Tinta Media – Perhimpunan Intelektual Muslim Indonesia (HILMI) ungkapkan tiga level perlunya perubahan Paradigma menuju haji mabrur multidimensi.
“Untuk mewujudkan haji mabrur yang berdampak multidimensi, diperlukan perubahan paradigma pada beberapa level,” tuturnya dalam Press Release: Intellectual Opinion No. 047, Sabtu (23/4/2026).
Ia menyebutkan, pertama, pada level individu. Setiap jamaah perlu menyadari bahwa haji adalah awal, bukan akhir. “Mereka harus bertanya: apa kontribusi saya setelah haji,” tukasnya.
Kedua, lanjutnya, pada level institusi. Pemerintah, lembaga keagamaan, dan ormas perlu membangun sistem pasca-haji yang terstruktur, seperti pelatihan, komunitas, dan program sosial.
“Ketiga, pada level nasional. Haji harus dipandang sebagai aset strategis bangsa,” terangnya.
Dengan jumlah jamaah yang besar, ia menilai Indonesia memiliki peluang untuk menjadikan haji sebagai sumber daya sosial dan ekonomi yang berkelanjutan.
Menurutnya, Haji adalah ibadah yang menggabungkan dimensi spiritual, sosial, ekonomi, dan politik dalam satu pengalaman yang intens. “Namun ini hanya terwujud jika kita mampu melihat haji secara lebih luas,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa Indonesia, dengan ratusan ribu jamaah setiap tahun, Haji seharusnya menjadi mesin transformasi nasional. “Ia dapat melahirkan generasi yang tak hanya saleh individual, tetapi juga aktif dalam membangun masyarakat yang adil, sejahtera, dan beradab,” bebernya.
Ia mengingatkan bahwa pertanyaan yang perlu direnungkan bukanlah ‘sudahkah kita berhaji?’, tetapi, “Apa yang kita lakukan setelah haji?. Karena di situlah letak makna sejati dari haji mabrur, bukan hanya di Tanah Suci, tetapi dalam kehidupan nyata, di tengah masyarakat, dan dalam perjalanan panjang membangun peradaban,” pungkasnya.[] Ajira
![]()
Views: 4















