Tinta Media – Menanggapi perang Saudi versus Houthi, Jurnalis Senior Joko Prasetyo (Om Joy) menilai ada kepentingan negara-negara yang bermain.
“Kalau mau jujur, perang tidak pernah berhenti pada soal siapa menembak lebih dulu. Ada kepentingan di belakangnya. Ada negara-negara yang ikut bermain. Ada senjata yang dipasok. Ada jalur perdagangan yang diperebutkan. Dan tentu saja, rakyatlah yang selalu menjadi tumbalnya,” tuturnya kepada Tinta Media, Ahad (20/9/2026).
Ia mengungkapkan Amerika Serikat (AS) sudah lama terlibat dalam persoalan Yaman. Ketika koalisi pimpinan Saudi melakukan intervensi militer ke Yaman pada 2015, AS memberikan dukungan intelijen, logistik, pengisian bahan bakar di udara, dan dukungan militer lainnya kepada Saudi.
“Jadi, tidak bisa mengatakan AS hanya penonton. Sekarang pun begitu,” ungkapnya.
Dalam perkembangan terbaru, Om Joy pun menyatakan bahwa Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman meminta bantuan militer AS untuk menghadapi Houthi.
Presiden AS Donald Trump, lanjutnya, menolak melakukan serangan langsung terhadap Houthi. “Namun Washington tetap memberikan bantuan intelijen dan penargetan kepada Saudi,” bebernya.
Om Joy juga mengungkapkan sebuah fakta menarik bahwa pada akhir pekan lalu, pejabat AS bertemu dengan perwakilan Houthi di Kedutaan Besar AS di Muscat, Oman. Pertemuan itu berlangsung setelah Houthi merebut sejumlah wilayah di pesisir Laut Merah dan kawasan strategis Bab al-Mandab.
“Jadi, kepada Saudi, AS memberikan bantuan intelijen. Dengan Houthi, AS membuka pembicaraan,” ungkapnya.
“Begitulah cara imperialis kapitalis menjaga kepentingannya. Tidak harus ikut mengebom untuk tetap punya pengaruh,” tambahnya.
Ia memaparkan bahwa kawasan yang diperebutkan bukan sembarangan. Laut Merah dan Bab al-Mandab merupakan jalur penting perdagangan dunia.
“Menurut Badan Perdagangan dan Pembangunan PBB (UNCTAD), sekitar 15% volume perdagangan maritim global melewati koridor Laut Merah dan Terusan Suez, termasuk sekitar 8,7% melalui Bab al-Mandab,” paparnya.
Om Joy menyebutkan bahwa Houthi kini menguasai sebagian besar pesisir Laut Merah Yaman dan bergerak ke kawasan Bab al-Mandab. Saudi pun menghadapi ancaman yang semakin dekat. Iran mendapatkan tambahan pengaruh melalui dukungannya kepada Houthi. “Dan Amerika? Washington tetap punya kepentingan,” tukasnya.
Bahkan ketika tidak mengirim pasukan untuk berperang langsung, ungkapnya, hubungan militer dengan Saudi tetap berjalan. Pada 17 September, AS menyetujui potensi penjualan 48 jet tempur F-35 kepada Saudi dengan nilai sekitar US$24,3 miliar. Maka pertanyaannya: Siapa yang diuntungkan?” tutupnya.[] Ajira
![]()
Views: 7
















