Tinta Media – Pengamat Politik Islam Dr. Riyan, M.Ag. mengungkap alasan Hamas menerima gencatan senjata.
“Gencatan senjata ini adalah manifestasi taktis strategi Hamas dalam mempertahankan marwah perlawanan terhadap entitas penjajah Yahudi bekingan Amerika,” ujarnya dalam video singkat bertajuk “Israel Masih Serang Gaza, Padahal Hamas Sudah Sepakat Gencatan Senjata,” Rabu (15/10/2025) di kanal YouTube Khilafah News.
Ryan menuturkan, kesepakatan gencatan senjata yang resmi berlaku sejak 9 Oktober 2025 dan disambut luas oleh komunitas internasional ini menandai fase awal dari rencana penghentian perang di Gaza serta pertukaran tahanan antara Israel dan Hamas.
“Dalam wawancara dengan Al-Arabiyah, Raswan (Kepala Layanan Informasi Mesir) menjelaskan bahwa pembekuan senjata merupakan bagian dari proposal Hamas sebelumnya kepada Israel,” tuturnya.
Usulan itu, lanjut Riyan, mencakup masa gencatan senjata antara 5 sampai 10 tahun.
“Raswan menegaskan bahwa senjata Hamas tidak akan diserahkan kepada Israel maupun pihak non-Arab. Meskipun perjanjian tidak menjelaskan pihak pengawas, disebutkan kemungkinan pembentukan komite independen yang bisa terdiri dari unsur Mesir, Arab, atau gabungan Mesir, Arab, dan Palestina,” ungkapnya.
Riyan menyebut gencatan senjata ini merupakan kemenangan simbolik sementara dari Hamas atas entitas Yahudi penjajah.
“Menurut Raswan, Perdana Menteri Israel Benyamin Netanyahu memiliki tujuan untuk menghancurkan kemampuan militer Hamas selama perang berkecamuk di jalur Gaza dalam dua tahun terakhir ini, namun dia gagal melakukannya,” bebernya.
Netanyahu, kata Riyan, sekarang mencari panggung teatrikal untuk menunjukkan perlucutan senjata Hamas melalui perjanjian yang sedang berlangsung setelah dua tahun perang berkecamuk.
Pernyataan ini, ungkapnya, disampaikan setelah salah satu pejabat senior Hamas, Osama Hamdan yang mengatakan sebagaimana dilansir oleh Reuters bahwa tidak ada warga Palestina yang menerima perlucutan senjata.
“Hamdan menegaskan bahwa warga Palestina membutuhkan senjata dan perlawanan,” ucap Ryan.
Menurutnya, banyak pihak telah mengingatkan bahwa tahapan kedua setelah gencatan senjata ini akan menjadi jauh lebih sulit untuk dijalankan.
“Tahap itu mengacu kepada pernyataan Trump (Presiden Amerika Serikat) yang ngebet dan secara terbuka ingin menerima hadiah Nobel Perdamaian karena jasanya atas gencatan senjata ini, tentang pembentukan sebuah badan internasional bernama Board of Peace yang akan mengawasi administrasi Gaza setelah perang berakhir,’ sebutnya.
Ia menyatakan, Trump akan memimpin badan tersebut bersama sejumlah pemimpin dunia lainnya, termasuk mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair yang tangannya berlumur darah kaum Muslimin karena invasi ke Irak tahun 2003 bersama Amerika.
Ia mengingatkan, yang tidak boleh dilupakan bahwa akar masalah Palestina adalah penjajahan entitas Yahudi yang dibekingi oleh Amerika. Bukan konflik, tapi penjajahan. Maka, solusi Islam yang syar’i dan hakiki bukanlah konsep dua negara yang terus digembar-gemborkan karena itu adalah bentuk keharaman dan pengkhianatan.
“Solusi yang hakiki adalah jihad dan khilafah. Inilah yang harus terus digaungkan dan disebarluaskan. Kita tegaskan lagi, solusi hakiki dan syar’i masalah Palestina adalah jihad dan khilafah,” tutupnya.[] Ajira
Views: 24
















