UIY: Bukan Sekadar Ritual, Haji adalah Totalitas Kehambaan

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Cendekiawan Muslim Ustadz Muhammad Ismail Yusanto (UIY) menyatakan bahwa haji bukan sekadar ibadah ritual, tetapi totalitas kehambaan kepada Allah SWT.

“Jelas sekali bahwa haji bukanlah sekadar ibadah ritual. Ia adalah bentuk totalitas kehambaan,” ujarnya dalam tayangan bertajuk “Haji dan Kesatuan Umat Islam” yang disiarkan melalui kanal YouTube Khilafah News, pada Kamis (12/6/2025).

UIY menjelaskan, saat wukuf di Arafah, manusia benar-benar berhenti bukan hanya dari rutinitas dunia, tapi dari seluruh ego diri.

“Yang tersisa hanyalah pengakuan bahwa kita hamba dan hanyalah Allah Yang Maha Kuasa,” tegasnya.

Ia menambahkan, di Arafah tidak ada perbedaan kasta, paspor, atau pangkat. “Semua setara, semua tunduk di hadapan Allah yang satu, Allah SWT,” tandasnya.

*Bukan Hanya Urusan Personal*

Namun, UIY mengingatkan, bahwa haji bukan hanya urusan personal, tetapi juga sebuah relasi bangunan sosial bahkan peradaban.

“Setiap tahun jutaan umat Islam datang ke satu tempat yang sama, pada waktu yang sama, untuk satu tujuan yang sama,” jelasnya.

Ia menggambarkan, jutaan Muslim dari latar belakang bangsa, bahasa, dan ras yang berbeda melebur dalam satu pakaian, satu arah, dan satu niat: memenuhi panggilan Allah. “Labaik Allahumma labbaik. Labbaika la syarika laka labbaik. Innal hamda wanni’mata laka wal mulk la syarika lak,” ucap UIY.

Karenanya, lanjut UIY, haji menjadi momentum besar untuk menyadarkan umat Islam bahwa mereka sejatinya adalah satu umat, umatan wahidatan.

“Di momen haji ini, kita memperbarui kesadaran itu bahwa kekuatan kita lahir dari persatuan dan kesatuan,” terangnya.

Lebih jauh, UIY juga mengingatkan, khotbah Nabi Muhammad saw. di Arafah saat Haji Wada’ bukan hanya berisi doa, tetapi juga merupakan deklarasi nilai-nilai penting umat Islam seperti larangan menumpahkan darah, penghormatan terhadap martabat manusia, pengharaman riba, keadilan, hak perempuan, keadilan, dan tanggung jawab pemimpin.

Semua itu, imbuh UIY, disampaikan oleh Rasulullah SAW di tempat haji, bukan di mimbar biasa.

“Saudara! Kalau haji hanya urusan pribadi lalu selesai dengan gelaran Pak Haji, maka jelas kita kehilangan ruh dari ibadah yang luar biasa ini. Karena haji bukanlah akhir. Ia adalah awal. Awal dari sebuah kesadaran bahwa kita ini satu umat, satu arah, dan satu perjuangan,” serunya.

UIY pun mengajak umat Islam untuk membawa kesadaran ini dalam seluruh aspek kehidupan.

“Kita mungkin saja berasal dari bangsa berbeda, tapi Tuhan kita satu. Dan itu diingatkan oleh Nabi, Ya ayyuhannas inna rabbakum wahidun, (Wahai manusia sesungguhnya Tuhan kalian adalah Tuhan yang satu),” kutipnya.

Ia menutup dengan seruan bahwa umat Islam harus hidup dalam satu sistem, satu kepemimpinan, dan satu arah perjuangan, yaitu sistem Islam di bawah naungan Daulah Khilafah.

“Tuhan kita ini satu, kiblat kita satu Ka’bah di Baitullah, Nabi kita satu Nabi Muhammad, Al-Qur’an kita kitab kita satu kalamullah. Dan mestinya kita ini juga umat yang satu dengan kepemimpinan yang satu yang hidup dalam sistem yang satu, sistem Islam di bawah naungan sistem yang satu Daulah Khilafah. Demikian,” tutup UIY. [] Muhar

Views: 37

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA