Tinta Media – Menyoroti proyek strategis nasional (PSN) ketahanan pangan dan energi yang tengah digencarkan pemerintah di Merauke, Papua Selatan, Analis Senior dari Pusat Kajian Analisis Data (PKAD), Ustadz Fajar Kurniawan, menilai proyek ini sebagai pengulangan sejarah kelam bagi penderitaan rakyat.
“Di balik janji kemandirian pangan dan energi, banyak pihak menyatakan, proyek ini sebagai pengulangan sejarah kelam yang menukar kedaulatan pangan dengan air mata dan darah masyarakat,” kritiknya dalam unggahan video bertajuk Negara Kaya, Kok Masih Impor? Rabu (29/10/2025) di kanal YouTube Khilafah News.
Menurut Fajar, proyek ini mengulang kegagalan di masa lalu seperti food estate di Kalimantan. “Ini adalah pertempuran antara logika ekonomi jangka pendek untuk mencapai target ketahanan pangan melawan logika keadilan sosial dan ekologi untuk melindung hutan dan hak masyarakat,” cetusnya.
Sebab, beber Fajar, targetnya sangat ambisius. “Sawah 1 juta hektar, kebun tebu raksasa untuk bioetanol, dan perkebunan sawit untuk biodiesel. Sebuah makeup proyek di atas lahan yang tak sepenuhnya lahan kosong, tapi lahan yang sudah dihuni turun-temurun dan sebagian besarnya adalah kawasan hutan,” ujarnya.
“Pemerintah mengklaim proyek ini dibangun di atas hutan milik negara dan tanah yang kosong yang katanya tidak berpenghuni,” ujarnya.
Tapi, papar Fajar, sejumlah aliansi masyarakat sipil termasuk Solidaritas Merauke punya data yang beda total.
“Mereka menyebut PSN ini sebagai proyek serakah nasional yang berpotensi memicu deforestasi yang masif bahkan bisa mencapai 695.315 hektar. Kemudian, penghancuran budaya dan ekologi karena hutan adalah jantung kehidupan bagi masyarakat adat dan suku-suku lain di Papua Selatan,” ungkapnya.
Proyek ini, sambung Fajar, tumpang tindih dengan puluhan wilayah adat dan berisiko menggusur masyarakat adat dari tanah leluhur.
Ini semua terjadi, tegas Fajar, karena keserakahan yang lahir dari sistem kapitalisme.
“Sebuah sistem ekonomi yang hanya berpihak kepada pemilik kapital alias oligarki,” pungkasnya.[] Novita Ratnasari
Views: 47















