๐’๐„๐๐ˆ ๐Œ๐„๐๐”๐‹๐ˆ๐’๐Š๐€๐ ๐๐„๐‘๐ˆ๐’๐“๐ˆ๐–๐€ ๐˜๐€๐๐† ๐Œ๐„๐๐†๐†๐”๐†๐€๐‡ ๐๐„๐Œ๐๐€๐‚๐€ (๐“๐ž๐ค๐ง๐ข๐ค ๐Œ๐ž๐ง๐ฎ๐ฅ๐ข๐ฌ ๐น๐‘’๐‘Ž๐‘ก๐‘ข๐‘Ÿ๐‘’ ๐‘๐‘’๐‘ค๐‘ )

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads
Tinta Media – Peristiwa apa sih yang membuat Anda marah? Peristiwa apa yang membuat Anda ingin melawan? Kalau peristiwa yang membuat Anda senang, apa? Peristiwa apa pula yang membuat Anda mendukung perjuangan? Rekonstruksikanlah semua jawabannya dengan kaidah jurnalistik tertentu maka jadilah ๐‘“๐‘’๐‘Ž๐‘ก๐‘ข๐‘Ÿ๐‘’ ๐‘›๐‘’๐‘ค๐‘  (FN/karangan khas). 
FN merupakan rekonstruksi suatu peristiwa dalam bentuk cerita yang membuat pembaca seolah-olah berada dalam kejadian tersebut (๐‘“๐‘’๐‘Ž๐‘ก๐‘ข๐‘Ÿ๐‘’ /membayangkan). Targetnya, membuat pembaca setuju atau paling tidak memahami dengan pesan yang ingin Anda sampaikan tetapi pesan tersebut sama sekali tidak Anda tulis. 
Karena itu, FN cocok sekali digunakan sebagai ๐‘ข๐‘ ๐‘™๐‘ข๐‘ (cara teknis) dakwah tanpa menggurui. Dengan FN, Anda bisa membuat pembaca marah pada kezaliman tanpa disuruh marah. Dengan FN, Anda juga bisa membuat pembaca melawan kezaliman tanpa disuruh melawan. Dengan FN pula, Anda bisa membuat pembaca senang pada perjuangan Islam tanpa disuruh senang. Juga, bisa membuat pembaca mendukung perjuangan Islam tanpa disuruh mendukung.
Adapun kaidah jurnalistik dimaksud pada paragraf pertama di atas secara umum haruslah sesuai dengan bahasa jurnalistik media massa yang akan memuat FN tersebut. Bila media tersebut menggunakan bahasa Indonesia baku maka harus sesuai dengan bahasa jurnalistik Indonesia. Sebenarnya bukan hanya untuk karangan khas saja, semua produk jurnalistik media tersebut (opini, berita lugas, dan lainnya) mestilah sesuai dengan bahasa jurnalistik Indonesia.
Untuk mengetahui apa itu bahasa jurnalistik Indonesia, silakan baca artikel ๐‘‡๐‘–๐‘๐‘  ๐‘Ž๐‘”๐‘Ž๐‘Ÿ ๐‘‚๐‘๐‘–๐‘›๐‘– ๐ด๐‘›๐‘‘๐‘Ž ๐‘†๐‘’๐‘ ๐‘ข๐‘Ž๐‘– ๐‘‘๐‘’๐‘›๐‘”๐‘Ž๐‘› ๐ต๐‘Žโ„Ž๐‘Ž๐‘ ๐‘Ž ๐ฝ๐‘ข๐‘Ÿ๐‘›๐‘Ž๐‘™๐‘–๐‘ ๐‘ก๐‘–๐‘˜ ๐ผ๐‘›๐‘‘๐‘œ๐‘›๐‘’๐‘ ๐‘–๐‘Ž pada tautan https://bit.ly/3iL8Wbq. Walaupun tips tersebut ditujukan untuk penulisan opini, tapi kaidah jurnalistik secara umumnya sama saja dengan semua produk tulisan jurnalistik lainnya, termasuk FN.
Sedangkan kaidah jurnalistik secara khusus adalah yang terkait karangan khas. Di antaranya adalah unsur-unsur FN, ciri khas/perbedaan FN dengan tulisan lain; dan anatomi FN. InsyaAllah di kesempatan berikutnya dikupas satu per satu.
Berikut dua contoh FN. 
1. ๐ฝ๐‘Ž๐‘›๐‘—๐‘– ๐ผ๐‘ก๐‘ข ๐ท๐‘–๐‘˜โ„Ž๐‘–๐‘Ž๐‘›๐‘Ž๐‘ก๐‘– (silakan klik https://bit.ly/3tMuXMK)
2. ๐ด๐‘‘๐‘Ž ๐‘ƒ๐‘’๐‘›๐‘‘๐‘Ž๐‘›๐‘”๐‘˜๐‘Ž๐‘™๐‘Ž๐‘› ๐ด๐‘˜๐‘–๐‘‘๐‘Žโ„Ž ๐‘‘๐‘– ๐‘†๐‘€๐พ ๐ท๐‘’๐‘ ๐‘Ž ๐‘ƒ๐‘ข๐‘ก๐‘’๐‘Ÿ๐‘Ž (silakan klik https://bit.ly/3zSQ2t3)
Bagaimana perasaan Anda saat membaca masing-masing contoh FN tersebut? Bagaimana pula perasaan Anda setelah membaca masing-masing contoh FN tersebut? Bila berkenan, silakan menjawab dua pertanyaan tersebut di kolom komentar.[]
Depok, 20 Dzulqaโ€™dah 1443 H | 19 Juni 2022 M
Joko Prasetyo
Jurnalis

Loading

Views: 6

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA