Tinta Media – Self-reward, healing, dan gaya hidup hedonis saat ini sangat diminati oleh Gen Z. Bahkan, di tengah krisis kehidupan dan tekanan ekonomi, gaya hidup tersebut justru makin meningkat. Gaya hidup hedonis menjadi kebutuhan emosional sekaligus pelarian dari tekanan ekonomi yang mengimpit (Kompas.com, 13/8/2026).
Persoalan ekonomi di negeri ini makin tidak menentu, mulai dari tingginya angka pengangguran, ketatnya persaingan dalam mendapatkan pekerjaan, besaran gaji yang tidak sesuai dan stagnan, hingga biaya hidup yang semakin tinggi serta harga kebutuhan pokok yang melambung. Semua tekanan ekonomi yang terjadi saat ini merupakan buah dari penerapan sistem kapitalisme. Dalam sistem ini, negara hadir hanya sebagai regulator bagi para pemilik modal. Kebijakan dibuat untuk memuluskan kepentingan para kapitalis.
Pengelolaan sumber daya alam dan industri diberikan kepada korporasi swasta. Hal ini menyebabkan kekayaan hanya bertumpu pada segelintir orang. Alhasil, rakyat jauh dari kata sejahtera dan kesenjangan sosial makin melebar.
Sulitnya mendapatkan pekerjaan terjadi karena negara berlepas tangan dari kewajibannya dalam memberikan jaminan kesejahteraan untuk memenuhi kebutuhan dasar rakyat. Akibatnya, rakyat harus berjuang sendiri untuk memenuhi kebutuhan hidup di tengah krisis ekonomi dan sistem yang memang tidak berpihak pada kepentingan rakyat.
Dalam sistem kapitalisme sekuler, agama dipisahkan dari kehidupan dan tidak dijadikan sebagai aturan dalam mengatur kehidupan. Agama hanya mengatur sebatas ibadah ritual, sementara kehidupan diatur oleh aturan buatan manusia. Tentunya, aturan tersebut dibuat berdasarkan hawa nafsu.
Oleh karena itu, aturan yang rusak hanya akan menghasilkan kerusakan pula. Dari sistem ini juga lahir paham liberalisme yang mengusung kebebasan dalam berperilaku. Ditambah lagi dengan peran media sosial yang mendominasi perilaku Gen Z saat ini dan mencekoki generasi dengan tayangan-tayangan budaya Barat sebagai tolok ukur dalam berperilaku.
Tren-tren populer yang dijadikan sebagai ajang FOMO, seperti gaya hidup hedonis, healing ke tempat-tempat mahal, serta self-reward dengan membeli barang-barang bermerek demi kepuasan dengan dalih menghargai diri sendiri, membuat Gen Z menganggap gaya hidup seperti ini sebagai solusi untuk melarikan diri dari karut-marut kondisi dan tekanan ekonomi. Inilah dampak dari penerapan sistem kapitalisme sekuler. Sistem ini menjadikan akal manusia memegang hak mutlak untuk mengatur kehidupan dalam segala aspek. Hal ini sangat berpengaruh terhadap kondisi Gen Z hari ini yang menjadikan materi sebagai segala-galanya. Ironisnya, Gen Z saat ini tidak memahami tujuan hidupnya. Tolok ukur kebahagiaan hanya bertumpu pada kenikmatan materi sesaat, bukan pada rida Allah dan kemuliaan Islam.
Berbeda dengan sistem Islam, negara hadir sebagai raa’in yang mengurusi seluruh urusan rakyat. Negara memberikan jaminan kesejahteraan bagi rakyat dalam memenuhi kebutuhan dasar melalui berbagai mekanisme, seperti mengatur batasan kepemilikan. Sumber daya alam tidak akan dikelola oleh korporasi swasta, tetapi oleh negara, dan hasilnya diserahkan untuk menyejahterakan rakyat.
Ketika sumber daya alam dikelola oleh negara, negara akan memastikan tersedianya lapangan kerja yang banyak dan layak bagi setiap laki-laki. Dengan terbukanya lapangan kerja, seluruh rakyat, termasuk Gen Z, tidak akan hidup dalam tekanan ekonomi seperti dalam sistem kapitalisme.
Dalam Islam, generasi begitu dimuliakan karena merupakan tonggak peradaban. Negara akan senantiasa melindungi generasi dari paparan konten-konten yang dapat merusak pemikiran.
Islam memiliki departemen penerangan yang senantiasa menyaring dan menghilangkan tayangan-tayangan yang tidak bermanfaat dan dapat merusak akidah, seperti paham kapitalisme sekularisme beserta turunannya yang dapat merusak generasi. Sebaliknya, tayangan-tayangan tersebut diganti dengan konten edukasi yang mampu menguatkan akidah.
Islam akan mampu menciptakan generasi yang kuat secara keimanan dan ketakwaan kepada Allah Swt., serta memahami halal dan haram sehingga tidak mudah terbawa oleh hal-hal negatif. Dengan demikian, tidak akan ada lagi generasi yang mencari solusi melalui budaya dan gaya hidup Barat.
Dengan penerapan Islam secara menyeluruh, akan terwujud kehidupan yang sejahtera, aman, dan tenteram dalam naungan Daulah Islamiah. Islam membangun paradigma sesuai dengan akidah Islam bahwa hakikat hidup manusia adalah untuk beribadah kepada Allah Swt. Allah berfirman: “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat [51]: 56)
Maka, akidah Islam akan mampu melahirkan generasi yang berkepribadian islami, kokoh dalam keimanan dan ketakwaan, serta memiliki visi sebagai tonggak pembangunan peradaban Islam. Wallahu a’lam bish-shawab.
Oleh: Iske
Sahabat Tinta Media
![]()
Views: 3
















