Jurnalis: Program Kurban Presiden dari APBN Jadikan Uang Rakyat Alat Pencitraan

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Jurnalis Joko Prasetyo (Om Joy) menilai, program kurban 1.098 sapi senilai Rp100 miliar atas nama Presiden Prabowo Subianto menjadikan uang rakyat sebagai alat pencitraan.

“Pencitraan dibungkus kurban, uang rakyat jadi kurban,” nilainya sebagaimana rilis yang diterima Tinta Media pada Kamis (28/5/2026).

Hal itu ia sampaikan setelah muncul penjelasan bahwa anggaran tersebut berasal dari APBN melalui pos Bantuan Kemasyarakatan Presiden.

Om Joy mengatakan, framing awal di ruang publik memberi kesan seolah penguasa berkurban dengan harta pribadi demi rakyat. Namun setelah diketahui sumber dananya berasal dari APBN, muncul pertanyaan mendasar mengenai status kegiatan tersebut.

“Ini kurban pribadi atau program negara? Kalau program negara, mengapa dibungkus dengan citra kemurahan hati penguasa? Kalau kurban pribadi, mengapa memakai uang rakyat?” tanyanya retoris.

Menurutnya, dalam Islam kurban merupakan ibadah individual yang dilakukan dengan harta pribadi. Ia menyebut sebagian ulama memang membolehkan imam atau khalifah berkurban dari harta baitul mal atas nama umat Islam.

“Merujuk kitab Mughni al-Muhtaj ila Ma‘rifah Ma‘ani Alfaz al-Minhaj karya Syamsuddin Muhammad bin Ahmad al-Khatib asy-Syarbini, disebutkan bahwa disunahkan bagi imam untuk berkurban dari harta baitul mal atas nama kaum Muslim,” ulasnya.

Om Joy menegaskan, ketentuan tersebut tidak bisa disamakan dengan praktik dalam sistem demokrasi sekuler.

Ia menjelaskan baitul mal dalam Islam bersumber dari pemasukan halal dan diatur hukum Allah, sementara APBN bercampur dengan utang ribawi, pajak, dan tata kelola ekonomi yang berbeda dari syariat.

Ia juga menyoroti pemisahan tegas antara harta pribadi dan harta umat dalam Islam. “Penguasa dalam Islam bukan pemilik kas negara. Ia hanyalah pengelola amanah umat yang kelak akan dihisab di hadapan Allah SWT,” tuturnya.

Om Joy menilai ketika uang APBN dipakai lalu publik diarahkan melihatnya sebagai ‘kurban Prabowo’, persoalannya sudah menyentuh batas antara ibadah dan pencitraan. Ia menyebut kondisi ini membuat rakyat dibiasakan hidup dari belas kasihan penguasa.

“Tugas pemimpin bukan tampil dermawan di depan kamera. Tugas pemimpin adalah memastikan rakyat hidup sejahtera tanpa harus menunggu momentum belas kasihan tahunan,” pungkasnya.[] Langgeng Hidayat

Loading

Views: 20

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA