yang dipengaruhi kebijakan dunia sehingga mampu menggoyahkan keadaan politik, ekonomi dan sosial suatu negara.
Fenomena ini tidak bisa dilepaskan dari isu kedaulatan dan ketahanan energi suatu negara. Faktanya, kedaulatan energi kini masih tergadai kepentingan politik dan ekonomi global. Semua kebijakan disetir pihak asing. Wajar saja saat negara kita mandul dalam menetapkan kebijakan. Walhasil, rakyat menjadi satu-satunya pihak yang terus terancam kepentingannya.
Sistem kapitalisme global telah berhasil mengeksploitasi sumber daya energi negara-negara lemah demi keuntungan ekonomi. Negara-negara adidaya pun telah berhasil mencaplok kemandirian negara-negara lemah dan menjadikannya sebagai alat imperialisme secara ekonomi.
Betapa buruknya tatanan sistem kehidupan yang terus-menerus menetapkan keuntungan materi sebagai satu-satunya asas pengaturan. Parahnya lagi, sistem ini pun berpijak pada konsep sekularisme yang memisahkan aturan agama dari kehidupan. Otomatis, nilai halal haram pun dilalaikan. Kepentingan rakyat terus diabaikan demi kepentingan oligarki yang menguatkan posisinya sebagai penguasa sekaligus pengusaha.
Sistem Islam sebagai Solusi
Kedaulatan energi menjadi satu hal mendasar dalam menata kepentingan masyarakat. Karena, ketahanan dan kedaulatan energi menjadi satu pangkal kekuatan negara. Dari poin inilah pengaturan kepentingan umat dapat diupayakan sebagai refleksi pengaturan yang amanah. Negara yang berdaulat adalah negara kuat yang mampu menempatkan kebutuhan umat sebagai prioritas utama. Sebagaimana sabda Rasulullah saw.:
“Imam (pemimpin) adalah raa’in (pengurus) dan ia bertanggung jawab atas rakyatnya.” (HR Bukhari dan Muslim)
Sistem Islam memiliki strategi khas dalam mengelola sumber daya alam, termasuk tata kelola tambang minyak dan gas bumi. Islam menetapkan batas-batas status kepemilikan yang jelas. Sumber daya alam ditetapkan sebagai milik umat dan tata kelolanya diserahkan kepada negara agar mampu amanah mengelola demi kemaslahatan umat.
Rasulullah saw. bersabda, “Kaum muslimin berserikat dalam tiga hal: air, padang rumput, dan api.“ (HR Abu Daud dan Ibnu Majah)
Dalam hadis tersebut, sumber energi identik dengan api. Seluruh kaum muslim berserikat atas segala bentuk sumber daya energi. Dan negara menjadi satu wadah yang wajib memfasilitasinya yakni melalui pengelolaan sumber daya energi menjadi energi yang siap guna untuk memenuhi segala bentuk kebutuhan umat. Jika negara masih belum berdaya dalam hal teknologi yang tepat guna, maka diperbolehkan menggunakan jasa pihak swasta ataupun asing dengan kendali negara secara langsung. Terkait anggaran, sistem Islam memiliki sumber keuangan yang tangguh, mulai dari jizyah, kharaj, ganimah, fai, dan sumber lainnya yang ditetapkan hukum syarak.
Strategi Islam dalam hal tata kelola energi menjadikannya berdaulat dalam hal penyediaan energi tanpa perlu mengandalkan pasokan sumber energi dari pihak asing. Tak hanya itu, tata kelola yang amanah pun menjadikan sumber energi berlimpah dengan harga murah bahkan gratis karena semua disiapkan negara untuk melayani kemaslahatan umat.
Sebagai kaum muslim, mestinya kita menyadari, penjajahan kapitalisme telah mengeruk kekayaan alam negeri yang berlimpah. Konsep penjajahan ini pula yang menyelewengkan segala bentuk tata kelola. Segala bentuk jenis penjajahan harus dihentikan, yakni dengan menerapkan sistem amanah dan bijaksana yang mampu menjaga ketenangan umat. Inilah sistem Islam dalam wadah Khilafah. Satu-satunya wadah yang menjaga kedaulatan negara dan menebarkan rahmat bagi seluruh rakyat. Dengannya umat terjaga dalam perlindungan yang nyata. Wallahu a’lam bish-shawab.
Oleh: Yuke Octavianty
Forum Literasi Muslimah Bogor
![]()
Views: 10














