Tinta Media – Direktur Siyasah Institute Iwan Januar menilai, maraknya fenomena quotes galau di media sosial, khususnya TikTok, merupakan buah dari masyarakat sekuler yang menjauhkan agama dari kehidupan.
“Ini memang fenomena masyarakat dengan asas sekularisme ya. Melahirkan budaya yang kemudian sifatnya hedon,” ujarnya dalam program Kabar Petang: Kata-Kata Quotes Keren Inspiratif, Ternyata Mengandung Bahaya? Selasa (30/9/2025) di kanal YouTube Khilafah News.
Iwan menjelaskan, sejak lama budaya patah hati dan kegalauan menjadi daya tarik lagu-lagu balada yang menceritakan tentang bagaimana isi hati, jatuh cinta, putus cinta, patah hati. Bahkan kemudian juga tidak sedikit lagu-lagu itu yang sampai mendorong pendengarnya melakukan tindakan bunuh diri,” jelasnya.
Menurutnya, fenomena tersebut semakin berbahaya di era media sosial karena aksesnya lebih luas dan cepat. “Rasa galau mereka itu mereka tularkan di media sosial dan karena kayaknya nih gue banget, relate banget dengan kehidupan gue kata anak muda, akhirnya kemudian dijadikan salah satu inspirasi dalam pikiran mereka,” ungkapnya.
Ia menegaskan, gejala ini tidak lepas dari absennya nilai agama dalam kehidupan masyarakat. “Ah, ini memang satu hal yang lahir dari asas masyarakat yang sekuler. Kenapa saya katakan demikian? Karena masyarakat sekuler kan tidak ada sandaran kepada agama,” pungkas Iwan.
Diketahui, fenomena konten quotes di TikTok menjadi perhatian serius kalangan psikolog dan akademisi. Format sederhana berupa teks motivasi atau galau yang dikombinasikan dengan video random dan backsound emosional dinilai menyimpan potensi bahaya psikologis yang tidak disadari penggunanya.
Dilansir dari blitarkawentar.jawapos.com, Senin (8/9/2025), penelitian terbaru dari Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada mengidentifikasi setidaknya ada tiga dampak negatif konsumsi berlebihan konten quotes:
Pertama, overgeneralisasi masalah kompleks. Fenomena seperti tren “Marriage is Scary” menunjukkan bagaimana quotes sederhana dapat menciptakan ketakutan kolektif terhadap institusi pernikahan tanpa konteks yang memadai.
Kedua, ketergantungan pada validasi emosi instan. Dr. Made Kartawinata, peneliti perilaku digital, menekankan bahwa “generasi muda menjadi tergantung pada affirmation eksternal ketimbang mengembangkan resiliensi internal untuk menghadapi masalah.
Ketiga, glorifikasi kesedihan. Konsumsi berlebihan konten galau dapat menjebak individu dalam siklus emosi negatif, di mana mereka lebih nyaman berlama-lama dalam kesedihan ketimbang mencari solusi konstruktif. [] Muhar
Views: 68
















