Hanya Khilafah yang Mampu Membungkam Zionis, Bukan Retorika Internasional

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Zionis kembali menunjukkan wajah aslinya, apalagi jika bukan penjajah kejam yang tak segan membantai dan memadamkan akses informasi demi menutupi kejahatannya. Kamis, 18 September 2025, mereka memutus total jaringan komunikasi dan internet di Jalur Gaza. Pemadaman ini dilakukan bersamaan dengan digelarnya operasi militer darat yang menggempur pusat Kota Gaza. Tujuannya jelas, yakni membunuh dalam gelap tanpa saksi dunia.

Strategi ini mungkin dilakukan agar tidak ada satu pun informasi yang bocor ke media internasional. Zionis sadar, mereka sedang melanggar hukum perang, bahkan konvensi internasional sekalipun. Namun, sebagaimana biasa, hukum internasional hanya tajam ke umat Islam dan tumpul kepada pelaku kejahatan kafir Barat.

Menyedihkan, di tengah gempuran ini, dunia Islam justru kembali sibuk dengan retorika. Para penguasa negeri-negeri Muslim hanya mengutuk. Mereka memboikot sesekali, berkoar-koar di PBB, namun tetap menjaga hubungan diplomatik dan ekonomi dengan penjajah secara diam-diam dan terang-terangan. Padahal, dalam Islam, penjajahan adalah kejahatan yang harus dihentikan secara tuntas. Apalagi, yang diserang adalah sesama wilayah kaum Muslim. Bukankah kaum Muslimin harus saling membantu?

Rasulullah ﷺ bersabda: “Siapa saja di antara kalian yang melihat kemungkaran, maka hendaklah ia mengubah dengan tangannya. Jika ia tidak mampu, maka dengan lisannya. Jika ia tidak mampu juga, maka dengan hatinya. Dan itulah selemah-lemah iman.“
(HR Muslim, no. 49)

Ini adalah perintah untuk bertindak, bukan sekadar mengecam. Umat Islam wajib menolong saudaranya yang dizalimi. Tidak cukup sekadar dengan bantuan kemanusiaan yang habis dalam hitungan hari, tetapi dengan kekuasaan yang menundukkan penjajah.

Apakah mungkin? Sangat mungkin. Islam telah memiliki solusi menyeluruh, yakni bersatunya seluruh negeri Muslim dalam institusi Khilafah Islamiyyah. Dalam sejarah, Khilafah tidak pernah membiarkan satu inci tanah kaum Muslimin dijajah tanpa pembelaan. Tentara-tentaranya dikirim bukan untuk negosiasi, tetapi untuk pembebasan.

Khilafah bukan utopis. Ia adalah sistem politik Islam yang pernah ada lebih dari 13 abad. Hari ini, ia dibutuhkan lebih dari sebelumnya. Palestina tidak butuh simpati, tetapi butuh pasukan. Gaza tidak butuh kutukan, tapi butuh pemimpin seperti Shalahuddin Al-Ayyubi.

Selama umat Islam masih terpecah dalam batas-batas nasionalisme buatan kolonial dan para penguasanya tunduk pada tekanan Amerika, penjajahan atas Palestina akan terus berlangsung. Saatnya umat sadar bahwa komunikasi bisa padam, tetapi kebenaran tak akan pernah bungkam. Kebenaran itu adalah kewajiban menegakkan Islam sebagai sistem hidup, termasuk sistem politik dan negara dalam bingkai Khilafah. Hanya dengan itulah penjajahan bisa dihentikan dan kebebasan hakiki bukan sekadar mimpi. Wallahualam bissawab.

 

Oleh: Wafi Mu’tashimah,

Sahabat Tinta Media

Views: 43

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA