Ahmad Sastra: Pesantren Lintas Agama Tidak Dikenal dalam Pendidikan Islam

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Ketua Forum Doktor Muslim Peduli Bangsa (FDMPB) Dr. Ahmad Sastra menyatakan bahwa pesantren lintas agama tidak pernah dikenal dalam paradigma pendidikan Islam.

“Pesantren lintas agama tidak pernah dikenal dalam paradigma pendidikan Islam,” tuturnya kepada Tinta Media, Sabtu (23/11/2024).

Menurutnya, pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam yang khas dan memiliki akar sejarah yang panjang. Pesantren, lanjutnya, terbukti telah melahirkan para ulama pejuang yang ikut andil berjihad memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. 

“Sekalipun pada mulanya berdirinya pesantren dilandaskan di atas visi tafaquh fiddin, namun ketika sejarah perjuangan bangsa ini membutuhkan kontribusi konkret, maka pesantren dengan kyai dan santrinya dengan suka rela berikrar berjihad melawan para penjajah kafir dan mengusirnya hingga dengan pertolongan Allah kemerdekaan bangsa Indonesia bisa dicapai,” ujarnya. 

Namun ia menyayangkan, kini bangsa ini masih terbelenggu dengan penjajahan nonfisik. “Generasi muslim hari ini yang bertugas untuk kembali membebaskan Indonesia dari keterjajahan dalam berbagai aspek kehidupan. Karenanya peran pesantren di era kini bukan ringan, melainkan bertambah berat dan kompleks,” tukasnya.

Tafaquh Fiddin

Ahmad menjelaskan, sejak awal visi lahirnya pesantren adalah lembaga tafaquh fiddin dalam arti yang luas. Dari rahim pesantren, ucapnya, diharapkan lahir generasi muslim yang berkualitas aqidah dan intelektualnya yang kelak menjadi agen-agen peradaban Islam. 

“Ajaran Islam meliputi semua aspek kehidupan secara terpadu (tidak sekuleristik) baik fikrah maupun tariqah, baik urusan dunia maupun akhirat. Pondok pesantren dengan kekhasan dan karakter sistem pendidikannya memungkinkan untuk mewujudkan visi peradaban tersebut,” bebernya.

Ia mengutip pendapat Abdullah Syukri Zarkasyi (2005) bahwa lembaga pesantren seperti yang dikenal di Jawa, di Sumatra disebut surau, dayah, rangkang. “Dalam7 lembaga-lembaga seperti itulah tradisi perkumpulan atau halaqah diperkenalkan. Dalam perkumpulan itu, secara tradisional dikenal istilah ‘kaji’ atau ‘ngaji’, di mana murid (santri) menyimak, sementara guru (kyai) menerangkan,” imbuhnya.

Dengan demikian, lanjutnya, salah satu alasan pokok munculnya pondok pesantren adalah untuk menyampaikan ajaran Islam sebagaimana yang terdapat dalam kitab-kitab klasik atau kitab kuning.

“Jadi jika muncul pesantren lintas agama, selain merusak jati diri pesantren juga menodai sejarah lahirnya pesantren itu sendiri,” pungkasnya.[] Ajira

Loading

Views: 42

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA