Tinta Media – Peristiwa di bidang sosial yang paling buruk pada 2024, menurut Direktur Siyasah Institute Iwan Januar adalah jutaan rakyat terpapar pinjaman online (pinjol) dan judi online (judol).
“Menurut saya, kebijakan negara yang paling berdampak buruk pada rakyat di tahun 2024 adalah tidak memberikan perlindungan berarti pada rakyat dari bahaya pinjaman online dan judi online. Ada 8,8 juta warga RI terpapar judi online,” ujarnya kepada Tinta Media dalam wawancara kaleidoskop 2024, Sabtu, (28/12/2024).
Padahal, kata Iwan, bila ada anggota keluarga terpapar judi online maka dampaknya akan dirasakan oleh semua anggota keluarga. “Apalagi bila yang terpapar adalah kepala rumah tangga,” ungkapnya.
Menurutnya, nafkah akan terbengkalai karena habis dipakai bermain judol, selanjutnya barang-barang berharga dijual untuk bermain lagi, muncul pertengkaran suami istri, berujung pada perceraian atau kekerasan dalam rumah tangga.
Iwan mengutip data dari BPS bahwa sepanjang 2024 ada perceraian karena judi online mencapai 38 persen. “Sementara Kemenag melansir data ada 4000 pasangan bercerai karena judi online. Gara-gara judi online kasus KDRT hingga pembunuhan di antara suami istri juga terjadi,” sambungnya.
Selain judi online, kata Iwan, negara juga gagal melindungi warga dari pinjaman online. “Ada 129 juta warga RI yang terjerat pinjaman online. Sebagian ada karena kecanduan judi online,” ungkapnya.
Dampak pinjaman online terhadap kehidupan warga, sebutnya, sama seperti judi online yakni kisruh di rumah tangga, termiskinkan, bahkan sampai melakukan tindak kriminal dan bunuh diri.
Akar Masalah
Iwan menyebutkan, akar masalah dari munculnya judol dan pinjol ini ada empat. Pertama, soal kemiskinan. Judol dan pinjol itu jadi harapan sebagian warga miskin yang terdesak kebutuhan. Namun justru jadi mencekik leher mereka.
Kedua, soal gaya hidup. Tidak sedikit orang terjerat judol dan pinjol karena ingin hidup gaya dan gaya hidup. Ingin touring, jalan-jalan, beli ponsel canggih, dan sebagainya. Ujungnya terjepit masalah yang makin berat.
Ketiga, nilai-nilai yang berlaku di masyarakat sudah kapitalistik. Warga sudah tidak peduli dari mana mereka bisa dapatkan uang, dan tidak peduli dampaknya dalam waktu mendatang.
Sementara para pengusaha judol dan pinjol tandasnya lebih jahat lagi, kapitalistik. Mereka tahu judol dan pinjol itu punya pasar yang luas di tanah air. Mereka juga tahu banyak orang yang butuh dan bisa diiming-imingi kesempatan punya uang, lalu mereka eksploitasi.
Keempat, negara tidak hadir untuk melindungi rakyat. Tidak menjamin kebutuhan warga, terutama kelompok miskin, juga tidak menindak para pelaku dan pengusaha judol dan pinjol.
Solusi
Iwan berpandangan, umat Muslim harus kembali pada cara berpikir yang benar, yakni Islam. Inilah fikrah yang akan menuntun umat ke jalan hidup yang sehat lahir batin.” Tidak akan berpikir ambil shortcut dalam soal nafkah lewat judol dan pinjol karena mereka tahu itu haram dan mencekik,” sergahnya.
Sementara itu, menurutnya negara bila memang punya niat mengurus rakyat harus meninggalkan sistem kapitalisme. “Sudah jelas ideologi kapitalisme ini membunuh rakyat secara pelan-pelan, menciptakan jurang ekonomi yang dalam di tengah warga,” tegasnya.
“Tidak ada pilihan lain kecuali terapkan Islam secara kaffah,” pungkasnya.[] Muhammad Nur
![]()
Views: 12
















