Tinta Media – Saat ini, kita hidup di era digital. Media sosial telah mengubah cara kita memandang fesyen, termasuk fesyen hijab. Ketika membuka media sosial, kita dapat melihat berbagai gaya hijab, inspirasi outfit, hingga warna-warna yang sedang tren.
Hal ini tentu tidak sepenuhnya buruk. Perkembangan fesyen hijab dapat menjadi peluang untuk menghadirkan inspirasi, edukasi, bahkan dakwah Islam. Namun, terkadang tanpa disadari, kita mulai berkata kepada diri sendiri, “Hari ini aku mau pakai hijab dengan gaya apa, ya?” atau bahkan, “Aku belum punya model hijab yang satu ini!”
Tanpa disadari, perhatian kita begitu mudah tertuju pada gaya, warna, dan model hijab. Namun, pernahkah kita berhenti sejenak dan bertanya kepada diri sendiri, “Sebenarnya, untuk apa aku memakai hijab?” Pertanyaan sederhana ini menjadi penting di tengah dunia yang menjadikan penampilan sebagai sesuatu yang terus dinilai, dibandingkan, bahkan diperjualbelikan.
Di balik segala tren dan perkembangan fesyen hijab, ada satu tantangan yang perlu kita waspadai: jangan sampai kita terlalu sibuk memperindah tampilan hijab, tetapi lupa memperindah makna di balik hijab itu sendiri. Hijab yang seharusnya menjadi bentuk ketaatan jangan sampai berubah menjadi sumber tekanan karena standar kecantikan yang terus digaungkan.
QS. Al-Ahzab ayat 59 dan QS. An-Nur ayat 31 menjadi landasan penting bahwa hijab bukan sekadar tren berpakaian. Dalam QS. Al-Ahzab ayat 59, Allah memerintahkan perempuan beriman untuk mengulurkan jilbabnya sebagai bentuk penjagaan kehormatan. Sementara itu, QS. An-Nur ayat 31 menegaskan perintah untuk menjaga pandangan, memelihara kehormatan, serta menutupkan kain kerudung hingga menutupi dada.
Kedua ayat ini menunjukkan bahwa hijab memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar menutup rambut. Hijab merupakan bentuk ketaatan, penjagaan diri, dan cerminan identitas seorang muslimah. Lalu, bagaimana seharusnya kita menghadapi tren hijab di era digital? Jawabannya, bukan dengan membenci fesyen. Kita boleh berkreasi, tampil modis, dan mengikuti perkembangan zaman. Namun, jangan sampai tren menggeser tujuan utama hijab. Jadikan syariat sebagai standar, bukan tren sebagai penentu.
Jika kita memiliki kesempatan untuk tampil di depan banyak orang, gunakan kesempatan tersebut untuk menginspirasi. Jika kita memiliki kemampuan dalam bidang fesyen, gunakan untuk menghadirkan busana muslimah yang tetap cantik, kreatif, dan sesuai dengan nilai Islam. Jika kita memiliki pengikut di media sosial, jadikan pengaruh tersebut sebagai jalan untuk menyebarkan kebaikan.
Satu nasihat atau teladan kecil mungkin menjadi pengingat bagi seseorang untuk kembali kepada Allah dan menjadi pahala kebaikan yang terus mengalir tanpa pernah kita ketahui. Ada satu prinsip yang harus terus kita pegang kuat: tren boleh berubah, gaya boleh berganti, tetapi nilai dan ketaatan kepada Allah tidak boleh kita kompromikan.
Kita tidak harus menjauh dari perkembangan zaman untuk menjadi muslimah yang taat. Kita boleh beradaptasi dengan zaman, berkarya, dan tampil percaya diri, tetapi setiap langkah kita harus tetap berada dalam koridor syariat. Karena sebesar apa pun perubahan zaman, Al-Qur’an dan Sunah tetap menjadi pedoman.
Oleh: Shiera Kalisha Tasnim
Mahasiswi Ideologis
![]()
Views: 1
















