Tinta Media – Presiden Prabowo menyatakan sikapnya terhadap masalah kemanusiaan di Gaza dalam Sidang Majelis Umum ke-80 Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York, Amerika Serikat, Selasa (23/09/2025). Prabowo mendukung solusi dua negara di Palestina. Palestina harus merdeka, tetapi keselamatan dan keamanan Israel juga harus dijamin. (setneg.go.id, 23/09/2025)
Pidato itu mendapat tanggapan positif dari PM Israel dan Presiden Amerika Serikat. Tentu saja mereka gembira karena isi pidato Presiden Prabowo dianggap merupakan legitimasi (dukungan) penting dari negara Muslim terbesar di dunia. Presiden AS memuji pidato Presiden Prabowo sangat menginspirasi para peserta sidang.
Ada perubahan sikap pemerintah Indonesia mengenai Israel dan Palestina. Selama ini, Indonesia selalu berdiri di pihak Palestina dan sangat tegas terhadap Israel. Hal ini dibuktikan dengan selalu mengalirnya bantuan untuk rakyat Palestina dan Indonesia tidak menjalin hubungan diplomatik dengan Israel. Namun sekarang, di masa pemerintahan Prabowo, Indonesia mendukung solusi dua negara antara Palestina dan Israel. Ada apa gerangan?
Padahal, dunia tahu bahwa penderitaan dan masalah di Palestina adalah akibat penjajahan Israel yang melakukan pengeboman membabi buta, melakukan genosida penduduk dan merebut tanah-tanah warga setempat. Selama 2 tahun terakhir, serangan Israel telah menghancurkan 90% bangunan permukiman dan fasilitas umum, seperti rumah sakit, pasar, sekolah, dan tempat ibadah. Mereka juga menghancurkan akses air bersih, listrik, dan internet. Israel telah menjatuhkan 200.000 ton bom untuk menghancurkan Gaza. Lebih dari 67.000 warga Gaza terbunuh, ribuan lainnya terluka dan hilang.
Maka, pengakuan negeri Muslim yang dianggap saudara seiman terhadap eksistensi penjajah sangat menyakitkan bagi warga Palestina, khususnya Gaza. Isi pidato Prabowo menambah jumlah pengkhianatan dari para penguasa negeri Muslim. Rakyat Gaza makin tersudutkan dan tidak dipedulikan. Sudahlah mereka dihinakan, digenosida, penjahatnya malah diakui dan diberi tanah air mereka. Kemudian, pengakuan kemerdekaan Palestina pun bukan pengakuan sebagai negara yang berdaulat penuh, melainkan hanya negara boneka yang tidak punya militer dan kedaulatan.
Pengakuan terhadap negara Israel dalam solusi dua negara sangat berbahaya karena bisa meniadakan tindak kejahatan penjajahan berupa genosida yang dilakukan Israel terhadap Palestina. Ini juga melegalkan tindakan Israel merebut tanah-tanah Palestina serta menghalangi setiap usaha mengusir penjajah itu dari tanah Palestina.
Baru-baru ini atas inisiatif Amerika Serikat diadakan gencatan senjata antara pasukan Hamas dan Israel. Namun, untuk kesekian kalinya Israel kembali melanggar perjanjian. Sejak dimulainya gencatan senjata pada tanggal 10 Oktober 2025, Israel telah melanggar perjanjian sebanyak 80 kali, berupa penembakan langsung kepada warga atau massal, penangkapan warga sipil yang disengaja, dan pembentukan “sabuk tembak”. Militer Israel telah melakukan serangan udara dan menjatuhkan bom di beberapa wilayah sehingga melukai ratusan orang serta menewaskan 97 warga Palestina. (Tempo.co, 20/10/2025)
Menurut Direktur Eksekutif Amnesty Internasional Indonesia, Usman Hamid, pidato Presiden Prabowo tidak menunjukkan kepedulian (peka) terhadap kondisi Palestina karena berpotensi mengaburkan tanggung jawab Israel atas genosida. Seharusnya Indonesia menyerukan akhiri pendudukan militer Israel di Palestina karena itulah akar masalah penderitaan rakyat Palestina.
Hal ini sejalan dengan Islam yang mengharamkan solusi dua negara antara negara terjajah dan penjajahnya. Solusi dua negara berarti mengakui keberadaan negara kafir penjajah dengan tindakan zalimnya merampas tanah bangsa lain, juga akan membuat kaum Muslim tidak melakukan kewajiban jihad fi sabilillah. Solusi dua negara juga sama saja dengan memberi jalan bagi kafir penjajah (Israel dan sekutunya) untuk mendominasi kaum Muslim.
Solusi hakiki untuk Palestina menurut Islam adalah dengan menghentikan penjajahan Israel atas rakyat Palestina. Penghentian hanya bisa dilakukan dengan mengusir penjajah dari tanah yang diberkati Allah dengan jihad dan Khilafah. Karena, hanya Khilafah yang secara efektif dapat menyatukan umat Islam untuk berjihad membebaskan Palestina.
Khilafah dapat mengatasi kelemahan negara-negara Muslim yang saat ini terpecah dan tunduk pada tekanan Barat. Dengan Khilafah, umat Islam dapat mengerahkan pasukan untuk melindungi rakyat Palestina. Tanpa institusi Khilafah, kemerdekaan rakyat Palestina hanya akan jadi permainan negara-negara kufur dan antek-anteknya. Wallahualam bissawab.
Oleh: Ummu Atika,
Sahabat Tinta Media
Views: 48
















