Tinta Media – Wakil Ketua Dewan Pertimbangan MUI Pusat KH. Muhyiddin Junaedi mengungkap penyebab umat Islam tertinggal.
“Kenapa umat Islam masih terkebelakang? Sementara umat yang lain sudah maju. Artinya kita tertinggal lagi. Apa sih permasalahannya?” tuturnya dalam segmen Live FOCUS: Spirit Hijrah di Tengah Krisis Dunia Islam, di kanal YouTube UIY Official, Ahad (17/6/2026).
Nomor satu itu, lanjutnya, adalah soal bagaimana kini umat Islam memandang ilmu pengetahuan. Karena umat Islam memandang ilmu itu dari sudut yang sangat sempit.
“Seakan-akan yang namanya ilmu itu yang wajib dipelajari hanya ilmu agama. Ilmu yang lain itu adalah fardu kifayah atau sunah. Nah, ini permasalahan,” ungkapnya.
Menurutnya, hal ini sangat bertolak belakang dengan perintah Allah Subhanahu Wa Ta’ala di dalam Al-Qur’an bahwa Allah akan mengangkat orang yang beriman di antara kamu dan orang yang punya ilmu pengetahuan itu adalah sangat umum. Jadi thalabul ilmi itu bukan alilmud diniah, alulum diniah, tetapi alulumul muasirah.
“Di sinilah masalahnya dan kita selalu berbangga dengan kuantitas umat Islam di dunia yang terus bertambah dan maju dan pertumbuhannya paling tinggi dibanding umat yang lain, Alhamdulillah. Itu satu hal yang wajib kita syukuri. Tetapi kuantitatif saja tidak cukup. Ya, kammiyah saja jauh dari memadai,” ungkapnya.
“Yang kita butuh adalah kaifiah, quality-nya, kualitasnya,” imbuhnya.
Kiai Muhyidin menyebutkan bahwa Liga Arab dibentuk tujuannya untuk menyatukan umat Islam dan Arab dan bangsa Arab. Tetapi lagi-lagi tidak pernah bersatu. Tetap saja Arab itu ada yang pro barat, yang pro gedung putih dan yang pro Uni Soviet. Dan sekarang ada yang pro gedung putih dan pro Rusia dan Cina.
“Sebetulnya itu sudah ditegaskan di dalam Al-Qur’an karena kita sudah sejak awal di challange dalam surah Ar Rahman, wahai bangsa jin dan manusia, Kalau engkau ingin menguasai dunia, angkasa luar, ya silakan. Kamu tidak akan bisa menguasai itu tanpa sultan, tanpa knowledge. Knowledge-nya itu adalah ilmu pengetahuan,” terangnya.
“Dan ini terbukti, betapa khilafah Umawiyah dan khilafah Abbasiyah fokus setelah ekspansi ke negara-negara dan wilayah di luar Jazirah Arabia. Fokusnya adalah menterjemahkan buku-buku karya ulama dunia, intelektual dunia. Di segala bidang, baik itu di bidang kedokteran, sosiologi, dan lain sebagainya,” tukasnya.
Ia menilai bahwa Al Khawarizmi, penemu dari algoritma itu, sangat berperan dan sangat berpengaruh dalam mengilhami manusia untuk menguasai dunia ini dan untuk membuat yang susah menjadi mudah dengan algoritme itu.
“Tetapi kita masih jauh tertinggal. Ketertinggalan ini semakin parah, semakin buruk dengan intervensi kekuatan-kekuatan global, global power yang tentu saja adalah mereka anti Islam,” bebernya.
“Mereka itu menunggang. Mereka itu kadang-kadang pura-pura baik kepada umat Islam, tetapi sesungguhnya mereka adalah musuh umat Islam atau musuh dalam selimut. Nah, khilafah Abbasiyah Umawiyah berjaya dan itu terbukti kita bisa menguasai kurang lebih sepertiga dunia hanya dalam kurun waktu 40 tahun lamanya, 4 dekade. Nah, inilah yang harus kita kritisi,” tambahnya.
Nah, lanjutnya, kalau saat ini kondisi umat Islam dunia itu mandek dan jumud itu. Ia mengatakan bahwa di dalam Al Qur’an surah Muhammad ayat 38, di mana Allah Subhanahu Wa Ta’ala menegaskan bagian akhirnya, “Kalau kalian wahai umat Islam tidak mau melakukan perubahan, kalau kalian masih berpikir sektarianisme, arabisme, pan arabisme dan lain sebagainya. Nah, kalau kalian itu pelit menggunakan dana dan infak untuk berjuang di jalan Allah, maka kata Allah akan digantikan oleh Allah oleh generasi yang akan datang yang berbeda dari generasi kamu,” paparnya.
Kiai Muhyiddin melihat bahwa umat Islam perlu menguasai ilmu pengetahuan agar tidak lagi menjadi permainan dari orang-orang yang bermental busuk. Atau dengan kata lain agar umat Islam tidak menjadi victims dari orang-orang busuk tersebut.
“Pertama ilmu, yang kedua apa? Yang kedua itu, rasa egoisme, sektarianisme, egoisme sektoral, egoisme organisasi. Nah, itu semakin hari semakin besar,” tegasnya.
Ia merasa miris bahwa sektarianisme, di tengah-tengah perang yang bergejolak serangan Amerika Israel ke Iran, masih ada umat Islam yang sibuk hanya membicarakan sektarianisme Syiah Sunni. Bahkan tega mengatakan bahwa dukung Iran sama saja dukung Yahudi. Apakah yang Yahudi itu Sunni? Apakah yang Yahudi itu salafi ya? “Jadi permasalahan ananiah thaifiah ini yang sulit bagi umat Islam untuk dihilangkan,” ujarnya.
“Yang ada adalah jargon-jargon yang sifatnya retorika, kita bersatu,” tandasnya.[] Ajira
![]()
Views: 18
















