Gencatan Senjata: Pengalihan Isu dan Penuh Kepalsuan

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Zionis kembali melanggar kesepakatan gencatan senjata. Mereka kembali melakukan serangan terhadap warga Gaza yang mengakibatkan banyak korban jiwa dan kerusakan insfratruktur. Menurut laporan, total sudah ada 97 orang syahid sejak 10 Oktober 2025. Israel juga terus-menerus melakukan pengrusakan rumah-rumah di daerah Rafah sehingga menutup perbatasan Rafah yang merupakan jalur penting bagi warga Gaza.

Pelanggaran gencatan senjata ini diduga kuat terkait dengan kepentingan politik dan strategi Netanyahu untuk mempertahankan kekuasaannya. Dukungan dari Presiden Donald Trump dan kabinetnya juga faktor penting dalam keputusan Israel untuk melanjutkan serangan. Ada beberapa alasan yang membuat Israel melanggar gencatan senjata di Gaza, yaitu:

Pertama, krisis politik dalam negeri Israel. Meningkatnya ketegangan dan krisis struktural pada politik dalam negeri Israel merupakan ancaman yang serius bagi karier Netanyahu. Ia menghadapi blok anti-Netanyahu yang sangat kuat akibat ada campur tangan dalam peradilan dan korupsi.

Kedua, mengalihkan perhatian publik. Netanyahu ingin mengalihkan perhatian publik dari isu-isu internal dengan melanjutkan genosida di Gaza. Dengan cara demikian, ia dapat mengalihkan perhatian publik agar ia dapat mengonsolidasikan elemen-elemen radikal dalam masyarakat dan mempertahankan kekuasaannya.

Ketiga, adanya dukungan dari Presiden AS, Donald Trump. Netanyahu mendapat dukungan dari Trump dan kabinetnya untuk melanjutkan serangan terhadap warga Gaza. Menghancurkan Hamas juga bagian dari rencana Israel untuk mempertahankan zona penyangga di Gaza untuk mencegah ancaman teror.

Dalam pandangan Islam, penjajahan, penindasan, dan pembunuhan terhadap kaum Muslimin adalah bentuk kezaliman yang besar dan tidak boleh dibiarkan. Al-Qur’an secara tegas menyeru umat Islam untuk menegakkan keadilan dan melindungi saudara seiman dari kezaliman.

Persatuan Umat Islam

Salah satu akar kelemahan dunia Islam saat ini adalah terpecah-belahnya umat menjadi banyak negara dan kepentingan. Padahal, Rasulullah ﷺ bersabda: “Perumpamaan kaum mukmin dalam hal saling mencintai, mengasihi, dan menyayangi adalah seperti satu tubuh; apabila salah satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh turut merasakan panas dan demam.“ (HR al-Bukhari dan Muslim)

Umat Islam perlu kembali kepada satu kepemimpinan yang kuat dan menyatukan seluruh potensi umat, baik kekuatan politik, ekonomi, maupun militer untuk membela kaum Muslimin di mana pun mereka tertindas.

Dalam sejarah Islam, pelindung utama umat bukanlah lembaga internasional atau perjanjian politik, melainkan adanya seorang pemimpin (Khalifah) yang mengurus urusan umat dengan syariat Allah. Pemimpin inilah yang memiliki kewajiban untuk mengirim bala tentara dan melindungi wilayah kaum Muslimin dari serangan musuh. Tanpa Khilafah, umat Islam hanya akan terus bergantung pada perjanjian gencatan senjata yang selalu dilanggar karena tidak ada kekuatan politik yang melindungi mereka secara nyata.

Solusi Islam juga menuntut adanya kesadaran politik di tengah umat. Umat harus memahami bahwa setiap serangan terhadap Gaza bukan hanya masalah kemanusiaan, melainkan bagian dari proyek penjajahan global terhadap Islam. Dengan kesadaran ini, umat akan bersatu menolak dominasi penjajah dan mendukung perjuangan pembebasan Palestina dengan cara-cara yang sesuai dengan tuntunan syariat. Wallahualam bissawab.

 

Oleh: Wina Audina,

Sahabat Tinta Media

Views: 30

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA